FRONTAL Temui Uskup Larantuka, Bahas Penolakan Geothermal Atadei

Maret 17, 2026 | Maret 17, 2026 WIB Last Updated 2026-03-17T04:04:40Z

Keterangan Foto: Front Masyarakat Lembata untuk Keadilan dan FKPA usai beraudiensi bersama Uskup Larantuka  Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Pr, Senin, 16 Maret 2026 (dok. Frontal)

Lewoleba, detiksatu.com || Front Masyarakat Lembata untuk Keadilan (FRONTAL) menemui Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Frans Monteiro, Pr di Aula Paroki Maria Banneux pada Senin, 16 Maret 2026. 

Pertemuan tersebut membahas aspirasi penolakan umat Stasi Watuwawer (Desa Atakore) terhadap rencana pembangunan geothermal di wilayah Atadei, khususnya di Stasi Watuwawer.

Dalam audiensi tersebut, FRONTAL hadir bersama Forum Komunikasi Pemuda Atakore (FKPA), tokoh adat, serta perwakilan perempuan dari Desa Atakore. 

Mereka menyampaikan sejumlah persoalan yang dinilai muncul akibat rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Atadei.

Juru Bicara FRONTAL, Philipus Payong, mengungkapkan bahwa pihaknya menyampaikan berbagai dugaan manipulasi terhadap umat Stasi Watuwawer guna memperoleh legitimasi atas proyek geothermal tersebut. 

Dugaan ini juga disampaikan langsung oleh tokoh adat yang merupakan umat Katolik kepada Uskup Larantuka.

“Salah satu tokoh adat menyampaikan bahwa dirinya menolak geothermal. Namun, saat diwawancarai terkait kamtibmas, pernyataannya diberitakan seolah-olah mendukung geothermal, padahal ia tidak pernah menyatakan hal tersebut,” ungkapnya dalam keterangan tertulis kepada detiksatu, Selasa, 17 Maret 2026, pukul 11.30 WITA.

Selain itu, FRONTAL juga menyampaikan adanya pencatutan nama tokoh adat dan tokoh perempuan dalam isu dukungan terhadap proyek tersebut.

Menurut FRONTAL, para tokoh yang namanya dicatut (dalam Keputusan Bupati Lembata Nomor 163 Tahun 2026 tentang Kelompok Kerja (Pokja) Pendamping Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Atadei 2×5 Megawatt) telah menyampaikan klarifikasi secara langsung kepada Uskup Larantuka.

Dalam pertemuan itu, turut dibahas pula kerentanan wilayah Atadei sebagai lokasi pembangunan PLTP. FRONTAL menilai, aspek penting seperti geologi, geofisika, geokimia, serta potensi kebencanaan belum dijelaskan secara komprehensif kepada masyarakat, khususnya umat di Stasi Watuwawer, Desa Atakore.

"Hal ini merupakan bagian penting yang harus diketahui warga sebelum dieksploitasi, mengingat eksploitasi akan segera dilakukan. Jadi, hal-hal ini yang membuat kami akhirnya menemui Uskup Frans Monteiro untuk menyampaikan dugaan manipulasi kepada umat di Stasi Watuwawer,” lanjut Philipus.

Menanggapi hal itu, Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Frans Monteiro, menegaskan bahwa sikap Gereja Katolik terhadap proyek geothermal di Atadei tidak berubah. Ia menyatakan bahwa penolakan tersebut merupakan sikap institusional gereja.

“Penolakan ini adalah sikap gereja secara institusi. Siapapun uskupnya, sikap tersebut tetap sama,” ujar Uskup sebagaimana disampaikan kembali oleh FRONTAL.

Bahkan, FRONTAL juga mendapatkan penjelasan bahwa gereja tidak selesai dalam urusan surat gembala. Gereja sudah melakukan beberapa hal dan ke depannya gereja tetap akan tetap berjuang. 

Dalam pesannya, Uskup mengingatkan bahwa umat Katolik yang telah dibaptis memiliki tugas profetis, yakni memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas dengan tetap mengedepankan nilai kasih.

Ia juga mengimbau agar perjuangan tersebut dilakukan secara hati-hati guna menghindari konflik horizontal di tengah umat.

Bagi FRONTAL, pesan tersebut menjadi penting untuk diteruskan kepada umat Katolik lainnya. FRONTAL menilai bahwa gereja telah menunjukkan komitmen perjuangan, sehingga umat diharapkan tetap bersuara dengan menjunjung tinggi hukum kasih sebagaimana diajarkan Kristus.

Reporter: Emanuel Boli
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • FRONTAL Temui Uskup Larantuka, Bahas Penolakan Geothermal Atadei

Trending Now