Empat Hari Menunggu Tanpa Kepastian” — Sopir Truk Akhirnya Bertindak di Bosso

Lamellong
Januari 28, 2026 | Januari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T01:46:01Z
Luwu utara-detiksatu.com - Bosso, Walenrang, Kabupaten Luwu — Selasa, 27 Januari 2026.
Kesabaran para sopir truk yang terjebak di Jalan Trans Sulawesi akhirnya benar-benar habis. Setelah empat hari empat malam menunggu tanpa kepastian, Persatuan Sopir Truk meluapkan kegeraman mereka di wilayah Bosso, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu.

Ratusan kendaraan besar tampak berjejer panjang memenuhi badan jalan. Truk pengangkut logistik, sembako, hingga material industri terparkir tanpa pergerakan. Mesin dimatikan, muatan tertahan, sementara para sopir bertahan hidup di dalam kabin sempit dengan kondisi serba terbatas.

Bagi para sopir, kondisi ini bukan sekadar kemacetan biasa, melainkan penantian panjang yang menguras tenaga, emosi, dan penghasilan. Banyak sopir mengaku kehabisan bekal makanan, tertunda mengantar barang, bahkan terancam merugi akibat keterlambatan distribusi yang tak kunjung jelas.

Kemarahan para sopir memuncak saat mereka menilai adanya perlakuan tidak adil di lapangan. Menurut pengakuan salah satu sopir yang ikut melakukan protes, kendaraan kecil seperti mobil pribadi dan sepeda motor masih sering diberi izin melintas, sementara kendaraan besar justru ditahan berhari-hari.

“Kami sudah empat hari tertahan di sini. Mobil kecil terus dikasih lewat, sementara kami yang bawa barang dibiarkan menunggu tanpa kepastian. Ini tidak adil,” ujar salah seorang sopir dengan nada kesal.

Kebijakan tersebut dinilai memicu kecemburuan dan kemarahan kolektif di kalangan sopir truk. Mereka merasa diperlakukan tidak setara, padahal kendaraan besar memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat antarwilayah.

Merasa aspirasi mereka tidak didengar dan tidak ada kejelasan dari pihak berwenang, Persatuan Sopir Truk akhirnya mengambil langkah tegas dan kolektif. Para sopir menutup seluruh akses jalan, tidak hanya di jalur utama Trans Sulawesi, tetapi juga menutup jalan-jalan alternatif yang selama ini digunakan warga sekitar.

Jalan-jalan kecil yang biasa disebut “jalan tikus” ikut diblokade. Tidak ada lagi kendaraan yang diberi kelonggaran untuk melintas. Semua dihentikan tanpa pengecualian.

“Kalau kami tidak bisa jalan, maka jangan ada yang jalan. Biar semua merasakan dan tidak ada yang diperlakukan berbeda,” tegas salah satu koordinator sopir di lokasi.

Akibat penutupan total tersebut, arus lalu lintas di wilayah Bosso dan sekitarnya lumpuh total. Aktivitas masyarakat terganggu, distribusi barang terhenti, dan kawasan tersebut berubah menjadi titik stagnasi transportasi di jalur Trans Sulawesi.

Di tengah ketegangan, solidaritas warga sekitar mulai terlihat. Sejumlah masyarakat setempat memberikan air minum dan makanan seadanya kepada para sopir yang terjebak, menyadari bahwa para pengemudi truk bukanlah penyebab utama, melainkan korban dari situasi yang tak kunjung mendapat solusi.

Para sopir menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk anarkisme, melainkan bentuk protes dan tuntutan keadilan. Mereka mendesak pemerintah daerah, aparat keamanan, serta pihak terkait agar segera hadir dengan langkah nyata dan keputusan jelas, bukan sekadar imbauan atau janji.

Hingga Selasa , 27 Januari 2026, antrean kendaraan besar masih mengular panjang di Jalan Trans Sulawesi Bosso. Para sopir truk tetap bertahan di lokasi dengan satu tuntutan utama: kejelasan, keadilan, dan perlakuan setara tanpa tebang pilih bagi seluruh pengguna jalan.

Situasi di lapangan masih dinamis dan berpotensi kembali memanas apabila tidak segera ditangani secara serius oleh pihak berwenang.

Reporter:Rd
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Empat Hari Menunggu Tanpa Kepastian” — Sopir Truk Akhirnya Bertindak di Bosso

Trending Now