All Print Indonesia 2026 Soroti Transformasi Industri Percetakan di Era Digital dan AI

All Print Indonesia 2026 Soroti Transformasi Industri Percetakan di Era Digital dan AI

Oktober 08, 2026 | Oktober 08, 2026 WIB Last Updated 2026-10-08T07:14:29Z
Jakarta,detiksatu.com || Industri percetakan dan grafika Indonesia tengah memasuki fase transformasi yang semakin cepat. Perkembangan teknologi digital, otomasi produksi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga tuntutan terhadap efisiensi dan keberlanjutan mulai mengubah wajah industri printing nasional.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam penyelenggaraan All Print Indonesia Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Memasuki penyelenggaraan ke-27, pameran yang digelar Krista Exhibitions tersebut mempertemukan pelaku industri percetakan, grafika, kemasan, advertising, teknologi digital, hingga industri kreatif dari dalam maupun luar negeri.

CEO Krista Exhibitions, Daud D Salim, mengatakan All Print Indonesia 2026 diikuti sekitar 400 exhibitor dari 10 negara.
Menurutnya, pameran tersebut menjadi bagian dari rangkaian pameran industri printing yang diselenggarakan Krista Exhibitions sepanjang 2026.

“Rangkaian pameran sebelumnya sudah kami lakukan di Yogyakarta pada April, kemudian dilanjutkan Surabaya Printing Expo,” ujar Daud.

Rangkaian tersebut juga terintegrasi dengan berbagai pameran yang berkaitan dengan industri signage, LED advertising, hingga teknologi corrugated.
Teknologi Printing Semakin Beragam
Daud mengatakan, perkembangan industri printing saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada teknologi percetakan konvensional.

All Print Indonesia 2026 menghadirkan berbagai teknologi yang mencerminkan semakin luasnya penggunaan teknologi digital dalam industri percetakan.
Teknologi yang dipamerkan antara lain offset printing, carton printing, corrugated, digital printing, packaging, label, sticker, vinyl, tekstil, direct-to-garment, screen printing, produk promosi hingga 3D printing.

“Printing kini semakin terhubung dari desain, fotografi, tekstil, advertising, packaging, signage, industri kreatif, manufaktur, hingga teknologi tiga dimensi,” kata Daud.
Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri percetakan telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem industri yang lebih luas.
Percetakan kini tidak hanya berkaitan dengan produksi buku, brosur atau materi promosi, tetapi juga masuk ke sektor packaging, fashion, advertising, manufaktur, produk kreatif dan berbagai kebutuhan industri lainnya.

Pameran yang menempati area sekitar 23.000 meter persegi tersebut juga memperlihatkan beragam pilihan investasi teknologi.
Mulai dari mesin dan peralatan yang dapat digunakan pelaku usaha kecil dan menengah dengan nilai investasi puluhan juta rupiah, hingga mesin industri berskala besar dengan nilai investasi miliaran rupiah.

Bahkan, Daud menyebut terdapat teknologi dengan nilai investasi mencapai puluhan miliar rupiah yang diperuntukkan bagi industri dengan kebutuhan dan kapasitas produksi besar.
Teknologi Bertemu Kreativitas
Pemerintah juga melihat perkembangan teknologi percetakan sebagai bagian penting dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, mengatakan pertemuan antara teknologi dan kreativitas dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
“Teknologi dengan kreativitas bertemu akan menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi lagi,” ujar Cecep.
Menurut Cecep, konsistensi penyelenggaraan All Print Indonesia selama 27 tahun menunjukkan pentingnya ajang tersebut dalam mendukung perkembangan ekosistem industri percetakan dan penerbitan di Indonesia.

Ia menilai pameran tidak hanya berfungsi sebagai etalase teknologi terbaru, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, pengguna teknologi dan pemangku kepentingan industri.
Pertemuan tersebut dinilai penting karena perkembangan teknologi yang begitu cepat membutuhkan kolaborasi antara produsen teknologi, pelaku industri, sektor kreatif dan pengguna akhir.
Teknologi baru yang diperkenalkan dalam pameran juga membuka peluang bagi pelaku industri kreatif untuk meningkatkan kapasitas produksi, mempercepat proses kerja dan menciptakan produk maupun layanan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Dari Digital Printing hingga 3D Printing
Kehadiran digital printing hingga 3D printing menjadi salah satu gambaran bagaimana batas antara industri percetakan, desain, manufaktur dan industri kreatif semakin tipis.

Teknologi tersebut memungkinkan proses produksi dilakukan secara lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang semakin beragam.
Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, kemampuan mengadopsi teknologi menjadi salah satu faktor penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga daya saing.
All Print Indonesia 2026 pun tidak hanya menjadi ajang transaksi mesin dan teknologi, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat arah perkembangan industri printing Indonesia ke depan.

Dengan semakin kuatnya digitalisasi, otomasi, AI dan teknologi tiga dimensi, industri percetakan diperkirakan akan terus bergerak menuju model produksi yang lebih terintegrasi dengan industri kreatif, manufaktur, advertising, packaging dan berbagai sektor ekonomi lainnya.
(Nina)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • All Print Indonesia 2026 Soroti Transformasi Industri Percetakan di Era Digital dan AI

Trending Now