Viral di TikTok! 5 Anak Tak Bisa Sekolah Akibat Jalan Ditutup Sepihak Pasca Pilkades Jayalaksana, Warga Mengaku Rumah Seperti Tahanan

Viral di TikTok! 5 Anak Tak Bisa Sekolah Akibat Jalan Ditutup Sepihak Pasca Pilkades Jayalaksana, Warga Mengaku Rumah Seperti Tahanan

September 24, 2026 | September 24, 2026 WIB Last Updated 2026-09-23T18:05:20Z
Bekasi,detiksatu.com ll Penderitaan warga Kampung Teluk Ambulu, RT 02/RW 01, Desa Jayalaksana, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi kian memprihatinkan. Pasca Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), akses jalan utama menuju tiga rumah ditutup secara sepihak oleh pihak yang tidak terima kekalahan calon yang didukungnya. Kini, seorang ibu bernama Mudrikatun Maulidiyah mengaku rumahnya seperti penjara dan kelima anaknya terpaksa tidak bisa bersekolah.Kamis (24/9/2026).
 
Mudrikatun Maulidiyah, warga asli Karawang yang membeli rumah di lokasi tersebut pada tahun 2021, menceritakan kronologi panjang penderitaannya. Saat pertama kali membeli rumah, ia sempat bertanya kepada Wakil Sarjo dan perangkat RT setempat mengenai akses jalan. Ia mendapat janji bahwa jalan tersebut akan dicor oleh pihak lurah.
 
Namun, selama lima tahun tinggal di desa tersebut, janji itu tidak pernah terbukti. "Saya 5 tahun tinggal di sini, jalan sedikit pun tidak ada yang dicor," ungkapnya dengan nada sedih.
 
Melihat kondisi jalan yang memprihatinkan, Mudrikatun pernah mencoba berbicara baik-baik. Ia bahkan menawarkan jika lurah lama tidak bisa mencor, ia bersedia mengurus izin dan membiayai sendiri pengecoran jalan tersebut. Namun niat baiknya justru ditolak mentah-mentah. Pemilik tanah tidak mau dengan alasan bahwa RT merasa senang jika Mudrikatun mau menguasai jalan.
 
"Bagaimana mungkin saya mau menguasai jalan? Kan jalan itu buat kita bersama-sama," katanya memohon keadilan.
 
Konflik semakin memuncak pasca Pilkades. Pihak yang menutup jalan adalah pendukung cakades bernama Doyok yang kalah dalam pemilihan. Sementara Mudrikatun dan saudara-saudaranya memiliki pilihan yang berbeda. Namun, selain alasan politik, ternyata ada konflik pribadi yang memicu aksi penutupan jalan.
 
Mudrikatun menceritakan, sering kali terjadi pertengkaran antar anak kecil yang dianggap wajar. Namun orang tua justru ikut campur dan emosi. Bahkan, aksi penutupan jalan juga dipicu masalah sepele seperti pinjam meminjam uang. "Tetangga tidak boleh salah sedikit. Saya di sini banyak mengalah. Kalau anak kecil berantem wajar, tapi orang tua ikut-ikut, malah bilang 'jalan gua tutup'. Pinjam duit tidak dapat marah, jalan ditutup. Pinjam duit saya kasih, saya tagih malah marah, jalan ditutup lagi," ceritanya.
 
Penderitaan Mudrikatun semakin parah karena ia memiliki lima orang anak. Akibat jalan yang tertutup rapat oleh tumpukan kayu, anak-anaknya tidak bisa lagi berangkat ke sekolah. "Saya ada 5 anak, gara-gara jalan ditutup anak-anak pada tidak sekolah karena tidak bisa lewat," ujarnya pilu.
 
Selama ini, Mudrikatun sudah berulang kali mengadu kepada perangkat desa, mulai dari RT hingga Lurah Irwan. Namun tanggapan yang didapat justru mengecewakan. Pihak lurah beralasan tidak punya hak dan wewenang untuk turun tangan karena status tanah tersebut adalah tanah warga, bukan tanah umum.
 
Padahal, Mudrikatun hanya meminta satu hal: agar jalan tersebut dicor sehingga statusnya menjadi jalan umum. "Saya mengerti, saya paham maksud lurah. Setidaknya saya juga di sini warga, saya butuh jalan. Tolong jalan dicor. Kalau jalan dicor berarti sudah jadi jalan umum. Tapi Lurah Irwan sampai sekarang tidak juga cor jalan," keluhnya.
 
Tidak hanya mengadu ke perangkat desa, Mudrikatun juga sudah melaporkan kondisi ini kepada Babinsa. Namun hasilnya sama saja, bahkan memperburuk keadaan. Babinsa yang datang justru diancam oleh RT setempat. Akibat ancaman tersebut, RT malah semakin jahat dan memperlakukan Mudrikatun dengan tidak adil.
 
Yang lebih menyedihkan, RT bahkan berani mengancam Mudrikatun. "Sekarang RT masih menjabat. Kalau RT sudah tidak menjabat, saya pagar habis pakai besi," ancam RT seperti yang ditirukan oleh Mudrikatun.
 
Kini, Mudrikatun merasa hidup di dalam rumah seperti seorang tahanan. Jalan satu-satunya untuk keluar masuk rumahnya tertutup rapat. Bahkan ketika ia berniat mengadu lebih lanjut, RT justru menyuruh warga lain untuk tidak meladeninya dengan alasan mereka tidak punya hak karena tanah tersebut adalah tanah warga.
 
Melalui video yang viral di TikTok, Mudrikatun memohon pertolongan kepada siapa saja yang bisa membantu. "Kasihan saudara saya punya anak kecil, buat berangkat sekolah pun susah jalannya," pinta saudaranya dalam video terpisah.
 
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda penyelesaian dari pihak berwenang. Warga yang terdampak hanya bisa berharap dan memohon agar pihak terkait segera turun tangan, membuka akses jalan, dan mencor jalan tersebut agar menjadi jalan umum yang bisa digunakan oleh seluruh warga tanpa diskriminasi.(Roan)
 
 
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Viral di TikTok! 5 Anak Tak Bisa Sekolah Akibat Jalan Ditutup Sepihak Pasca Pilkades Jayalaksana, Warga Mengaku Rumah Seperti Tahanan

Trending Now