Stok Pangan Nasional Aman Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Pemerintah Pastikan Harga Terkendali

Redaksi
Februari 12, 2026 | Februari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-02-12T02:37:53Z
Jakarta, detiksatu.com || Pemerintah memastikan ketersediaan dan stabilitas pangan nasional dalam kondisi aman menjelang bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri 2026. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melaporkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia bahwa stok bahan pokok mencukupi dan harga relatif terkendali.

Laporan tersebut disampaikan Mentan Amran usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) bersama Presiden di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Dalam rapat itu, Kementerian Pertanian memaparkan perkembangan terkini terkait stok, produksi, serta harga sejumlah komoditas pangan strategis yang menjadi perhatian utama pemerintah menjelang periode peningkatan konsumsi masyarakat.
“Stok pangan kita aman. Untuk dua bulan ke depan lebih dari cukup. Bahkan sampai Idulfitri, stok 11 sampai 12 bahan pokok tersedia dan dalam kondisi aman,” ujar Amran.

Mayoritas Komoditas Sudah Swasembada

Mentan menjelaskan, dari sembilan bahan pokok utama yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat, sebagian besar telah mencapai swasembada. Bahkan, beberapa komoditas telah mampu menembus pasar ekspor.
Salah satu contoh adalah bawang merah. Sepanjang 2025, Indonesia berhasil mengekspor sekitar 1.000 ton bawang merah ke sejumlah negara tujuan. Capaian tersebut menunjukkan penguatan sektor hortikultura nasional yang semakin kompetitif.
“Bawang merah kita sudah swasembada, bahkan ekspor. Yang kita benahi sekarang adalah rantai pasoknya agar harga tetap stabil di tingkat petani dan konsumen,” jelasnya.

Menurut Amran, pembenahan rantai distribusi menjadi fokus pemerintah agar disparitas harga antardaerah dapat ditekan, sekaligus memastikan petani memperoleh keuntungan yang layak tanpa membebani konsumen.

Pengendalian Harga Melalui HET dan HPP

Untuk komoditas yang masih membutuhkan impor, pemerintah memastikan pasokan tetap terjaga melalui perencanaan yang terukur dan pengawasan ketat. Selain itu, stabilitas harga diperkuat melalui instrumen kebijakan seperti Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Kebijakan ini terutama diterapkan pada komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam ras, serta telur ayam.
“Beras itu yang paling strategis. Ini yang kita jaga betul. Targetnya jelas, petani untung, konsumen tersenyum,” tegas Amran.

Ia menekankan bahwa keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen menjadi prinsip utama dalam setiap kebijakan pangan. Pemerintah tidak hanya menjaga harga tetap terjangkau, tetapi juga memastikan petani mendapatkan harga yang menguntungkan.

Cadangan Beras Pemerintah Menguat

Dalam kesempatan tersebut, Mentan juga melaporkan perkembangan positif cadangan beras pemerintah (CBP). Saat ini, stok beras nasional tercatat sebesar 3,4 juta ton. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 3,8 juta ton pada akhir Februari dan menembus 4 juta ton pada Maret 2026.
“Stok bantuan pangan sangat cukup. SK sudah ada dan penyalurannya kita percepat,” katanya.

Penguatan cadangan ini menjadi bantalan utama pemerintah dalam melakukan intervensi pasar apabila terjadi gejolak harga atau gangguan distribusi, terutama saat permintaan melonjak menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Amran menegaskan, keberadaan cadangan pemerintah merupakan kunci dalam menjaga stabilitas.
“Kalau pemerintah tidak punya cadangan, bagaimana cara intervensi pasar? Itu sebabnya negara harus hadir dan punya stok yang kuat,” ujarnya.

Produksi Beras 2025 Tertinggi di ASEAN

Ketersediaan stok yang kuat ditopang oleh lonjakan produksi beras nasional sepanjang 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras periode Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian tersebut sejalan dengan proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) serta Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang menempatkan produksi beras Indonesia di kisaran 34,6 juta ton. Dengan angka tersebut, Indonesia menjadi produsen beras terbesar di kawasan ASEAN pada periode tersebut.
Tren positif ini diperkirakan berlanjut pada awal 2026.

Potensi produksi beras Januari–Maret 2026 diproyeksikan mencapai 10,16 juta ton, meningkat 1,39 juta ton atau 15,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan produksi tersebut didorong oleh perbaikan infrastruktur irigasi, distribusi pupuk bersubsidi yang lebih tertata, penggunaan benih unggul, serta optimalisasi lahan melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

Evaluasi Nataru Jadi Acuan

Mentan menambahkan, stabilitas harga selama momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 menjadi indikator keberhasilan kebijakan penguatan stok dan intervensi pasar yang telah dijalankan pemerintah.
“Alhamdulillah, Nataru kemarin relatif stabil. Itulah yang kita jaga sekarang. Ramadan dan Idulfitri harus lebih baik, harga terkendali, masyarakat tenang,” pungkasnya.

Pemerintah memastikan koordinasi lintas kementerian dan lembaga akan terus diperkuat guna menjaga kelancaran distribusi, mengantisipasi potensi penimbunan, serta memastikan masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang wajar selama Ramadan hingga Idulfitri 2026.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stok Pangan Nasional Aman Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Pemerintah Pastikan Harga Terkendali

Trending Now