CIANJUR,DETIKSATU.COM || Kebakaran melanda lahan kosong bekas galian di Desa Ciharashas, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kobaran api membakar sekitar 15 hektare dari total lahan yang diperkirakan mencapai 24 hektare.
Kebakaran dilaporkan kepada petugas pemadam kebakaran pada Rabu (2/9) sekitar pukul 13.20 WIB. Hingga Kamis (3/9) sore, sejumlah titik api masih belum sepenuhnya padam, terutama di bagian tengah lahan.
Petugas pemadam kebakaran Jaenal mengatakan lokasi yang terbakar merupakan lahan kosong bekas galian, bukan kawasan hutan. Petugas langsung dikerahkan setelah menerima laporan kebakaran.
“Informasi yang kami terima sekitar pukul 13.20 WIB. Ini bukan hutan, melainkan lahan kosong bekas galian,” kata Jaenal saat ditemui di lokasi, Kamis (3/9).
Kondisi menjadi perhatian karena sebagian titik api berada tidak jauh dari permukiman warga. Petugas memprioritaskan pemadaman pada bagian yang berpotensi mendekati rumah penduduk.
“Yang kami antisipasi lebih dulu adalah titik yang dekat dengan permukiman. Kalau yang berada di tengah lahan memang cukup sulit kami jangkau,” ujarnya.
Upaya pemadaman menghadapi kendala angin yang cukup kencang. Api di bagian tengah lahan masih menyisakan bara cukup besar, sementara sejumlah titik di pinggir jalan mulai mereda.
“Untuk sementara titik-titik api yang di pinggir jalan sudah mulai mereda. Namun, yang di tengah masih ada bara api yang cukup besar,” kata Jaenal.
Sebanyak dua unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut. Penanganan juga melibatkan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Perkintan), BPBD, serta kepolisian.
Di tengah proses pemadaman, pihak berwenang belum memastikan penyebab kebakaran. Jaenal mengatakan petugas pemadam bersama kepolisian masih melakukan penanganan di lokasi.
“Untuk sementara ini kami dan kepolisian belum bisa memprediksi penyebab kebakaran tersebut,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat warga di sekitar lokasi diliputi kekhawatiran. Safitri (37), warga setempat, mengaku takut api menjalar ke permukiman, terutama karena tempatnya berjualan berada dekat dengan penjual bahan bakar.
“Takut ke permukiman warga. Saya jualan di sini dekat bensin, takut apinya menyambar ke sini,” kata Safitri.
Tak hanya ancaman kobaran api, kepulan asap tebal juga mengganggu warga. Safitri mengatakan asap dirasakan hingga ke sekitar permukiman dan dikhawatirkan memperburuk kondisi warga yang mengalami gangguan pernapasan.
“Asapnya ke anak-anak dan orang-orang. Yang sedang sakit bisa makin sesak karena pernapasan,” ujarnya.
Menurut Safitri, api awalnya terlihat dari area lapang sebelum bergerak mendekati permukiman. Angin kencang membuat kobaran api terus bergerak dan menyulitkan proses pemadaman.
“Apinya dari lapang, terus maju ke sini, ke rumah, kemudian maju lagi ke sana. Ada angin besar, jadi tidak padam-padam,” katanya.
Hingga Kamis sore, petugas masih berada di lokasi untuk memadamkan sisa titik api dan mengantisipasi kobaran meluas ke permukiman. Penyebab kebakaran masih dalam penanganan dan belum dapat dipastikan oleh petugas. (Bet)