WAMENA, DETIKSATU.COM || Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se- Indonesia (IPMNI) Wamena bersama Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung, GAMKI dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Senat dari 9 kampus di Wamena, turun jalan melakukan aksi penggalangan dana kemanusiaan pada Selasa, 09 September 2026.
Aksi ini dilakukan untuk membantu keluarga korban dampak musim kemarau, bencana alam kekeringan, hujan embun beku dan hujan es yang melanda wilayah Kwiyawagi, sejak Juni hingga Agustus 2026.
Pantauan awak media, aksi penggalangan dana dipusatkan di beberapa titik strategis di Kota Wamena, di antaranya Jalan Pasar Baru, Jalan Yos Sudarso ujung perempatan depan Bank BRI, dan Jalan Irian. Mahasiswa terlihat sangat antusias menghentikan kendaraan dan pejalan kaki untuk meminta partisipasi donasi.
Setelah aksi turun jalan, seluruh mahasiswa kompak bergerak menuju Posko Sentral Tingkat Mahasiswa Provinsi Papua Pegunungan yang berkedudukan di Sekretariat DPC-IPMNI Wamena, Jalan Patimura Ujung. Di posko tersebut, Koordinator Lapangan (Korlap) telah menyediakan konsumsi dan makan siang bersama.
Korlap Permi Mijele juga mengundang awak media detiksatu.com untuk mendokumentasikan kegiatan serta menyampaikan pesan dan arahan terkait rencana aksi lanjutan yang akan kembali turun di beberapa titik jalan dalam Kota Wamena pada hari Kamis dan seterusnya.
Mewakili OKP GAMKI sekaligus mewakili BEM Senat 9 kampus, Stefan Pahabol dalam sambutannya menyampaikan, ajakan kepada seluruh mahasiswa yang berstudi di Jayawijaya, serta OKP dan 8 Korwil untuk ikut berpartisipasi.
"Saat ini Bapak/Mama, saudara-saudari kita di wilayah Kwiyawagi mereka sangat membutuhkan pangan, soal minum dan makan. Hari ini mereka rasakan pahit, susah makan, susah minum, lahan dan kebun mereka gagal panen akibat musim kemarau yang terjadi sejak bulan Juni hingga Agustus 2026. Pemulihan kembali kampung di sana membutuhkan jangka waktu panjang," ujar Stefan.
Ia menegaskan bahwa, bencana alam bisa terjadi di mana saja dan kapan saja tanpa dapat diprediksi manusia.
"Bencana alam seperti tahun ini di mana saja terjadi, kapan saja terjadi, kami sebagai manusia belum mengetahui hal itu. Bukan hanya terjadi di wilayah Kwiyawagi tetapi akan terjadi juga kami tidak tahu di Papua dan di Indonesia," ungkapnya.
"Oleh karena itu kami sebagai mahasiswa, atas dasar kemanusiaan, harus membantu dampak musim kemarau, kekeringan, hujan embun dan es di wilayah Kwiyawagi. Kami jangan diam, kita mahasiswa harus menyuarakan dan membantu sesuai profesi kami," tegasnya.
Stefan menambahkan, mahasiswa tidak boleh hanya berharap bantuan pemerintah datang.
"Kami juga jangan harap pemerintah saja datang membantu mereka, tetapi kami sebagai mahasiswa membantu mereka dengan salah satunya turun jalan aksi penggalangan dana," tutup Stefan Pahabol.
Diketahui, Posko Sentral masih membuka donasi umum tingkat mahasiswa provinsi Papua pegunungan yang berkedudukan sekretariat DPC-IPMNI Wamena,jl. Anggrek ujung SD Percobaan potikelek Wamena.(Saranus Kogeya)