LEBAK,DETIKSATU.COM || Media InfoXpos mempertanyakan penggunaan istilah “FOX-FOX/FOK-FOK” dalam sebuah video TikTok yang dibuat oleh akun Abah80/Abah Seprit, Rohim Budiman. Istilah tersebut muncul dalam rangkaian kritik terhadap pemberitaan mengenai revitalisasi SDN 2 Bojongmanik, Kabupaten Lebak.
Persoalan tersebut menjadi perhatian karena kritik terhadap sebuah pemberitaan perlu dibedakan dengan penilaian terhadap identitas media maupun karya jurnalistik yang diterbitkan.
Dari sisi InfoXpos, penggunaan istilah tersebut dinilai perlu dijelaskan konteksnya secara utuh agar tidak menimbulkan persepsi bahwa karya jurnalistik yang diterbitkan media tersebut sedang direndahkan atau diberi label tertentu.
Namun demikian, Rohim Budiman alias Abah80 telah memberikan klarifikasi. Ia mengakui bahwa dirinya memang membuat video tersebut dan menggunakan istilah “FOX-FOX/FOK-FOK”. Menurutnya, istilah tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan profesi wartawan maupun seluruh media.
Rohim menjelaskan, video tersebut berawal dari kritiknya terhadap substansi pemberitaan mengenai revitalisasi SDN 2 Bojongmanik, khususnya terkait penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh para pekerja.
Ia mengaku tidak hanya melihat informasi melalui media sosial, tetapi juga meminta klarifikasi kepada pihak sekolah dan mendatangi lokasi pekerjaan.
Saat melakukan pengecekan, Rohim mengatakan dirinya melihat sejumlah pekerja menggunakan perlengkapan keselamatan seperti helm, rompi dan boots.
Meski demikian, ia mengakui kondisi tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh pekerja menggunakan seluruh APD setiap saat.
“Kalau media memiliki dokumentasi pada waktu berbeda, silakan kita bandingkan tanggal, kondisi dan tahapan pekerjaannya,” kata Rohim dalam keterangannya.
Rohim juga menyebut dirinya memiliki bukti percakapan yang menunjukkan adanya pihak yang memperkenalkan diri dari InfoXpos dan meminta RAB kepada pihak sekolah.
Menurut Rohim, pihak sekolah menjelaskan bahwa informasi untuk kepentingan publik telah tersedia melalui papan informasi. Sementara untuk kebutuhan RAB, pihak sekolah mengarahkan agar permohonan informasi diajukan kepada Dinas Pendidikan.
Karena itu, Rohim menegaskan bahwa dirinya tidak menyatakan InfoXpos sama sekali tidak melakukan konfirmasi. Kritik yang disampaikannya, kata dia, berkaitan dengan substansi pemberitaan dan apakah penjelasan serta fakta pembanding telah mendapatkan ruang yang proporsional.
Selain persoalan revitalisasi sekolah, Rohim juga mengaitkan munculnya video tersebut dengan pemberitaan mengenai budidaya lele di Kamacing.
Ia mengaku memiliki tangkapan layar pemberitaan tersebut dan pernah mengalami kesulitan ketika mencoba membuka kembali tautan artikel yang dikirim kepadanya.
Namun, Rohim kemudian mengoreksi dugaan sebelumnya. Ia mengatakan tidak menyatakan sebagai fakta bahwa artikel tersebut sengaja dihapus maupun dirinya pasti diblokir.
Menurutnya, berdasarkan pengecekan terbaru, artikel budidaya lele tersebut kembali terlihat atau masih tercantum di situs InfoXpos.
“Yang dapat saya pertanggungjawabkan adalah bahwa pada saat itu saya mengalami kesulitan mengaksesnya, bukan memastikan penyebab teknisnya,” ujarnya.
Terkait istilah “FOX-FOX/FOK-FOK”, Rohim meminta agar video dinilai secara utuh dan tidak hanya berdasarkan potongan kata.
Ia menyatakan siap menunjukkan video asli, tangkapan layar pemberitaan, komunikasi dengan pihak sekolah serta dokumentasi kondisi lapangan untuk dibandingkan.
“Kalau ada kalimat saya yang dianggap merendahkan karya jurnalistik, silakan tunjukkan video mana, menit dan detiknya, serta kalimat lengkapnya. Saya siap menjelaskan berdasarkan video asli secara utuh,” katanya.
Rohim juga menegaskan bahwa dirinya tidak anti-pers. Ia mengatakan kritik yang disampaikannya ditujukan terhadap perilaku individu apabila terdapat fakta yang perlu dipersoalkan maupun terhadap produk pemberitaan yang menurutnya layak dikritisi.
Ia juga membantah bermaksud menggeneralisasi wartawan, media, LSM maupun organisasi masyarakat.
“Wartawan, media, LSM maupun ormas yang bekerja secara profesional harus dihormati,” ujarnya.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, persoalan “FOX-FOX” masih menjadi perbedaan pandangan antara pihak yang mempertanyakan dampak istilah tersebut terhadap karya jurnalistik dan pihak yang menyatakan istilah tersebut merupakan bagian dari kritik terhadap pemberitaan.
Untuk memperoleh gambaran yang utuh, penilaian terhadap persoalan tersebut perlu melihat video secara lengkap, waktu dan kondisi dokumentasi lapangan, isi pemberitaan, serta komunikasi dengan pihak sekolah.
Perbedaan pandangan tersebut diharapkan dapat diselesaikan melalui data dan bukti yang dapat diverifikasi, bukan berdasarkan asumsi maupun potongan informasi.
InfoXpos tetap memiliki ruang untuk menjelaskan konteks pemberitaannya, sementara Rohim Budiman juga menyatakan siap membuka bukti dan video secara utuh.
Publik pun dapat menilai setelah seluruh fakta dan konteks dari kedua pihak disampaikan secara terbuka.(Jul)