Sintang,detiksatu.com || Suasana memanas di RSUD Ade M Djoen Sintang! Dari luar hingga dalam rumah sakit, duka dan amarah tumpah ruah menyelimuti keluarga pasien yang meninggal dunia.
Tragedi memilukan ini dibongkar langsung oleh Anggota DPRD Kabupaten Sintang Komisi C, Ardi, di halaman rumah sakit.
Dengan tegas, Ardi membeberkan kronologi yang bikin sesak dada. Pasien datang dalam kondisi kritis ke UGD, didorong menggunakan kursi roda oleh perawat. Namun, pelayanan diduga tersendat hanya karena persoalan selembar KTP asli!
Padahal keluarga sudah membawa fotokopi, namun pihak rumah sakit disebut tetap meminta KTP asli. Sang istri pun terpaksa pulang ke rumah untuk mengambilnya.
Dan di sinilah tragedi paling memilukan itu terjadi.
Di saat sang istri pergi mengambil KTP, di saat itulah sang suami mengembuskan napas terakhirnya sendirian di ruang UGD! Tanpa didampingi, tanpa sempat berpamitan dengan istri tercinta.
Ardi menyebut, sang istri syok berat hingga pingsan sebanyak 4 kali.
«"Budaya kita, melepas kepergian suami itu hal yang sakral. Istrinya tidak terima karena tidak sempat mendampingi," tegas Ardi.»
Kerumunan Membludak di Pintu Masuk UGD
Pantauan di lapangan, puluhan keluarga dan warga mengepung pintu masuk UGD. Suasana tegang tak terhindarkan, saling tunjuk dan adu argumen terjadi, banyak warga yang merekam kejadian tersebut.
Di tengah kerumunan yang memanas, Ardi yang mengenakan kaos polo putih terlihat berusaha menjadi penengah, menenangkan massa yang hampir melakukan aksi.
Mediasi pun akhirnya digelar antara pihak keluarga dengan manajemen RSUD Ade M Djoen.
Dalam mediasi tersebut, pihak RSUD mengklaim telah memantau rekaman CCTV sekitar jam 8 malam dan menyatakan semua tindakan medis telah sesuai dengan SOP. Pihak rumah sakit menyebut pasien meninggal dunia akibat serangan jantung.
Tangis Pecah di Ruang Tunggu
Pemandangan paling mengharukan terlihat di kursi tunggu besi rumah sakit yang dingin. Seorang bapak berbaju hijau tumpah ruah tangisnya, meraung histeris tak kuasa menahan duka.
Ia memeluk erat rekannya, sementara seorang pria bertopi berusaha menenangkan dengan memeluk dan mengusap kepalanya. Di sampingnya, keluarga lain hanya bisa tertunduk lesu, terdiam menatap kosong.
Tidak ada lagi teriakan, yang tersisa hanya isak tangis pilu yang menggema di lorong rumah sakit. Potret nyata betapa mahalnya harga sebuah kehilangan.
Kini, Ardi memberikan ultimatum tegas: RSUD Ade M Djoen memiliki waktu 1 minggu untuk melakukan investigasi menyeluruh dan memberikan hasil resminya kepada keluarga dan DPRD.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia kesehatan di Sintang. Jangan sampai SOP administrasi mengalahkan SOP kemanusiaan! Jangan sampai ada lagi tangisan duka seperti ini terulang di RSUD kebanggaan masyarakat Sintang.
Kita kawal terus hasilnya!