Foto: Andrea, WNA Asal Italia saat
membersihkan sampah di Pantai EPO Wewa Belen (ist.)
Lembata, NTT, detiksatu.com || Warga negara asing (WNA) asal Italia, Andrea dan Francesca mengungkapkan kekaguman sekaligus keprihatinan mereka terhadap kondisi lingkungan laut di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Andrea dan Francesca berada di Lembata untuk mendukung program konservasi laut yang dijalankan oleh LSM Barakat melalui kegiatan pendokumentasian kondisi bawah laut di sejumlah desa pesisir.
Andrea menjelaskan bahwa selama berada di Lembata, mereka melakukan penyelaman dan observasi kehidupan bawah laut, termasuk terumbu karang, padang lamun, serta berbagai jenis ikan di beberapa desa, khususnya wilayah Muro.
“Setelah berkeliling di beberapa desa, Lembata menjadi salah satu tempat terbaik dibandingkan dengan Italia dan Eropa pada umumnya. Bahkan, ada beberapa spesies yang tidak kami temukan di Filipina, tetapi justru ada di sini,” ujar Andrea, dalam keterangan LSM Barakat, diterima detiksatu, Selasa, 20 Januari 2026.
Namun, di balik keindahan alam bawah laut tersebut, Andrea mengungkapkan adanya persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama, yakni masalah sampah di dalam laut.
Saat melakukan penyelaman, mereka menemukan banyak sampah baik di dalam laut maupun di sepanjang pesisir pantai.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi sampah ini. Kami khawatir jika dibiarkan, hal tersebut akan merusak ekosistem laut di masa depan,” tambahnya.
Senada dengan itu, Direktur LSM Barakat, Benediktus Bedil, menegaskan bahwa pencemaran laut, khususnya oleh mikroplastik, sudah berada pada tingkat yang menghawatirkan.
Bedil menjelaskan bahwa mikroplastik yang mencemari laut akan masuk ke dalam tubuh ikan dan pada akhirnya dikonsumsi manusia.
“Tanpa disadari, tubuh kita telah dimasuki mikroplastik yang dapat mengganggu kesehatan
Selain itu, perilaku membuang sampah sembarangan akan menjadi bumerang bagi kita sendiri dan generasi yang akan datang,” tegas Benediktus.
Ia menambahkan bahwa kegiatan pemungutan sampah yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian dan jawaban atas keprihatinan yang disampaikan oleh kedua WNA tersebut.
Melalui kegiatan ini, kata dia, masyarakat diajak untuk secara perlahan menyelamatkan laut dan bumi, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.
Sementara itu, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB), Mikhael Alexander Raring mengatakan bahwa persoalan sampah telah menjadi perhatian serius baik pemerintah maupun masyarakat.
Ia mencontohkan kondisi di Teluk Lewoleba yang tingkat pencemaran sampahnya cukup tinggi.
“Pada Oktober 2025 lalu, Forum PRB menginisiasi aksi pungut sampah di Teluk Lewoleba dan berhasil mengumpulkan sekitar empat ton sampah hanya dalam waktu dua jam. Ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di wilayah teluk sangat besar,” ungkapnya.
Menurut Alexander Raring, Teluk Lewoleba sejatinya menyimpan potensi dan kekayaan alam yang besar, namun belakangan mengalami pencemaran akibat sampah.
Ia berharap kegiatan bersih pantai ini dapat membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga laut dan lingkungan.
Kegiatan pemungutan sampah yang dilaksanakan Selasa (20/01/2026) tersebut melibatkan berbagai organisasi, komunitas, dan unsur pemerintah, antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, Koalisi Kopi Lembata, Yayasan Bank Sampah, OMK Paroki Kristus Raja Wangatoa, SMPN 1 Ile Ape, Pemerintah Desa Kolontobo, serta BARAKAT Lembata. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 200 peserta.
Lokasi kegiatan pemungutan sampah dipusatkan di sepanjang Pantai Epo Wewa Belen, Desa Kolontobo, Kampung Ohe, Ile Ape.
Reporter: Emanuel Boli

