Pasaman barat,detiksatu.com || Festival Literasi 2026 Perkuat Kolaborasi Pemerintah, Sekolah, dan Komunitas untuk Melahirkan Generasi Gemar Membaca dan Berkarya
Simpang Ampek, 08 September 2026, Kabupaten Pasaman Barat terus menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya literasi masyarakat. Dengan jumlah 51 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dari total 210 TBM yang terdata di Provinsi Sumatera Barat, Pasaman Barat menjadi daerah dengan jejaring TBM terbanyak dibandingkan kabupaten dan kota lainnya dalam gerakan literasi Sumatera Barat. Selain itu, telah digaungkan pula rencana pembentukan 900 kantong literasi di Pasaman Barat pada 2030.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa literasi di Pasaman Barat tidak hanya berkembang melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga tumbuh sebagai gerakan masyarakat yang melibatkan komunitas, relawan literasi, sekolah, dan berbagai unsur sosial.
Keberadaan TBM yang tersebar di berbagai wilayah menjadi modal penting dalam membangun ekosistem literasi berkelanjutan. TBM tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca buku, tetapi berkembang menjadi ruang belajar, kreativitas, interaksi dengan pengetahuan, serta wadah lahirnya gagasan dan karya.
Berdasarkan data Forum TBM Sumatera Barat, jumlah TBM Pasaman Barat menempati posisi tertinggi dalam jejaring 10 Pimpinan Daerah Forum TBM se-Sumatera Barat. Kabupaten Agam berada setelahnya dengan 27 TBM, Kota Padang 18 TBM, Kota Padang Panjang 15 TBM, Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Lima Puluh Kota masing-masing 11 TBM, sementara daerah lainnya memiliki jumlah lebih rendah.
Keunggulan tersebut menjadi salah satu indikator kuatnya partisipasi masyarakat Pasaman Barat dalam mendukung gerakan membaca dan pembelajaran sepanjang hayat.
Festival Literasi 2026, Ruang Kolaborasi Gerakan Membaca
Kekuatan ekosistem literasi tersebut semakin diperkuat melalui Festival Literasi Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2026 yang digagas Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan.
Mengusung tema “Membaca Bersama, Bergerak untuk Semua”, festival ini menjadi ruang bertemunya pemerintah daerah, sekolah, Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Forum TBM, komunitas membaca, hingga masyarakat umum.
Festival akan dilaksanakan pada 14–16 September 2026 di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Pasaman Barat. Kegiatan ini bertujuan mempromosikan perpustakaan, memperluas budaya baca, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam gerakan literasi.
Pemerintah juga membuka ruang partisipasi bagi Forum TBM Pasaman Barat, Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Read Aloud Pasaman Barat, sekolah, dan komunitas kreatif untuk memperkenalkan berbagai praktik baik literasi yang berkembang di masyarakat.
Literasi Tidak Hanya Membaca, Tetapi Menghasilkan Karya
Festival Literasi Pasaman Barat 2026 dirancang bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang apresiasi dan pengembangan kreativitas.
Berbagai kegiatan disiapkan, mulai dari pertunjukan seni budaya, musikalisasi puisi, membaca puisi, bertutur, membaca nyaring, talk show literasi, hingga bedah buku.
Pada rangkaian pembukaan, berbagai unsur pendidikan dan komunitas terlibat, seperti SMA Negeri 1 Pasaman, Sanggar Suryo Manunggal, My Rubel Literacy Center, SMP Negeri 1 Pasaman, Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Forum TBM, dan komunitas Read Aloud.
Keterlibatan siswa menjadi bagian penting karena mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga tampil sebagai pelaku literasi melalui kemampuan berbicara, membaca, menampilkan karya seni, dan menyampaikan gagasan.
Pada hari berikutnya, festival kembali menghadirkan kegiatan seni budaya, musikalisasi puisi, pembacaan puisi, bertutur, membaca nyaring, dan bedah buku yang melibatkan berbagai sekolah serta komunitas literasi.
Dari 51 TBM Menuju Gerakan Literasi Berdampak
Jumlah TBM yang besar menjadi kekuatan strategis Pasaman Barat dalam mengembangkan gerakan literasi berbasis masyarakat.
Keberadaan 51 TBM menunjukkan budaya membaca telah memiliki akar di tingkat komunitas. Setiap TBM menjadi simpul yang menghubungkan masyarakat dengan bahan bacaan, pengetahuan, dan kegiatan kreatif.
Melalui deklarasi yang dicetuskan pada 2021, juga telah dicanangkan terbentuknya 900 kantong literasi di seluruh Pasaman Barat pada 2030.
Melalui TBM, anak-anak dapat mengenal buku sejak dini, remaja memperoleh ruang berekspresi, sementara masyarakat dewasa dapat meningkatkan kemampuan literasi informasi.
Kekuatan tersebut membuat Pasaman Barat memiliki peluang besar menjadi salah satu daerah rujukan dalam pengembangan literasi berbasis masyarakat di Sumatera Barat.
Literasi tidak lagi berhenti pada kemampuan membaca teks, tetapi berkembang menjadi kemampuan membaca persoalan, memahami lingkungan, berpikir kritis, dan menciptakan solusi.
Seribu Guru Hebat, Sejuta Murid Literat
Penguatan literasi juga diarahkan pada peningkatan kapasitas guru dan siswa melalui kegiatan “Seribu Guru Hebat, Sejuta Murid Literat” yang melibatkan Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, PGRI Pasaman Barat, Pemda Pasaman Barat melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Bunda Literasi Pasaman Barat, serta Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Sumatera Barat.
Kegiatan tersebut dijadwalkan pada 10–11 Oktober 2026 di Simpang Ampek, dengan menghadirkan Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, sebagai narasumber utama. Sekitar 1.000 guru dan siswa ditargetkan mengikuti kegiatan ini.
Dalam format seminar literasi interaktif, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga mendapatkan pembelajaran tentang menemukan ide, menulis, mengembangkan karya, serta melakukan praktik literasi secara langsung.
Program ini bertujuan mendorong guru menjadi penggerak budaya literasi di sekolah sekaligus memberi ruang kepada siswa untuk berani menuangkan gagasan melalui tulisan. Lebih dari seribu buku bacaan bermutu juga akan diserahkan kepada peserta sebagai bagian dari merchandise.
Membangun Ekosistem Literasi yang Berkelanjutan
Salah satu kekuatan utama gerakan literasi Pasaman Barat adalah orientasinya terhadap keberlanjutan. Kegiatan literasi tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi diarahkan menghasilkan dampak jangka panjang.
Melalui konsep “1.000 Peserta, 1.000 Gagasan”, peserta didorong menghasilkan tulisan yang dapat dikembangkan melalui proses pengumpulan karya, kurasi, penyuntingan, hingga peluang publikasi.
Keberhasilan gerakan literasi tidak dapat dicapai oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, keluarga, dan masyarakat.
Dengan 51 TBM sebagai fondasi gerakan dan target 900 kantong literasi pada 2030, Pasaman Barat memiliki energi besar untuk membangun budaya membaca dan menciptakan masyarakat pembelajar.
Literasi bukan hanya tentang buku, tetapi tentang membangun manusia yang mampu berpikir, berkarya, dan memberi manfaat bagi lingkungannya.
Membaca menjadi pintu masuk untuk memperluas wawasan, sedangkan menulis menjadi sarana masyarakat menyampaikan gagasan dan berkontribusi.
Dari Pasaman Barat, gerakan membaca terus tumbuh. Dari masyarakat literat, lahir generasi hebat. []humasfpl
Editor: Riski Habibi