Jakarta, detiksatu.com || Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri undangan kehormatan Perdana Menteri India, Narendra Modi, dalam parade hari Republik India di New Delhi. Kehadiran Presiden Prabowo pada peringatan hari nasional India tersebut menjadi simbol kuat penguatan hubungan strategis Indonesia–India di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Tahun lalu, Presiden Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan dalam Parade Hari Republik India yang digelar di Kartavya Path, jalan protokol paling ikonik di ibu kota India. Momentum bersejarah itu semakin bermakna ketika 352 personel marching band Indonesia tampil dan berbaris dalam parade kenegaraan tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kontingen Indonesia secara resmi ambil bagian dalam perayaan hari nasional di luar negeri. Peristiwa ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda penting 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–India. Momentum tersebut sekaligus mengingatkan kembali sejarah awal kemerdekaan India, ketika Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan pada Hari Republik India pertama, lebih dari tujuh dekade silam.
Hubungan emosional dan historis ini menjadi fondasi kuat bagi kerja sama bilateral yang terus berkembang hingga saat ini.
Dalam konteks sejarah diplomatik, Indonesia dan India telah lama menjalin hubungan berbasis kepercayaan dan solidaritas negara berkembang.
Sejumlah dokumen diplomatik bilateral, termasuk kesepakatan ekonomi dan keuangan pada era awal kemerdekaan, menjadi bukti kuat kedekatan kedua negara. Peran institusi keuangan nasional Indonesia, termasuk Bank Rakyat Indonesia, dalam mendukung pembiayaan dan penjaminan kerja sama ekonomi lintas negara juga tercatat dalam sejarah hubungan bilateral tersebut. Penguatan hubungan kedua negara berlanjut secara signifikan pada Januari 2025, ketika Indonesia resmi bergabung dengan BRICS.
India, yang dijadwalkan memegang keketuaan BRICS pada 2026, menyambut baik keanggotaan Indonesia dan menantikan kehadiran Presiden Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS dengan tema Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan.
Setahun setelah kunjungan bersejarah Presiden Prabowo ke India, kini menjadi momentum penting untuk menilai kembali kemitraan strategis India–Indonesia serta peta jalan kerja sama yang telah disepakati oleh para pemimpin kedua negara.
Sebagai negara dengan populasi terbesar dan keempat terbesar di dunia, setiap kebijakan strategis yang diambil India dan Indonesia memiliki dampak luas, khususnya bagi negara-negara Global Selatan.
Ditengah lanskap geopolitik yang semakin kompetitif dan tatanan dunia yang terus berubah, kemitraan India–Indonesia memiliki arti strategis yang semakin mendalam. Sebagai negara non-blok yang menjunjung tinggi prinsip multipolaritas, hubungan kedua negara tidak hanya berorientasi pada kepentingan bilateral, tetapi juga berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang global.
Kemitraan ini membantu mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal sekaligus menjaga kedaulatan dan otonomi strategis masing-masing negara.
Meski dunia dibayangi berbagai tantangan ekonomi global mulai dari penggunaan tarif sebagai instrumen politik hingga ketidakpastian investasi India dan Indonesia memilih jalur reformasi domestik dan keteguhan kebijakan. Kedua negara mendorong peningkatan kontribusi sektor manufaktur dalam produk domestik bruto (PDB) masing-masing sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Di Indonesia, pembentukan Danantara sebagai lembaga investasi kekayaan negara mencerminkan langkah reformasi yang berani dan visioner, dengan potensi besar dalam mendukung pembiayaan pembangunan strategis. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) juga telah menunjukkan dampak lintas generasi, sementara Koperasi Merah Putih diproyeksikan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi pedesaan setelah beroperasi secara penuh.
Sejak Presiden Prabowo menjabat lebih dari satu tahun, Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam ketahanan pangan. Impor beras tahunan yang sebelumnya menjadi kebutuhan rutin kini tidak lagi menjadi keharusan. Namun demikian, capaian ini tetap tidak terlepas dari fondasi kebijakan dan diplomasi pangan yang telah dirintis oleh para pemimpin sebelumnya, termasuk peran historis Presiden Sukarno dalam perjanjian bilateral serta kontribusi Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) melalui penguatan infrastruktur, reformasi birokrasi, dan diplomasi ekonomi yang membuka jalan bagi stabilitas nasional.
Dalam aspek perdagangan, Indonesia juga aktif menandatangani sejumlah perjanjian perdagangan bebas sebagai sinyal penghapusan hambatan perdagangan buatan dan penguatan daya saing nasional. India menyambut baik peluang bermitra dalam berbagai inisiatif Asta Cita pemerintah Indonesia, khususnya di bidang ketahanan pangan dan digitalisasi.
Seiring transformasi Indonesia, laju pertumbuhan ekonomi India juga menunjukkan akselerasi yang impresif. Jika India membutuhkan enam dekade pascakemerdekaan untuk mencapai PDB US$1 triliun, pertumbuhan berikutnya berlangsung jauh lebih cepat: US$2 triliun pada 2014, US$3 triliun pada 2021, US$4 triliun pada 2025, dan diproyeksikan mencapai US$5 triliun dalam dua tahun mendatang.
India kini telah melampaui Jepang sebagai ekonomi terbesar keempat dunia dan diperkirakan menyalip Jerman pada 2028 untuk menempati posisi ketiga.
Transformasi ekonomi India ditopang oleh reformasi struktural, belanja infrastruktur besar-besaran, ekspansi digital, serta pertumbuhan pesat sektor startup dan riset.
Pengesahan Undang-Undang SHANTI membuka peluang baru pengembangan energi nuklir melalui reaktor modular kecil dengan partisipasi sektor swasta.
Komitmen reformasi India juga tercermin dari rasionalisasi perpajakan, penyederhanaan 29 undang-undang menjadi empat kode tenaga kerja, serta kebijakan perdagangan yang lebih progresif. Penandatanganan FTA dengan Inggris dan Selandia Baru, serta upaya penghapusan hambatan proteksionis, menciptakan iklim yang kondusif bagi ekspor Indonesia.
India juga tengah mendekati kesepakatan FTA dengan Uni Eropa, menyusul langkah Indonesia yang telah menandatangani perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif dengan kawasan Eropa.
Tantangan berikutnya bagi kedua negara adalah menyelesaikan revisi Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN–India (AITIGA) dan membuka pembahasan perjanjian perdagangan bilateral. Di tengah narasi tarif global, kerap terlupakan bahwa India merupakan tujuan ekspor terbesar ketiga atau keempat Indonesia, sementara Indonesia tetap menjadi mitra dagang kedelapan terbesar India.
Pasca-kunjungan Presiden Prabowo, dialog strategis kedua negara berkembang dalam delapan pilar utama, meliputi digital, kesehatan, integrasi keuangan, energi, ketahanan pangan, pertahanan, pendidikan, dan budaya.
Di sektor digital dan kecerdasan buatan, Indonesia diharapkan berperan aktif dalam AI Impact Summit sebagai co-chair Kelompok Kerja Pertumbuhan Ekonomi dan Kebaikan Sosial, guna membangun diskursus global AI yang berorientasi pada manusia, planet, dan kemajuan berkelanjutan.
Pada 2026, kedua negara menargetkan integrasi UPI–QRIS, kolaborasi pasar modal, serta penyelesaian transaksi mata uang lokal antarbank sentral. Di sektor kesehatan, kemitraan Apollo Hospitals India dan Mayapada Group menghadirkan layanan berstandar internasional di Indonesia sekaligus menghemat devisa. Sejumlah perusahaan farmasi India juga dijadwalkan memulai produksi lokal pada 2026, disertai komitmen pembangunan fasilitas transplantasi hati berkelas dunia.
Kerja sama ini bahkan menjangkau tingkat akar rumput. Pengusaha India turut mendukung program makanan bergizi dan pengembangan Koperasi Merah Putih dengan berbagi pengalaman branding dari gerakan koperasi susu Amul.
Kolaborasi lainnya mencakup kerja sama IIM Bangalore dengan KEK Singhasari, hingga restorasi Candi Prambanan oleh Survei Arkeologi India sebagai simbol persahabatan budaya.
Saat India dan Indonesia melangkah menuju visi India Maju 2047 dan Indonesia Emas 2045, kedua negara melakukannya sebagai mitra strategis komprehensif. Dengan memperkuat hubungan bilateral serta memimpin Global Selatan melalui kinerja ekonomi, inovasi, dan inklusi sosial, India dan Indonesia siap menyusuri badai geopolitik global dengan tekad yang semakin kokoh dan arah yang semakin jelas.
Red-Ervinna

