Lebak, detiksatu com – Seorang ibu hamil asal Kampung Cibarani, Desa Cibarani, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, terpaksa harus melahirkan di kendaraan yang ditumpanginya tak sempat sampai tujuan akibat jalan desa yang rusak parah dan tidak bisa dilalui kendaraan menuju fasilitas kesehatan. Persalinan darurat. Ia melahirkan tanpa bantuan tenaga medis dan hanya dibantu warga sekitar lokasi setempat.
Peristiwa tersebut terjadi saat keluarga berupaya membawa ibu hamil ke layanan kesehatan. Namun perjalanan terhenti karena kondisi jalan berlumpur, licin, dan nyaris tidak layak dilalui. Dalam kondisi darurat, persalinan akhirnya berlangsung di bak mobil pickup.
Kejadian ini menggambarkan buruknya akses infrastruktur jalan di wilayah pedesaan di Lebak , Banten. Menurut sumber, Jalan rusak dibiarkan bertahun-tahun menyulitkan akses transportasi warga dan pengguna jalan sehingga berujung merugikan dan terhadap keselamatan warga.
Menanggapi peristiwa tersebut, Wakil Ketua Umum Feradi WPI, Fam Fuk Tjhong, melontarkan kritik keras terhadap pemerintah daerah dan pemerintah provinsi.
“Jangan sebut ini musibah. Ini adalah akibat kelalaian administratif yang dibiarkan secara struktural. Ketika seorang ibu harus melahirkan di jalan rusak, itu menunjukkan kegagalan negara menjalankan kewajiban konstitusionalnya dalam melindungi warga,” tegas Fam Fuk Tjhong, Selasa (20/1/2026).
Ia menilai kejadian di Kecamatan Cirinten sebagai gambaran nyata ketimpangan yang sangat kontras akses jalan luput dari perhatian pemerintah.
“Pemerintah rajin berbicara soal pembangunan dan kesejahteraan, tetapi kondisi di Cirinten menunjukkan hal sebaliknya. Pembangunan yang tidak merata adalah bentuk kekerasan kebijakan, dan yang selalu menjadi korban adalah masyarakat desa dan wilayah pinggiran,” ujarnya.
Fam Fuk Tjhong menegaskan bahwa respons pemerintah tidak boleh berhenti pada simpati atau reaksi setelah viral.
“Jangan menunggu sorotan publik baru bergerak. Kami mendesak evaluasi total kebijakan infrastruktur di Lebak, audit anggaran secara terbuka, dan penetapan pembangunan jalan desa sebagai prioritas darurat. Jika tidak, maka penderitaan rakyat sama saja dilegalkan,” katanya.
Ia menambahkan, kasus Kampung Cibarani harus menjadi peringatan serius bagi negara.
“Selama negara absen di jalan-jalan rusak pedesaan, tragedi seperti ini akan terus berulang. Hari ini seorang ibu melahirkan di pikap, besok bisa jadi nyawa lain yang hilang,” pungkasnya.(Jul)

