YOGYAKARTA, DETIKSATU.COM || Sejumlah pelaku usaha belakangan menyampaikan cerita mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha. Mulai dari persoalan pajak, pendataan penghasilan dari media sosial, hingga dugaan permintaan uang dan dugaan intimidasi.
Salah satunya datang dari pemilik usaha kuliner Bolosego, Dyah Fardisa atau yang akrab disapa Mbak Dy. Dalam video yang bered4r di media, Dyah menceritakan perjalanan usahanya yang menurut pengakuannya dibangun dari nol hingga kini mempekerjakan sekitar 180 karyawan.
Ia mengatakan Bolosego tetap memb4yar pajak dan menyebut nominal yang telah dibayarkan berada di atas 500 juta.
“Jangan kamu kira Bolosego tidak memb4yar pajak. Bolosego memb4yar pajak, angkanya lumayan besar, di atas 500 juta,” katanya.
Namun, menurut peng4kuannya, masih ada permintaan pembayaran dalam jumlah yang lebih besar, yakni sekitar 1,3 m hingga 1,5 m. Pernyataan tersebut juga diberitakan sejumlah media sebagai klaim dari Dyah, sementara rincian jenis pajak dan dasar penghitungannya masih perlu dilihat secara lengkap.
“Mereka mendrong Bolosego untuk memb4yar di atas 1,5 m atau 1,3 m,” ujarnya.
Dyah mengaku persoalan tersebut membuatnya sempat berada pada titik lelah hingga berpikir untuk kembali memulai usaha dari nol.
“Aku sampai di titik, ‘Sudah terser4h, ambil saja semua yang dimiliki Bolosego. Saya mulai lagi dari nol, enggak apa-apa,’” tuturnya.
Sementara itu, cerita berbeda disampaikan Ipda Purnomo, yang dikenal melalui kanal Yt Purnomo Belajar Baik.
Pada Senin, 28 September 2026, Purnomo mengaku kedatangan seorang tamu yang menurut keterangannya berasal dari pihak yang sering mengecek pengh4silan dari aktivitas media sosial.
“Sore ini saya kedatangan seorang tamu yang mengaku dari pihak yang sering mengecek-ngecek pengh4silan saya dari media sosial,” ujar Purnomo.
Ia mengatakan langsung memberikan rek agar pemasukan dan pengeluaran dari aktivitas media sosi4lnya dapat dilihat.
“Hari ini saya sampaikan, saya langsung kasih rek saya biar dicek penghasilan saya dari media sosial berapa, biar tahu keluar masuknya u4ng di rek saya,” lanjutnya.
Purnomo juga mengatakan dirinya tidak mengisi data yang diminta, tetapi memilih memberikan rek agar penghasilan media sosialnya.
“Sekali lagi saya enggak ngisi data, namun tak kasih rek saya biar langsung dicek penghasilan media sosial saya setiap bulannya berapa,” ungkapnya.
Berikutnya, keluhan mengenai pajak datang dari seorang pemilik warung bakso. Dalam video yang beredar, pemilik usaha tersebut mengaku mendapat tagihan paj4k sebesar 6 juta per bulan.
“Coba lihat warung bakso seperti ini mau diken4kan paj4k sebesar 6 jut4 per bulan. Sedangkan penghasilan saja cuma kisaran antara 1 juta per hari,” katanya.
Ia menjelaskan, omzet sekitar 1 juta per hari menurut perhitungannya masih merupakan pendapatan kotor dan harus dikurangi modal serta berbagai kebutuhan usaha.
“Kalau per hari itu segitu, itu aja baru kotor, belum besok untuk modal jualan. Ya kira-kira dapatnya cuma kisaran 300rb,” ujarnya.
Pemilik warung itu kemudian menghitung, apabila keuntungan bersih sekitar 300rb per hari, dalam sebulan jumlahnya sekitar 9 juta jika usaha ramai setiap hari.
Ia juga mengatakan harga satu porsi bakso di sekitar lokasi usahanya sekitar 10rb. Untuk mendapatkan omzet 1 juta sehari, menurut perhitungannya, dibutuhkan penjualan sekitar 100 mangkok.
“Kalau mau mengasih peraturan, mau memberi kebijakan, dilihat kondisinya,” katanya.
Menurutnya, kebijakan seharusnya mempertimbangkan kondisi usaha agar tidak hanya menguntungkan satu pihak.
“Secara kalau membuat peraturan itu ya yang menguntvngkan semua pihak, bukan menguntungkan salah satu pihak,” ujarnya.
Ia juga menyebut harga bahan baku yang terus meningkat membuat keuntungan usaha semakin terbatas.
“Sedangkan bahan baku sekarang sudah mulai naik semua. Harga 10rb untuk satu porsi mangkok bakso itu tuh sudah mepet harganya. Paling untungnya cuma sedikit. Khok malah mau dikasih pajak,” katanya.
Cerita lainnya datang dari pedagang Sate Padang di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, bernama Dayat.
Dayat mengaku memindahkan usahanya setelah menghadapi dugaan permint4an u4ng dari pihak yang disebutnya sebagai prem4n lokal. Dalam keterangannya kepada media, ia mengatakan awalnya diminta 20 jut4, kemudian memberikan lagi 60 jut4 sehingga total yang telah diserahkan mencapai 80 jut4. Sekitar sebulan kemudian, menurut Dayat, kembali muncul permintaan 170 jut4 yang tidak dipenuhinya.
Dayat bersama istrinya juga telah mendatangi Polsek Pondok Aren untuk memberikan penjelasan serta menunjukkan sejumlah bukti, termasuk percakapan Wa, bukti tf, dan voice note. Namun, saat itu ia mengatakan belum mengambil langkah pel4poran hukum dan masih mempertimbangkannya.
Dalam percakapan yang direk4m, Dayat menjelaskan al4san dirinya memilih pindah lokasi.
“Pindah. Ke sini al4sannya ap4 tu, Pak,” t4nya perekam.
“Wah, kalau pindah ke sini tuh al4sannya banyak... enggak banyak-banyak sih. Prem4n-prem4nnya gitu ya, udah c4pek, Pak,” jawab Dayat.
Ia kemudian mengaku persoalan tersebut berkaitan dengan permint4an u4ng yang menurutnya terjadi berulang.
Setelah pindah lokasi, Dayat mengatakan kondisi usahanya justru mengalami perubahan positif dari sisi pelanggan.
“Pelanggan lama, pelanggan baru juga ada,” lanjutnya.
Kisah dari keempat pel4ku usaha tersebut menunjukkan adanya persoalan yang berbeda-beda dalam menjalankan usaha.
Namun, seluruh angka, permintaan pembay4ran, maupun dugaan tek4nan dalam cerita tersebut merupakan keterangan dari pihak yang menyampaikannya dan perlu dilihat sesuai konteks serta bukti dan ketentuan yang berlaku.

