Gunungsitoli,detiksatu.com || Kejujuran dan integritas kembali menjadi sorotan utama dalam kehidupan bermasyarakat, dunia kerja, hingga penyelenggaraan pemerintahan. Setiap tindakan yang diambil oleh seorang pemimpin pada akhirnya akan membawa konsekuensi logis, baik berupa tumbuhnya kepercayaan publik maupun hilangnya kehormatan.
Perubahan posisi atau jabatan dalam dinamika kepemimpinan dinilai harus menjadi momentum krusial untuk melakukan introspeksi diri. Keberanian untuk mengevaluasi keputusan masa lalu jauh lebih mulia daripada sekadar menyalahkan keadaan atau orang lain.
Dalam perjalanannya, kekuasaan rentan terhadap perilaku yang perlu dikoreksi—mulai dari manipulasi data, kecurangan kompetisi, praktik suap, hingga penyalahgunaan wewenang demi kepentingan pribadi atau kelompok. Ketidak jujuran dalam mengelola amanah publik tidak hanya merugikan negara secara materi, tetapi juga mencederai legitimasi moral di mata masyarakat.
Menanggapi fenomena ini, tokoh motivator dan akademisi Dr. (H.C.) Yusman Dawolo, M.Kom.I. memberikan penegasan mengenai dampak jangka panjang dari setiap pilihan moral yang diambil seorang pemimpin.
"Buah dari kebohongan itu akan dipanen dengan kehinaan. Sebab siapa pun yang menanam keburukan maka akan menuai keburukan pula. Sebaliknya, siapa pun yang menanam kebaikan, maka akan memanen kebaikan dalam hidupnya, sekarang dan di masa yang akan datang. Mari kita senantiasa bersikap jujur. Supaya ke depan hidup tenang dan tetap bahagia," ujar Yusman Dawolo.
Kebohongan mungkin dapat menutupi kenyataan untuk sementara waktu, namun rekam jejak dan integritas akan selalu menjadi penilaian akhir masyarakat. Siaran pers ini mengingatkan kembali bahwa jabatan dan kekayaan bukanlah sesuatu yang abadi. Hidup dalam kesederhanaan yang penuh kejujuran jauh lebih bernilai dan mendatangkan ketenangan hati daripada menikmati kemewahan yang dibangun di atas kebohongan.
Karena pada akhirnya, jujur itu mulia.(Redy Gea).