بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
“Bahkan barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah: 112)
Ayat ini menegaskan bahwa tawakal yang disertai keikhlasan dan amal saleh melahirkan keteguhan jiwa:
tidak dikuasai rasa takut,
tidak larut dalam kesedihan.
Tawakal bukan sikap pasrah tanpa usaha 🚶♂️, tetapi keberanian menempuh jalan kebenaran sambil menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah
Jika ayat ini ditadabburi dalam konteks perjalanan hidup dan dinamika sosial-politik kita menemukan ibrah bahwa ujian sering kali justru datang kepada mereka yang berusaha konsisten menyuarakan keyakinan dan prinsip kebenaran
Perjalanan politik dan hukum Eggi Sudjana dapat dibaca sebagai rangkaian ujian tersebut. Sejak Pilpres 2019 , saat ia menjadi pendukung Capres Prabowo Subianto, ia pernah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan “makar”.
Kemudian, dalam polemik dugaan ijazah palsu Jokowi, ia kembali berhadapan dengan proses hukum meskipun secara normatif ia berposisi sebagai advokat dari Bambang Tri
Dalam perspektif hukum advokat menjalankan fungsi pembelaan yang dilindungi undang-undang, ditambah adanya keterangan ahli antara lain dari Dr. Mudzakir yang menyatakan bahwa Eggi tidak semestinya serta-merta dijadikan tersangka tanpa pemeriksaan yang memadai dan tanpa kapasitas sebagai pelapor.
Namun dalam realitas sosial-politik hukum kerap beririsan dengan tekanan opini publik, persepsi kekuasaan, dan dinamika kepentingan. Di sinilah nilai tawakal menjadi sangat relevan
Ketika seseorang menghadapi tudingan, fitnah, dan ketidakadilan , pilihannya hanya dua:
larut dalam prasangka dan amarah, ataumenguatkan kesabaran dan menyerahkan urusan sepenuhnya kepada Allah
QS. Al-Baqarah ayat 112 mengajarkan bahwa siapa pun yang tetap menjaga niat baik, kejujuran, dan ikhtiar yang lurus tidak perlu hidup dalam ketakutan atau kesedihan. Justru ujian adalah jalan pematangan iman , pendewasaan jiwa , dan pembersihan niat .
Alhamdulillah seiring waktu, pintu-pintu kebaikan mulai terbuka Jalan keluar, kelonggaran, dan harapan hadir sebagai buah dari kesabaran dan husnuzan kepada Allah Inilah bukti janji Al-Qur’an:
Allah memberi jalan kebaikan kepada mereka yang sabar,
sebaliknya, buruk sangka hanya melahirkan kegelisahan dan kegelapan batin
Hikmah terpentingnya bukan semata pada sosok atau peristiwanya, tetapi pada pesan moralnya
bahwa dalam dunia politik, hukum, dan kekuasaan yang penuh turbulensi 🌊, manusia tetap wajib menjaga kejernihan hati kelurusan niat , serta adab dalam menyikapi perbedaan
*Tawakal menjadikan seseorang kuat tanpa kasar tegas tanpa arogan 🌿, dan sabar tanpa kehilangan keberanian
Semoga refleksi ini meneguhkan kita semua untuk tidak mudah berburuk sangka, tidak tergesa menghakimi, serta selalu menjadikan iman dan akhlak sebagai kompas kehidupan
Salam ta’ziem, taqwa, dan jihad.
*B E S — Brother Eggi Sudjana* 🕊️

