Di UMSURA, Fadli Zon Dorong Indonesia Jadi Super Power Kebudayaan Dunia,Soroti Akulturasi Damai Islam di Nusantara

Februari 25, 2026 | Februari 25, 2026 WIB Last Updated 2026-02-24T20:55:01Z
Surabaya, detiksatu.com || Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pentingnya penguatan kebudayaan Islam sebagai fondasi kemajuan bangsa dalam Studium Generale yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA),  (22/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung At-Tauhid Tower tersebut merupakan bagian integral dari program Baitul Arqam Mahasiswa 2026, sebuah agenda pembinaan dan pengkaderan intensif untuk memperkuat ideologi keislaman, komitmen terhadap Muhammadiyah, serta wawasan kepemimpinan mahasiswa dan civitas akademika.

Mengusung tema “Visi dan Strategi Kemajuan Kebudayaan Islam di Indonesia”, kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah dan kalangan akademisi dalam merumuskan arah pembangunan kebudayaan nasional berbasis nilai-nilai Islam yang inklusif dan progresif.

Indonesia Sebagai Super Power Kebudayaan

Dalam pidatonya, Fadli Zon menekankan bahwa Indonesia memiliki modal budaya yang sangat besar dan unik. Dengan lebih dari 17.000 pulau, sekitar 1.340 suku bangsa, serta ratusan bahasa daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, Indonesia menyandang predikat sebagai negara dengan megadiversity budaya.
“Keanekaragaman budaya Indonesia adalah kekuatan strategis. Ini bukan sekadar warisan, tetapi potensi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat kebudayaan dunia dan kekuatan besar di bidang kebudayaan,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya, (22/2/2026).

Ia menjelaskan, kekayaan budaya Indonesia mencakup bahasa dan tradisi lisan, manuskrip kuno, adat istiadat, ritus keagamaan, pengetahuan tradisional, pangan lokal, permainan rakyat, hingga seni pertunjukan dan kerajinan. Seluruhnya merupakan aset yang harus dilestarikan sekaligus dikembangkan secara inovatif.

Islam dan Akulturasi Damai di Nusantara

Fadli Zon juga menyoroti sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang berlangsung secara damai dan penuh toleransi. Menurutnya, Islam berkembang melalui pendekatan budaya, perdagangan, dan dakwah yang bijaksana tanpa paksaan atau kekerasan.
“Islam datang dengan pesan perdamaian dan toleransi. Para ulama dan pedagang Muslim menghormati tradisi lokal, merangkul budaya setempat, dan tidak merusaknya kecuali yang bertentangan dengan prinsip tauhid,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perjalanan sejarah Indonesia menunjukkan harmonisasi antarkebudayaan yang kuat. Peradaban Nusantara terbentuk melalui proses akulturasi panjang, termasuk pada masa dominasi Hindu dan Buddha sebelum Islam berkembang luas.

Sebagai contoh nyata toleransi dan pelestarian warisan sejarah, Fadli Zon menyebut keberadaan candi-candi besar seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Mendut, dan Candi Plaosan yang tetap dirawat dan dilestarikan hingga kini.
“Umat Islam di Indonesia tidak menghancurkan warisan budaya masa lalu. Justru kita menjaga dan merawatnya sebagai bagian dari identitas bangsa. Inilah bukti nyata toleransi dan kedewasaan peradaban kita,” tegasnya.

Kebudayaan Sebagai Pilar Ekonomi dan Diplomasi

Lebih lanjut, Fadli Zon menekankan bahwa kemajuan kebudayaan tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa, sektor swasta, dan masyarakat luas.
Ia mendorong pengembangan ekonomi dan industri berbasis budaya, seperti pariwisata budaya, seni pertunjukan, kriya, serta kuliner tradisional.

Menurutnya, kebudayaan bukan hanya identitas, tetapi juga instrumen ekonomi dan diplomasi internasional.
“Kebudayaan harus menjadi kekuatan ekonomi sekaligus instrumen diplomasi. Melalui budaya, citra Indonesia di mata dunia dapat semakin kuat dan positif,” ujarnya.
Selain itu, kebudayaan berperan sebagai pembentuk karakter bangsa, menanamkan nilai-nilai luhur, etika, dan jati diri kepada generasi muda di tengah tantangan globalisasi.

UMSURA Luncurkan Tagline ‘Home of Champions’

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMSURA Mundakir memperkenalkan identitas baru kampus dengan tagline ‘Home of Champions’, menggantikan slogan sebelumnya “Kampus Sejuta Inovasi”.

Menurut Mundakir, perubahan tagline tersebut mencerminkan komitmen universitas dalam mencetak mahasiswa dan alumni unggul, baik di bidang akademik maupun olahraga hingga tingkat nasional.
“Setiap proses di sini adalah untuk menjadi champion. Baik atlet lari, panjat tebing, voli, maupun mahasiswa di bidang keilmuan lainnya, kita dukung untuk menjadi juara saat lulus nanti,” ujarnya penuh optimisme.

Tagline baru ini diharapkan menjadi motivasi kolektif bagi seluruh civitas akademika untuk terus berprestasi dan berkontribusi nyata bagi bangsa.

Dukungan Penuh Pemerintah dan Tokoh Akademik

Kegiatan Studium Generale ini turut dihadiri Wakil Rektor I UMSURA Muhammad Anas, Ketua LPI UMSURA Mungkaiyat Al-Amin, Ketua LHKP PWM Jawa Timur Jai Mirdasih, serta jajaran pimpinan dan mahasiswa UMSURA.

Mendampingi Fadli Zon dalam kunjungan kerja tersebut antara lain Staf Khusus Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Direktur Sejarah dan Permuseuman Agus Mulyana, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan XI Jawa Timur Endah Budi Heryani.

Kehadiran para pejabat ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat pemajuan kebudayaan di daerah serta membangun sinergi dengan institusi pendidikan tinggi.

Momentum Strategis Pemajuan

Kebudayaan Islam
Kunjungan Menteri Kebudayaan ke UMSURA disambut hangat sebagai momentum strategis untuk mempererat kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan.

UMSURA menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan Kementerian Kebudayaan dalam pembinaan karakter mahasiswa, pelestarian warisan budaya, serta pengembangan visi kebudayaan masa depan yang adaptif dan inklusif.

Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, diharapkan kebudayaan Islam di Indonesia dapat terus tumbuh sebagai kekuatan moral, sosial, dan ekonomi yang menopang pembangunan nasional.

Studium Generale ini bukan sekadar forum akademik, melainkan penegasan komitmen bersama untuk menjadikan kebudayaan sebagai pilar utama kemajuan Indonesia di kancah global.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Di UMSURA, Fadli Zon Dorong Indonesia Jadi Super Power Kebudayaan Dunia,Soroti Akulturasi Damai Islam di Nusantara

Trending Now