Gus Fawait Naik Motor Tembus Pelosok Jelbuk, Temukan Dua Nenek yang Saling Jadi Mata dan Telinga

Gus Fawait Naik Motor Tembus Pelosok Jelbuk, Temukan Dua Nenek yang Saling Jadi Mata dan Telinga

Oktober 05, 2026 | Oktober 05, 2026 WIB Last Updated 2026-10-05T06:12:29Z
Jember ,detiksatu.com || Jalan sempit dan medan sulit tak menghalangi Bupati Jember Gus Fawait turun langsung menemui warga di pelosok Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Senin (5/10/2026).

Tak seperti kunjungan Homecare sebelumnya, Gus Fawait kali ini memilih mengendarai sepeda motor. Kendaraan roda dua dinilai lebih memungkinkan untuk menjangkau rumah-rumah warga yang berada di kawasan dengan akses jalan yang sulit dilalui kendaraan roda empat.

Namun, perjalanan itu membawa Gus Fawait pada sebuah kisah yang jauh lebih dalam dari sekadar pelayanan kesehatan.

Di atas sebuah gumuk, berdiri sebuah rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Di sanalah Misti dan Buya, dua nenek bersaudara, menjalani hari-hari mereka dalam keterbatasan.

Misti adalah tunanetra. Sementara Buya merupakan penyandang tunarungu.

Keterbatasan yang berbeda justru membuat keduanya saling melengkapi.

Buya menjadi mata bagi Misti. Sebaliknya, Misti menjadi kawan yang mengisi kesunyian dunia Buya. 

Mereka menjalani rutinitas bersama, mulai memasak hingga mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga.

Pemandangan sederhana itu membuat Gus Fawait menaruh perhatian lebih.

Melihat kondisi rumah yang ditopang bambu dan berdinding anyaman, Gus Fawait sempat menawarkan bantuan rehabilitasi hunian melalui program Pemerintah Kabupaten Jember.

Namun, Misti justru menolak dengan halus.

Bukan karena tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena ia merasa sudah nyaman dengan rumah yang selama ini menjadi tempatnya menjalani kehidupan. 

Cahaya matahari yang masuk melalui celah anyaman bambu bahkan menjadi bagian dari kesehariannya.

Gus Fawait memilih tidak memaksakan kehendaknya.

Alih-alih membangun ulang rumah, ia mengalihkan perhatian pada bagian yang dinilai lebih mendesak: lantai rumah.

“Kalau begitu, saya berencana membenahi lantainya supaya tidak lagi dingin di telapak kaki Nenek Misti dan Nenek Buya saat beraktivitas sehari-hari,” ujar Gus Fawait.

Dari rumah Misti dan Buya, perjalanan Homecare berlanjut menemui Bebun, lansia berusia 86 tahun yang hidup seorang diri.

Usia boleh menua, tetapi semangat Bebun belum sepenuhnya menyerah. Ia masih mampu berjalan meski harus bertumpu pada tongkat kayu.

Rumahnya pun sederhana. Di tengah keterbatasan, Bebun tetap berusaha menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri. Bahkan, sesekali ia masih mencari kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kisah-kisah seperti inilah yang ingin ditemukan melalui program Homecare.

Gus Fawait menegaskan, pemerintah tidak ingin pelayanan kesehatan hanya menunggu masyarakat datang ke Puskesmas. 

Sebaliknya, tenaga kesehatan harus mendatangi warga yang justru kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan.

“Melalui Homecare, pemerintah hadir langsung ke rumah-rumah warga. Kita ingin memastikan masyarakat yang memiliki keterbatasan tetap mendapatkan pelayanan kesehatan,” tegas Gus Fawait.

Menurutnya, kondisi warga yang ditemui di lapangan juga menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk memberikan bantuan yang lebih tepat sasaran.

Termasuk bagi lansia yang tinggal di rumah tidak layak huni. 

Perbaikan tidak harus selalu berupa pembangunan total, tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan warga.

“Renovasi akan difokuskan pada perbaikan lantai serta fasilitas rumah agar kehidupan lansia tersebut menjadi lebih layak dan nyaman,” ujarnya.

Bagi Gus Fawait, perjalanan Homecare di pelosok Jelbuk itu menjadi pengingat bahwa di balik data dan program pemerintah, masih ada warga yang membutuhkan kehadiran negara secara langsung.

Sebab, bagi warga seperti Misti, Buya dan Bebun, pelayanan pemerintah bukan sekadar datang membawa obat, tetapi datang untuk memastikan mereka tidak merasa sendirian.

(Wiwik)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gus Fawait Naik Motor Tembus Pelosok Jelbuk, Temukan Dua Nenek yang Saling Jadi Mata dan Telinga

Trending Now