Laut Jangkar Jadi Saksi, Ribuan Jamaah Gema Sholawat Burdah Bersama Mas Rio dan KH. Azaim

Laut Jangkar Jadi Saksi, Ribuan Jamaah Gema Sholawat Burdah Bersama Mas Rio dan KH. Azaim

September 02, 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T14:06:42Z

Situbondo,detiksatu.com || Pemandangan tak biasa tersaji di perairan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026). Ribuan jamaah memenuhi perahu dan kapal di tengah laut untuk bersama-sama melantunkan Sholawat Burdah.

Laut yang sehari-hari menjadi ruang aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir itu seketika berubah menjadi ruang spiritual. Ribuan suara bersatu dalam lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut tersebut berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Dari berbagai perahu yang berada di perairan Jangkar, suara sholawat menggema mengiringi jalannya acara.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang akrab disapa Mas Rio bersama Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah.

Turut hadir Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Situbondo, serta ribuan masyarakat.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak kegiatan dimulai. Jamaah dari berbagai kalangan mengikuti perjalanan menuju titik pelaksanaan pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut.

Hamparan perahu yang dipenuhi jamaah menjadi pemandangan tersendiri di perairan Jangkar. Kegiatan tersebut memperlihatkan perpaduan antara kehidupan masyarakat pesisir dan tradisi keagamaan yang kuat.

Lantunan Sholawat Burdah yang dibaca secara bersama-sama menciptakan suasana berbeda. Deburan ombak dan hembusan angin laut seolah menjadi pengiring ribuan suara jamaah.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy, mengatakan kegiatan tersebut bukan kali pertama dilaksanakan.

Menurut KH. Azaim, pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut Jangkar tahun ini merupakan pelaksanaan yang kedua.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak berhenti hanya sebagai kegiatan seremonial.

“Kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan dan menjadi sebuah tradisi,” ujar K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy.

Menurutnya, tradisi keagamaan seperti pembacaan Sholawat Burdah memiliki makna penting dalam menjaga hubungan spiritual masyarakat sekaligus mempererat persaudaraan.

Kegiatan di tengah laut juga memiliki pesan tentang rasa syukur. Laut yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak masyarakat pesisir menjadi tempat untuk bersama-sama memanjatkan doa.

KH. Azaim berharap generasi muda juga dapat mengenal dan melanjutkan tradisi tersebut pada masa mendatang.

Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut Jangkar.

Mas Rio menilai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Situbondo memiliki kekuatan besar dalam menjaga nilai religius dan kebersamaan.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan nilai spiritual dan sosial.

“Kita ingin Situbondo terus maju, tetapi kemajuan itu harus tetap dibarengi dengan nilai keagamaan, kebersamaan, dan budaya masyarakat yang baik. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu kekuatan kita,” kata Mas Rio.

Bupati berharap pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut Jangkar dapat terus berkembang menjadi agenda keagamaan yang menjadi ciri khas Kabupaten Situbondo.

Selain memiliki nilai spiritual, kegiatan tersebut dinilai mampu memperkenalkan potensi bahari dan kehidupan masyarakat pesisir kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagi ribuan jamaah yang hadir, kegiatan tersebut bukan hanya tentang berkumpul dan membaca sholawat. Ada doa, harapan, dan semangat kebersamaan yang disatukan di tengah laut.

Ketika ribuan suara melantunkan Sholawat Burdah, laut Jangkar menjadi saksi sebuah pesan sederhana namun kuat: tradisi, agama, dan kebersamaan dapat berjalan beriringan.

Pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut Jangkar pun diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi tumbuh menjadi tradisi religius khas Situbondo yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

(Agus)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Laut Jangkar Jadi Saksi, Ribuan Jamaah Gema Sholawat Burdah Bersama Mas Rio dan KH. Azaim

Trending Now