Unggahan tersebut dengan cepat menyebar di berbagai grup media sosial dan memicu beragam respons dari masyarakat. Sebagian warganet menilai kalimat tersebut merupakan bentuk kritik tajam terhadap kondisi pemerintahan di Kabupaten Gowa, sementara yang lain menganggapnya hanya sebagai guyonan politik yang dikemas secara satir.
Perbandingan dengan sejarah peperangan antara Kerajaan Gowa dan Belanda menjadi sorotan utama karena dianggap menggunakan analogi yang cukup ekstrem untuk menggambarkan situasi politik saat ini. Meski demikian, tidak sedikit pula yang mengingatkan agar masyarakat bijak dalam menyampaikan kritik serta tetap menghormati fakta sejarah.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak yang disebut dalam unggahan tersebut. Namun, perbincangan mengenai isi sindiran itu terus bergulir dan memancing berbagai pendapat, baik yang mendukung maupun yang mengkritik isi unggahan tersebut.
Perlu diketahui, isi unggahan tersebut merupakan opini atau satire yang beredar di media sosial dan belum tentu mencerminkan fakta. Masyarakat diimbau untuk menyikapi setiap informasi yang beredar secara bijaksana, melakukan verifikasi, serta mengedepankan etika dalam menyampaikan kritik di ruang publik


