Banyuwangi,detiksatu.com ll Memasuki peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026, Monumen Pancasila Jaya di Dusun Cemetuk, Desa Cluring, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali dipadati peziarah. Ratusan pelajar, guru, ormas kepemudaan, hingga instansi pemerintah datang silih berganti untuk berdoa bersama, membaca tahlil, dan tabur bunga di tiga lubang bekas kuburan massal yang menelan 62 korban jiwa pada 18 Oktober 1965.
Bendera setengah tiang berkibar di area monumen yang dijuluki "Lubang Buaya-nya Banyuwangi" itu. Sejak pagi, rombongan pelajar dari tingkat TK, SD, MI, hingga MTs se-Kecamatan Cluring dan Gambiran sudah berdatangan. "Hari ini yang datang sangat banyak. Setiap 30 September dan 1 Oktober memang ramai seperti ini," ungkap Kepala Dusun Cemetuk, Agus Waluyo, Rabu (1/10).
Pemerintah Desa Cluring juga menggelar doa bersama yang diikuti seluruh pegawai desa dan lembaga kemasyarakatan. "Kami menggelar doa bersama pada siang hari, semua pegawai desa dan anggota lembaga desa ikut," kata Kepala Desa Cluring, Sunarto.
Bagi sekolah, kunjungan ke monumen menjadi bagian edukasi sejarah. Kepala MTs Maarif Plampangrejo, Sri Rahayu Ningsih, mengaku sengaja mengajak siswa dan dewan guru ke lokasi itu. "Dengan datang ke tempat bersejarah ini, para siswa dapat mengenal sejarah keganasan PKI yang telah membantai pemuda Ansor secara keji. Banyak diorama yang menggambarkan peristiwa itu," ujarnya.
Tragedi 18 Oktober 1965
Tepat di bawah patung Garuda Pancasila raksasa, prasasti monumen bertuliskan: "Di sini pada tanggal 18-10-1965, telah terjadi pembunuhan massal terhadap 62 orang Pemuda Ansor oleh kebiadaban G30S/PKI." Enam puluh dua jenazah tersebut ditemukan di tiga lubang — masing-masing berisi 40, 11, dan 11 korban — setelah tim gabungan TNI/Polri menggali lokasi itu tiga hari pasca-peristiwa. Seluruh jenazah kemudian dievakuasi dan dikembalikan ke keluarga di Kecamatan Muncar untuk dimakamkan secara layak.
Para korban adalah pemuda anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor asal Muncar yang pada masa itu dikenal gigih mempertahankan ideologi Pancasila. Wilayah Cemetuk dan sekitarnya, termasuk Karangasem, merupakan basis kuat Partai Komunis Indonesia (PKI) di Banyuwangi selatan.
Dua versi yang masih berkembang
Juru kunci Monumen Pancasila Jaya, Sapingi (68), yang tinggal bersebelahan dengan lokasi monumen, menuturkan bahwa hingga kini ada dua versi cerita yang berkembang di masyarakat.
Versi pertama menceritakan bentrokan bersenjata: sekelompok Pemuda Ansor dari Muncar menyerang basis PKI di Karangasem (kini Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran), namun kalah karena pihak PKI menggunakan senjata api. Mereka yang selamat lalu melarikan diri ke arah Cemetuk dan gugur di sana. "Cerita perang inilah yang menurut saya paling relevan, sebab banyak orang yang mengetahui dan bisa dinalar," kata Sapingi.
Versi kedua, yang paling luas beredar di masyarakat, adalah jebakan pengajian beracun: para pemuda Ansor diundang pengajian dengan mengatasnamakan NU, lalu makanan yang disajikan — konon diracun oleh kader Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat — membuat mereka lemah sebelum dihabisi. "Kalau cerita ini, saya agak ragu, sebab orang PKI kok ikut pengajian," tambah Sapingi.
Rekonstruksi akademik yang mengutip sumber sejarawan lokal (Noer, 2011) justru menggambarkan gabungan keduanya: bentrokan di Karangasem terjadi lebih dulu, lalu pelarian yang terluka dipancing ke rumah Matulus — Kepala Desa Cluring sekaligus tokoh PKI — dengan suguhan makanan beracun, sebelum akhirnya dibunuh di rumah tokoh PKI/BTI bernama Mangun Lehar.
Monumen swadaya, pengingat persatuan
Monumen Pancasila Jaya dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1994. Sebelumnya, lokasi tiga lubang itu tak terurus dan ditumbuhi banyak bambu. Kini, selain patung Garuda dan diorama, pengunjung dapat melihat langsung tiga sumur/lubang bekas kuburan massal yang dipertahankan sebagai saksi bisu.
Peristiwa Cemetuk sendiri menjadi pemicu gelombang kekerasan yang lebih besar di Banyuwangi pasca-G30S. Sejumlah catatan akademik mencatat, setelahnya ribuan simpatisan PKI menjadi korban pembunuhan di wilayah selatan Banyuwangi, dengan mayat dibuang di Ngarai Tangis (Baluran) dan lereng Gunung Gumitir.
Bagi generasi muda yang datang berziarah, tragedi 61 tahun lalu itu diharapkan bukan hanya menjadi ingatan kelam, melainkan pelajaran berharga agar perpecahan ideologi tidak lagi menimbulkan pertumpahan darah sesama anak bangsa.
"Intinya, sejarah ini harus diketahui agar tidak terulang lagi. Persatuan bangsa harus kita jaga," pungkas Agus Waluyo.(Roan)