Nias Lahemo,detiksatu.com || Sebuah kawasan bersejarah di Desa Lahemo, Kabupaten Nias, mulai diarahkan menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang mengangkat jejak leluhur, adat, serta peninggalan megalitikum masyarakat Nias.
Cagar Budaya HO, yang dideklarasikan pada 26 September 2026, digagas oleh sejumlah tokoh keturunan HO sebagai bagian dari upaya menjaga sejarah dan warisan leluhur. Kawasan ini dikenal dalam tradisi keturunan HO sebagai bagian dari sejarah asal-usul marga Waruwu, Gulo, Halawa, Ndraha, serta marga keturunan lainnya yang berada dalam keluarga besar HO.
Lebih dari sekadar kawasan wisata, Cagar Budaya HO diposisikan sebagai ruang untuk mengenal asal-usul, memahami hubungan kekerabatan, serta meneruskan nilai adat dan budaya kepada generasi berikutnya.
Kawasan tersebut memiliki karakter geografis berupa daratan berbukit dengan panorama alam di sekitarnya. Sejumlah peninggalan megalitikum juga menjadi bagian dari potensi yang dapat dikembangkan sebagai objek edukasi sejarah melalui papan informasi dan narasi sejarah pada titik-titik penting.
Pengembangan kawasan direncanakan dilakukan secara bertahap melalui PERKUMPULAN KONSERVASI CAGAR BUDAYA KETURUNAN HO. Pengelolaan tersebut diarahkan mencakup konservasi, edukasi sejarah, pengembangan kebudayaan, pariwisata, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Potensi ekonomi lokal juga menjadi bagian dari rencana pengembangan, mulai dari UMKM, kerajinan tangan, cendera mata, kuliner khas Nias, pertunjukan seni budaya hingga ekonomi kreatif.
Cagar Budaya HO terbuka bagi masyarakat Nias, keturunan HO, wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara, pelajar, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mengenal sejarah dan kebudayaan Nias.
Bagi pengunjung, kawasan ini menawarkan pengalaman untuk melihat peninggalan sejarah, menikmati panorama perbukitan, mengenal adat dan budaya Nias, sekaligus memahami pentingnya menjaga warisan leluhur.
Cagar Budaya HO berada di Jl. Tuada HO Km. 7.5, Desa Lahemo, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara.
Mengenal asal-usul, menghormati leluhur, melestarikan adat dan budaya, serta membangun masa depan. (Gaba'atulo Waruwu)