Cinta Kepada Kebenaran Dan Kemanusiaan Di Tanah Papua: Refleksi Dari Kitab Kejadian

Cinta Kepada Kebenaran Dan Kemanusiaan Di Tanah Papua: Refleksi Dari Kitab Kejadian

September 16, 2026 | September 16, 2026 WIB Last Updated 2026-09-16T12:05:15Z

Wamena,detiksatu.com || Penulis asal Papua, Iali Karunggu, merilis tulisan reflektif berjudul “Darah yang Berseru kepada Allah: Refleksi Kejadian 4:7 dan 10 atas Kekerasan terhadap Warga Sipil dalam Konflik Papua”, Senin (15/9/2026) di Mataram.

Dalam tulisannya, Iali menekankan bahwa cinta kepada kebenaran harus ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan kelompok, suku, agama, maupun politik. Menurutnya, kebenaran tidak boleh dibela hanya ketika menguntungkan kelompok sendiri.

"Air mata rakyat Papua adalah air mata saya, dan air mata rakyat Indonesia juga adalah air mata saya. Kita berbeda bahasa, budaya, dan sejarah, tetapi tetap manusia yang punya hak untuk hidup aman dan bermartabat," tulis Iali.

Ia menegaskan tidak boleh ada pembenaran terhadap pembunuhan warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik, baik yang dilakukan oleh aparat TNI-Polri maupun oleh TPNPB. Setiap kematian harus dipandang sebagai tragedi kemanusiaan dan setiap dugaan pelanggaran harus diselidiki secara jujur dan berdasarkan bukti.

Iali mengingatkan bahwa di balik setiap warga sipil yang menjadi korban di Papua, terdapat keluarga yang menunggu. Seorang pekerja yang datang ke Papua untuk mencari nafkah bukanlah musuh, begitu pula seorang warga asli Papua yang menjadi korban tidak boleh diabaikan penderitaannya.

Refleksi Kejadian 4:7 dan 4:10

Iali menjadikan Kitab Kejadian 4:7 dan 10 sebagai dasar refleksi teologis. Ayat 10 yang berbunyi "Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah" dimaknai sebagai peringatan bahwa Allah tidak diam terhadap penumpahan darah manusia.

"Dosa sudah mengintai di depan pintu. Kebencian bisa berubah menjadi diskriminasi, dehumanisasi, dan akhirnya kekerasan. Konflik politik tidak boleh menghapus martabat manusia," tulisnya.

Ia mencontohkan Habel sebagai gambaran warga sipil yang tidak berdaya di tengah konflik. Iali juga mengutip data Human Rights Watch yang mencatat sedikitnya 125 warga sipil terbunuh dalam periode 2018-2021, baik orang asli Papua maupun pendatang.

Pertanyaan Allah kepada Kain, "Di manakah Habel, adikmu?" menurut Iali relevan untuk Papua hari ini. Gereja dan semua pihak yang memiliki kekuatan harus ditanya: Di manakah warga sipil yang kehilangan rumah, keluarga, dan kampung halamannya karena konflik?

"Gereja tidak boleh menjadi Kain modern yang berkata 'Apakah aku penjaga adikku?'. Gereja harus bertanya, di manakah saudara kami yang menderita," tegasnya.

Darah Papua dan Non-Papua Sama Berharga

Iali menegaskan darah orang Papua dan non-Papua sama berharganya di hadapan Allah karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:26-27). Karena itu, pembunuhan, penyiksaan, dan penghilangan paksa terhadap warga sipil harus ditolak dari pihak mana pun.

"Yang benar tetap benar sekalipun dilakukan pihak yang tidak kita sukai, dan yang salah tetap salah sekalipun dilakukan pihak yang kita dukung. Keadilan tidak boleh standar ganda," tulis Iali.

Di akhir tulisan, Iali menyebut perjuangan untuk keadilan Papua harus menjaga martabat kemanusiaan. Tujuan yang benar tidak boleh membenarkan cara yang salah. Ia juga menyinggung pengalamannya saat naskah kritik terhadap pemerintah ditolak penerbit.

"Perjuangan yang besar bisa kehilangan makna jika pelakunya melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang diperjuangkan. Kritik harus diarahkan pada kebijakan, bukan pada seluruh rakyat," pungkas Iali Karunggu.

Penulis: Iali Karunggu  

Reporter. Saranus kogeya
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cinta Kepada Kebenaran Dan Kemanusiaan Di Tanah Papua: Refleksi Dari Kitab Kejadian

Trending Now