Panas Bumi Gede Pangrango Berpotensi Dikembangkan, Kajian Lingkungan Jadi Perhatian

Panas Bumi Gede Pangrango Berpotensi Dikembangkan, Kajian Lingkungan Jadi Perhatian

September 07, 2026 | September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T11:29:03Z

CIANJUR,DETIKSATU.COM || Potensi panas bumi di kawasan Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur, dinilai dapat dikembangkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan. Namun, pengembangannya perlu didukung kajian geologi, lingkungan, teknik, serta mempertimbangkan fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air.

Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Ir. H. Nana Sulaksana, MSP, mengatakan potensi tersebut dapat dikaji dari aspek geologi dan teknis untuk mendukung penambahan pasokan listrik bagi kebutuhan lokal maupun regional.

“Dari perspektif geologi, Gunung Gede Pangrango di Cianjur mempunyai potensi panas bumi yang cukup besar untuk menambah energi listrik sebagai tulang punggung pembangunan industri dan pada gilirannya meningkatkan roda perekonomian,” kata Nana saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2026).

Menurut Nana, karakteristik geologi kawasan dan potensi risiko yang berkaitan dengan aktivitas gunung api perlu menjadi bagian dari kajian pengembangan panas bumi. Kajian potensi bahaya gunung api, kata dia, diperlukan sejak tahap awal.

Nana mengatakan wilayah yang berpotensi dikembangkan hanya mencakup sebagian kawasan Gede Pangrango. Karena itu, aspek konservasi sumber daya air perlu diperhatikan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

“Fungsi sumber air dari Gede Pangrango akan tetap terjaga selama proyek berlangsung. Program keberlanjutan lingkungan, khususnya resapan air, menjadi prioritas dalam model pengembangan panas bumi,” ujarnya.

Ia menjelaskan keberlanjutan sistem panas bumi memiliki keterkaitan dengan kondisi kawasan tangkapan air atau catchment area. Konservasi hutan dan pengelolaan lahan pertanian sesuai prinsip lingkungan, menurut Nana, menjadi bagian yang perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan sistem hidrogeologi.

Nana juga menyebut kawasan Gede Pangrango memiliki batuan piroklastik yang relatif subur dan mendukung kegiatan pertanian. Kondisi tersebut, kata dia, perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan kawasan agar fungsi lingkungan dan kegiatan masyarakat tetap diperhatikan.

Sementara itu, dari sisi bawah permukaan, Nana mengatakan pemanfaatan energi panas bumi berkaitan dengan keberadaan sistem reservoir pada kedalaman tertentu. Ia menyebut struktur dan porositas batuan lava pada kedalaman sekitar 2.000 meter sebagai salah satu aspek geologi yang berkaitan dengan potensi tersebut.

Meski demikian, Nana mengatakan penilaian terhadap potensi panas bumi tidak cukup hanya berdasarkan aspek sumber daya energi. Kajian geologi lingkungan dan geologi teknik juga diperlukan sejak tahap awal pengembangan.

Kajian tersebut, menurut dia, mencakup identifikasi zona konservasi, daerah resapan air, kawasan pertanian, serta wilayah yang membutuhkan penguatan atau langkah mitigasi terhadap potensi risiko geologi.

“Untuk mengantisipasi dampak negatif terhadap sumber air, lahan pertanian, serta kestabilan tanah, kajian geologi lingkungan yang mengawal proyek geothermal mutlak dilakukan,” kata Nana.

Selain aspek teknis, Nana mengatakan masyarakat perlu dilibatkan dalam proses pengembangan panas bumi. Keterbukaan informasi dan komunikasi, kata dia, diperlukan untuk memberikan pemahaman mengenai rencana kegiatan, potensi manfaat, serta risiko yang mungkin muncul.

Ia mengatakan pemerintah daerah, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa dan perangkat kewilayahan, memiliki peran dalam membangun komunikasi antara pengelola proyek dan masyarakat.

“Selain kajian teknis geologi lingkungan dan geologi teknik, perlu sejak awal kajian yang lebih banyak melibatkan masyarakat. Keterbukaan informasi melalui peran aparat pemerintah daerah kabupaten sampai desa dan kepala dusun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kajian teknis,” ujarnya.

Nana menambahkan aspek sosial menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan panas bumi. Menurut dia, dukungan masyarakat di sekitar wilayah kegiatan perlu berjalan bersama dengan kajian teknis dan lingkungan.

Ia mengatakan pemanfaatan energi panas bumi dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan listrik lokal dan regional serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Model pengembangannya jelas harus bertumpu kepada dukungan sosial masyarakat dengan itikad proyek untuk meningkatkan pasokan energi untuk lokal kawasan dan regional tanpa melupakan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal yang menjadi bagian usaha mikro imbas dari kegiatan tersebut,” kata Nana.

Nana mengatakan pengembangan panas bumi di kawasan Gede Pangrango perlu memperhatikan potensi sumber daya, kondisi geologi, fungsi sumber air, risiko geologi, konservasi kawasan, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangannya. (Bet)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Panas Bumi Gede Pangrango Berpotensi Dikembangkan, Kajian Lingkungan Jadi Perhatian

Trending Now