Pengikut

Puguh Budiono : Bukan Mencapai, Tapi Mengenali Kembali: Sebuah Renungan Tentang Kesadaran

Redaksi
Januari 08, 2026 | Januari 08, 2026 WIB Last Updated 2026-01-08T15:00:58Z
Kediri, detiksatu.com || Sejak usia dini, manusia secara halus namun konsisten dilatih untuk memahami dirinya sebagai sesuatu sebagai objek yang memiliki identitas, peran, dan fungsi tertentu di dunia. Nama diberikan, karakter dibentuk, prestasi diukur, kesalahan dinilai, dan cerita tentang “siapa aku” disusun sedikit demi sedikit. Tanpa disadari, perhatian manusia diarahkan sepenuhnya pada isi pengalaman: pikiran, emosi, ingatan, dan persepsi. Dalam proses ini, satu hal mendasar luput dari pengenalan ruang sadar tempat seluruh pengalaman itu muncul.

Manusia tumbuh dengan keyakinan implisit bahwa dirinya adalah pikiran yang berpikir, emosi yang merasa, dan tubuh yang bertindak. Kesadaran direduksi menjadi produk sampingan dari aktivitas mental, bukan sebagai fondasi tempat aktivitas itu berlangsung. Akibatnya, kehidupan dijalani dari sudut pandang yang menyempit, seolah kesadaran berada di dalam kepala, terkurung oleh hiruk-pikuk dialog batin yang tak pernah benar-benar berhenti.

Daya Tarik Evolusioner Pikiran Dan Emosi

Pikiran dan emosi memiliki fungsi yang sangat vital dalam sejarah evolusi manusia. Pikiran dirancang untuk mengantisipasi bahaya, merencanakan masa depan, dan mengendalikan lingkungan. Emosi berperan sebagai sistem alarm cepat memberi sinyal tentang ancaman atau peluang sebelum analisis rasional sempat bekerja. Mekanisme ini menyelamatkan spesies manusia berkali-kali.
Namun, ketika perhatian terus-menerus mengikuti mekanisme ini tanpa jeda, terjadi pengaburan. Kesadaran yang sejatinya luas dan terbuka terasa menyempit menjadi sekadar arus pikiran dan reaksi emosional. Manusia merasa “terperangkap” dalam kepalanya sendiri, padahal yang terjadi sesungguhnya bukanlah keterpenjaraan kesadaran, melainkan pengondisian perhatian.
Perhatian yang selalu tertarik pada isi pengalaman menciptakan ilusi bahwa isi itulah diri. Pikiran dianggap sebagai “aku”, emosi sebagai “milikku”, dan cerita hidup sebagai identitas final. Dalam ilusi inilah penderitaan psikologis menemukan akarnya.

Ketakutan Halus akan Kehilangan Diri

Menariknya, ketika seseorang mulai diarahkan untuk hadir sebagai kesadaran bukan sebagai pikiran atau cerita sering muncul ketakutan yang sangat halus. Melepaskan identitas terasa seperti kehilangan kendali, bahkan seperti ancaman terhadap eksistensi diri. Sistem psikologis menafsirkan keheningan sebagai bahaya, karena selama ini “aku” hanya dikenal sebagai kumpulan aktivitas mental.
Di titik inilah pikiran bekerja lebih keras. Ia menawarkan kesibukan, analisis tanpa henti, konflik batin, atau drama emosional agar identitas tetap terasa solid. Bukan karena ada yang salah dengan keheningan, melainkan karena sistem lama tidak ingin kehilangan pusat gravitasinya.
Ketakutan ini bukan kesalahan personal. Ia merupakan hasil dari kebiasaan panjang yang diwariskan secara budaya dan psikologis.
Budaya Yang Mengagungkan Reaksi, Bukan Kejernihan

Budaya modern memperkuat keterikatan ini. Manusia dinilai dari kecepatan berpikir, ketajaman berpendapat, kemampuan bereaksi, dan produktivitas yang terus meningkat. Diam tanpa tujuan dianggap tidak berguna, bahkan mencurigakan. Keheningan jarang diberi ruang, kecuali sebagai sarana untuk kembali “lebih produktif”.
Padahal, justru dalam ruang tanpa tujuan itulah kejernihan muncul. Bukan sebagai hasil usaha, melainkan sebagai kondisi alami ketika perhatian tidak lagi ditarik ke mana-mana. Kesadaran, ketika tidak diganggu, bersifat jernih, luas, dan hening dengan sendirinya.

Energi Kebiasaan Dan Arus Perhatian

Perhatian yang terus terseret ke pikiran, emosi, dan persepsi bukan semata karena kurangnya pemahaman intelektual. Akar utamanya terletak pada energi kebiasaan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Setiap kali perhatian mengikuti jalur lama mengulang kekhawatiran, menghidupkan kembali luka lama, atau membangun skenario masa depan energi kebiasaan itu diperkuat.
Energi kebiasaan bekerja seperti arus sungai. Kesadaran adalah ruang sungainya, luas dan tak terbatas, tetapi perhatian terbiasa mengalir deras ke satu arah tertentu. Ketika seseorang berhenti mengikuti arus itu, tidak serta-merta muncul ketenangan. Justru sering timbul rasa gelisah, bosan, atau pikiran yang terasa semakin bising.
Ini bukan tanda kegagalan. Ini adalah tanda bahwa energi lama tidak lagi menemukan saluran yang biasa ia gunakan.

Kesalahpahaman tentang Membersihkan Diri

Di fase ini, banyak orang terjebak dalam kesalahpahaman. Mereka merasa harus “membersihkan” pikiran, menaklukkan emosi, atau menyembuhkan seluruh luka batin sebelum bisa hadir sebagai kesadaran. Upaya ini justru memperkuat identifikasi, karena perhatian kembali terlibat secara aktif dengan isi pengalaman.
Yang sebenarnya dibutuhkan jauh lebih sederhana namun terasa radikal: tidak memberi makan pada pola lama. Ketika perhatian tidak lagi terlibat, energi kebiasaan perlahan kehilangan momentumnya sendiri. Bukan karena dilawan, tetapi karena tidak lagi dianggap pusat identitas.

Hadir Sebagai Kesadaran: Proses De-conditioning

Hadir sebagai kesadaran bukanlah praktik aktif dalam arti konvensional. Ia bukan pencapaian, bukan teknik, dan bukan kondisi istimewa yang harus diraih. Ia adalah proses de-conditioning pelepasan pengondisian lama.
Energi kebiasaan dibiarkan muncul, bergerak, dan larut di dalam ruang sadar tanpa diikuti, dilabeli, atau dimaknai ulang. Awalnya, ini terasa tidak nyaman. Manusia terbiasa hidup dari gesekan batin: konflik, harapan, penyesalan, dan pencarian tanpa akhir. Ketika gesekan itu berkurang, muncul kekosongan yang terasa asing.
Namun, seiring waktu, intensitas energi kebiasaan melemah. Bukan karena dikalahkan, melainkan karena tidak lagi dipercaya sebagai “aku."

Paradoks Kesadaran

Kesadaran tidak pernah terikat oleh kebiasaan. Yang terikat hanyalah perhatian. Ketika perhatian belajar beristirahat tanpa objek, tanpa tujuan energi kebiasaan kehilangan “rumahnya”. Ia tidak memiliki tempat untuk menetap.

Paradoks terbesar dalam perjalanan ini adalah bahwa yang paling sederhana justru terasa paling sulit. Berhenti mencoba menjadi sesuatu, berhenti memperbaiki diri, berhenti mengejar keadaan tertentu dan cukup mengizinkan diri untuk hadir.
Bukan mencapai sesuatu yang baru, melainkan mengenali kembali apa yang sejak awal tidak pernah hilang.
Kesadaran tidak perlu ditemukan. Ia hanya perlu dikenali.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puguh Budiono : Bukan Mencapai, Tapi Mengenali Kembali: Sebuah Renungan Tentang Kesadaran

Trending Now