Dari Peringkat 6 ke 13! Peserta MTQ Kapuas Hulu Terjun Bebas di Kayong Utara, Apa Kabar LPTQ?

Dari Peringkat 6 ke 13! Peserta MTQ Kapuas Hulu Terjun Bebas di Kayong Utara, Apa Kabar LPTQ?

Agustus 09, 2026 | Agustus 09, 2026 WIB Last Updated 2026-08-08T19:25:09Z
Kapuas hulu,detiksatu.com || Prestasi kafilah Kabupaten Kapuas Hulu pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Kalimantan Barat tahun 2026 menjadi perhatian. Setelah sebelumnya mampu berada di peringkat keenam, kini Kapuas Hulu harus puas di peringkat ke-13 dengan 18 poin pada MTQ XXXIV yang digelar di Kabupaten Kayong Utara, Sukadana.

Berdasarkan dokumen Keputusan Dewan Hakim MTQ XXXIV Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026 yang ditetapkan di Sukadana pada 8 Agustus 2026, Kapuas Hulu berada di urutan ke-13 dari 14 kabupaten/kota peserta.
Penurunan tersebut tentu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan pembinaan peserta MTQ Kapuas Hulu?

Apakah persiapan peserta sudah dilakukan secara maksimal? Apakah para peserta mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang cukup dari para pembina? Atau masih ada hal-hal dalam proses seleksi, pembinaan dan persiapan kafilah yang perlu dievaluasi?

Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan para peserta. Sebaliknya, anak-anak yang tampil membawa nama Kabupaten Kapuas Hulu patut mendapatkan apresiasi karena telah berjuang di tingkat provinsi.

Yang menjadi sorotan justru sistem pembinaan sebelum peserta diberangkatkan ke arena MTQ.

Anggaran Besar, Hasil Perlu Dievaluasi

Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu di bawah kepemimpinan Bupati Fransiskus Diaan disebut memberikan dukungan anggaran hibah MTQ sekitar Rp1,1 miliar.

Dukungan tersebut tentu merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap pengembangan syiar Islam dan pembinaan generasi Qur’ani di Kabupaten Kapuas Hulu.

Namun, ketika hasil akhir menunjukkan Kapuas Hulu berada di peringkat ke-13 dengan 18 poin, publik tentu wajar mempertanyakan apakah program pembinaan yang dilakukan selama ini sudah memberikan hasil maksimal.

Besarnya anggaran memang tidak otomatis menjamin sebuah kafilah menjadi juara. Namun, dukungan anggaran yang besar tentu perlu diikuti dengan program yang jelas, pembinaan yang terukur dan evaluasi yang transparan.

Karena itu, pengurus LPTQ Kabupaten Kapuas Hulu perlu memberikan penjelasan mengenai pola pembinaan yang selama ini dilakukan, termasuk bagaimana proses seleksi, pelatihan, pemusatan latihan dan pendampingan peserta.

Jangan Salahkan Anak Didik

Penurunan prestasi tidak seharusnya serta-merta dibebankan kepada peserta.

Para peserta merupakan anak didik yang membutuhkan pembinaan berkelanjutan, pelatih berkualitas, kesempatan mengikuti pelatihan dan try out, serta pendampingan mental maupun teknis.

Jika pembinaan hanya dilakukan menjelang pelaksanaan MTQ, tentu perlu dievaluasi apakah pola tersebut masih cukup untuk menghadapi persaingan MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang semakin kompetitif.

MTQ bukan sekadar mencari juara ketika perlombaan dimulai. Prestasi dibangun jauh sebelum peserta naik ke panggung.

Karena itu, hasil MTQ di Kayong Utara seharusnya menjadi alarm evaluasi bagi LPTQ dan Pemkab Kapuas Hulu.

Dari Peringkat 6 ke 13, Apa yang Berubah?

Perbandingan prestasi tersebut menjadi perhatian. Kapuas Hulu yang sebelumnya mampu berada di peringkat keenam kini turun ke posisi ke-13.

Pertanyaan publik pun sederhana:

Apa yang berubah dalam satu tahun terakhir?

Apakah sistem pembinaan mengalami perubahan? Apakah kualitas pelatih dan pendampingan peserta sudah dievaluasi? Apakah proses seleksi kafilah sudah benar-benar menghasilkan peserta terbaik di setiap cabang?

Semua pertanyaan tersebut perlu dijawab secara terbuka oleh pihak yang berwenang.

Bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi agar penurunan prestasi tidak kembali terjadi pada MTQ berikutnya.

Kayong Utara Jadi Momentum Pembenahan

MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang berlangsung di Kabupaten Kayong Utara, Sukadana, semestinya tidak hanya menjadi ajang perlombaan dan perebutan peringkat.

Lebih jauh, momentum tersebut harus menjadi bahan evaluasi untuk membangun pembinaan Tilawatil Qur’an yang lebih baik di Kabupaten Kapuas Hulu.

Generasi muda yang memiliki kemampuan membaca, menghafal dan memahami Al-Qur’an merupakan aset penting daerah yang harus dibina secara serius dan berkelanjutan.

Kalau hari ini Kapuas Hulu berada di peringkat ke-13, jangan sampai tahun berikutnya kembali terpuruk.

LPTQ Kapuas Hulu diharapkan terbuka terhadap kritik dan menjadikan hasil MTQ ini sebagai bahan memperbaiki sistem pembinaan, mulai dari proses seleksi, kualitas pelatih, pemusatan latihan, pendampingan peserta hingga evaluasi pasca-MTQ.

Bupati Kapuas Hulu juga dinilai perlu meminta evaluasi menyeluruh dari pengurus LPTQ, termasuk terkait program pembinaan dan penggunaan dukungan anggaran yang telah diberikan pemerintah.

Sebab pertanyaan publik cukup sederhana:

> Dengan dukungan anggaran sekitar Rp1,1 miliar, mengapa prestasi Kapuas Hulu justru turun dari peringkat 6 menjadi peringkat 13?



Jawaban atas pertanyaan tersebut bukan untuk mencari kesalahan individu, melainkan memastikan anak-anak didik Kapuas Hulu mendapatkan pola pembinaan terbaik dan memiliki peluang lebih besar untuk berprestasi pada MTQ mendatang.

MTQ Kayong Utara 2026 telah berlalu. Kini waktunya LPTQ Kapuas Hulu bercermin, mengevaluasi dan membenahi pembinaan. 

Jangan sampai potensi generasi Qur’ani Kapuas Hulu hanya muncul saat perlombaan, tetapi minim pembinaan sebelum perlombaan.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari Peringkat 6 ke 13! Peserta MTQ Kapuas Hulu Terjun Bebas di Kayong Utara, Apa Kabar LPTQ?

Trending Now