LEBAK,DETIKSATU.COM || Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan kepada siswa MI Al Hadid, Kampung Cijahi, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, menjadi perhatian setelah beredar video yang memperlihatkan dugaan adanya belatung pada makanan dalam ompreng atau wadah MBG.
Peristiwa tersebut diketahui pada Senin (28/9/2026), setelah sebagian makanan telah dikonsumsi oleh siswa. Berdasarkan informasi yang beredar, pemeriksaan kemudian dilakukan oleh pihak sekolah terhadap makanan yang tersisa.
Dalam pemeriksaan tersebut, pihak sekolah mendapati benda yang diduga belatung masih berada di dalam wadah makanan.
Makanan tersebut disebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Hamim Center Founder yang melayani distribusi MBG di wilayah Kecamatan Curugbitung.
Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp mengenai dugaan temuan tersebut, Aang selaku pengawas/ahli gizi membenarkan bahwa makanan tersebut berasal dari SPPG yang mereka kelola.
"Terkait temuan tersebut betul dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kami, dan untuk video itu sudah clear bersama pihak sekolah, setelah pihak dapur mengunjungi lokasi sekolah tersebut," ujar Aang.
Aang juga menyampaikan bahwa pihak SPPG telah mendatangi MI Al Hadid setelah menerima informasi mengenai kejadian tersebut.
"Kami dari pihak SPPG sudah mendatangi pihak sekolah MI Al Hadid dan kami meminta maaf atas kejadian tersebut," katanya.
Pihak SPPG kemudian melakukan komunikasi dengan sekolah dan menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut. Pihak SPPG juga menyatakan akan melakukan perbaikan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Meski demikian, hingga berita ini ditulis, belum ada hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan secara ilmiah jenis organisme yang ditemukan pada makanan tersebut maupun penyebab keberadaannya.
Pentingnya Pengawasan Keamanan Pangan
Program MBG ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Karena makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak, aspek keamanan pangan menjadi bagian penting selain kandungan gizinya.
Pengawasan idealnya dilakukan sejak proses pengolahan bahan makanan, penyimpanan, pemasakan, pengemasan, pengangkutan hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh siswa.
Dalam kasus ini, pihak sekolah maupun penyedia MBG perlu memastikan bahwa kejadian tersebut ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan evaluasi prosedur keamanan pangan, termasuk kebersihan bahan baku, proses pengolahan, sanitasi peralatan, pengemasan, serta distribusi makanan.
Temuan tersebut juga penting untuk diklarifikasi secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kesimpulan sepihak mengenai penyebab adanya benda yang diduga belatung pada makanan.
Pihak terkait diharapkan melakukan pemeriksaan sesuai kewenangan, terutama apabila terdapat siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Redaksi akan terus mengupayakan konfirmasi kepada pihak sekolah, SPPG Yayasan Hamim Center Founder, serta instansi terkait mengenai tindak lanjut dan hasil pemeriksaan atas kejadian tersebut.(Jul)