Jenazah PMI Jember dari Malaysia Pulang, Gus Fawait Rogoh Kocek Pribadi

Jenazah PMI Jember dari Malaysia Pulang, Gus Fawait Rogoh Kocek Pribadi

September 07, 2026 | September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T11:27:10Z
JEMBER , detiksatu.com || Penantian panjang keluarga Muhammad Iswandi akhirnya berujung haru. Jenazah pekerja migran Indonesia (PMI) asal Desa Biting, Kecamatan Arjasa, itu tiba di rumah duka, Minggu (6/9/2026) malam.

Iswandi meninggal dunia di Malaysia pada 18 Agustus lalu. 
Hampir tiga pekan keluarga menunggu kepastian kepulangannya ke tanah kelahiran.

Yang menarik, ongkos pemulangan jenazah tersebut tidak dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember. Bupati Jember Gus Fawait disebut turun tangan langsung dengan menggunakan dana pribadinya.

Kepastian itu disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perdagangan (Disnaker) Jember Zamroni saat menemui keluarga almarhum.

"Pembiayaan pengiriman jenazah PMI atau TKI yang wafat sudah diselesaikan oleh bupati secara pribadi. Bukan menggunakan APBD," kata Zamroni.

Menurut dia, pemulangan Iswandi juga mendapat dukungan anggota DPR RI Bambang Haryadi. Bantuan tersebut turut memperlancar proses administrasi dan kedatangan jenazah dari Malaysia.
Kepulangan Iswandi memang tidak berjalan mulus. 

Proses verifikasi dokumen dan prosedur kepolisian di Malaysia membuat jenazah harus menunggu selama beberapa pekan sebelum dapat diberangkatkan menuju Indonesia.

Di rumah duka, keluarga bersama jajaran pemerintah daerah akhirnya menyambut kedatangan jenazah. Camat Arjasa dan Camat Pakusari turut hadir bersama jajaran terkait.

Bagi keluarga, kepulangan itu menjadi penutup dari rentetan kabar duka yang datang secara mendadak.

Putri almarhum, Istantina Anitia, mengungkapkan ayahnya telah merantau ke Malaysia sejak 2006. Kala itu, dirinya masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Selama sekitar dua dekade menjadi pekerja migran, Iswandi menjalani berbagai pekerjaan. 

Mulai pabrik perakitan rangka mobil, manufaktur wadah plastik, hingga terakhir bekerja di industri pembuatan wadah minuman.

Nita mengatakan, ketika berangkat ke Malaysia, ayahnya tidak memiliki riwayat penyakit kronis. 

Namun, dalam dua tahun terakhir, Iswandi mulai terbuka kepada keluarga mengenai kondisi kesehatannya.

Kondisinya kemudian memburuk setelah kaki Iswandi mengalami luka akibat tertusuk paku. Luka tersebut membengkak dan berkembang menjadi infeksi serius.

Ironisnya, Iswandi sebenarnya sudah merencanakan pulang ke Indonesia pada pertengahan Agustus. 

Rencana itu kandas sebelum sempat diwujudkan.

Pada 18 Agustus, Iswandi ditemukan meninggal dunia di sebuah musala setempat ketika hendak bersiap memeriksakan kondisi kakinya ke rumah sakit.

Kabar kematian itu diterima keluarga di Jember sekitar pukul 13.15 WIB pada hari yang sama. Informasi awal datang dari rekan Iswandi yang mencoba melacak keluarganya melalui media sosial.

Keluarga sempat diliputi keraguan. 
Sebab, ketika ditemukan, sejumlah barang pribadi Iswandi seperti telepon seluler dan uang tunai sudah tidak ada. Yang tersisa hanya paspor dan kunci kamar.

Keluarga kemudian menunggu kepastian resmi dari kepolisian setempat sebelum memastikan kabar tersebut benar.

Setelah melalui proses panjang di Malaysia, jenazah akhirnya dipulangkan ke Jember. Iswandi tiba di Desa Biting sekitar pukul 21.18 WIB.

Tanpa banyak seremoni, jenazah langsung diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Kisah Iswandi kembali mengingatkan panjangnya perjuangan para PMI yang meninggalkan kampung halaman demi menghidupi keluarga. Ketika perjalanan itu berakhir di negeri orang, kepulangan jenazah pun menjadi persoalan tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dalam kasus Iswandi, proses tersebut akhirnya dituntaskan hingga jenazah bisa kembali ke tanah kelahiran dan dimakamkan di kampung halaman.

(Wiwik)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jenazah PMI Jember dari Malaysia Pulang, Gus Fawait Rogoh Kocek Pribadi

Trending Now