Alam Kapuas Hulu Menangis: Jeritan Hutan Tercekik Asap Karhutla dan Luka Dalam Bumi Karna PETI

Alam Kapuas Hulu Menangis: Jeritan Hutan Tercekik Asap Karhutla dan Luka Dalam Bumi Karna PETI

September 09, 2026 | September 09, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T15:42:42Z

KAPUAS HULU,DETIKSATU.COM || Langit di atas Bumi Uncak Kapuas tak lagi biru. Ia kelabu, pekat, dan menyesakkan dada. Di bawahnya, tanah yang seharusnya subur kini menganga, meninggalkan lubang-lubang hitam bekas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang tergenang air keruh. Kapuas Hulu sedang menangis, bukan sekadar metafora, melainkan realitas pahit yang dihadapi warganya setiap hari akibat dua bencana buatan manusia: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kerusakan ekologis akibat PETI. Selasa 8/9/2026.

Asap yang Mencekik Nafas Bumi
Musim kemarau tahun ini membawa malapetaka bagi paru-paru dunia di perbatasan Indonesia-Malaysia ini. Titik panas (hotspot) bermunculan di wilayah gambut dan hutan lindung. Kabut asap tebal tidak hanya menyelimuti langit, tetapi juga masuk ke dalam rongga napas anak-anak sekolah, lansia, dan pekerja lapangan.
Data terbaru menunjukkan kualitas udara di beberapa kecamatan di Kapuas Hulu telah memasuki kategori "Tidak Sehat" hingga "Berbahaya". Sekolah-sekolah terpaksa meliburkan siswa atau menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), bukan karena pandemi, tapi karena udara yang terlalu beracun untuk dihirup. Hutan yang menjadi rumah bagi orangutan, bekantan, dan ribuan spesies endemik lainnya, kini hangus menjadi arang. Suara satwa liar berganti dengan deru api dan hening kematian.

Luka Terbuka di Tanah Gambut: Ancaman PETI
Jika Karhutla menyerang dari atas, PETI menghujam dari bawah. Aktivitas penambangan emas ilegal yang marak di sepanjang aliran Sungai Kapuas dan anak sungainya telah mengubah wajah alam Kapuas Hulu secara permanen. Ribuan hektare hutan primer dibabat habis, digantikan oleh gundukan tanah liat dan kolam-kolam lumpur beracun merkuri.

Dampaknya fatal:
a. Krisis Air Bersih: Sungai yang dulunya jernih dan menjadi sumber kehidupan warga kini keruh kecoklatan. Warga kesulitan mendapatkan air layak pakai, bahkan untuk mandi dan mencuci. 

b. Banjir & Kekeringan Ekstrem: Hilangnya daya serap air akibat penggundulan hutan membuat Kapuas Hulu rentan banjir bandang saat hujan, namun kering kerontang saat kemarau.

c. Racun Merkuri: Limbah tambang mencemari rantai makanan ikan, yang pada akhirnya meracuni tubuh masyarakat yang mengandalkan sungai sebagai sumber protein utama.

Suara Alam yang Tak Terdengar
Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu bersama BPBD, Polresta, dan TNI-Polri sebenarnya telah berupaya maksimal. Operasi penegakan hukum terhadap pembakar lahan dan penambang ilegal terus dilakukan. 

Status Siaga Darurat Asap pun telah ditetapkan. Namun, upaya pemadaman dan penertiban seolah berlari mengejar angin; api padam di satu titik, menyala di titik lain. Lubang tambang ditutup, muncul lubang baru di tempat terpencil.

Alam Kapuas Hulu seolah berteriak minta tolong, namun suaranya tenggelam oleh gemuruh mesin ekskavator dan desing korek api pembakar lahan.

Himbauan Kemanusiaan
Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak memalingkan muka dari tangisan Kapuas Hulu ini.

1. Bagi Pemerintah Pusat & Daerah: Tegaslah! Cabut izin perusahaan yang abai, tindak tegas sindikat PETI, dan percepat restorasi lahan gambut. Jangan biarkan regulasi tumpul di hadapan kepentingan sesaat.

2. Bagi Masyarakat: Jadilah mata dan telinga alam. Laporkan aktivitas mencurigakan. Gunakan masker berkualitas saat beraktivitas di luar. Hemat air bersih.

3. Bagi Kita Semua: Sadarilah bahwa kerusakan di Kapuas Hulu adalah ancaman bagi stabilitas iklim global. Menjaga Kapuas Hulu berarti menjaga masa depan anak cucu kita sendiri.

Bumi Uncak Kapuas tidak butuh simpati semata. Ia butuh aksi nyata sebelum tangisannya berubah menjadi elegi perpisahan selamanya.
( Joko )
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Alam Kapuas Hulu Menangis: Jeritan Hutan Tercekik Asap Karhutla dan Luka Dalam Bumi Karna PETI

Trending Now