Kendari,detiksatu.com || Penyelenggaraan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Laskar Gerindra Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2026 lalu menyisakan persoalan serius. Di balik klaim suksesnya kegiatan yang melibatkan sekitar 300 peserta dari berbagai kabupaten/kota tersebut, muncul masalah krusial terkait kewajiban anggaran pelaksanaan yang diduga belum diselesaikan.
Informasi ini diungkapkan oleh salah seorang anggota panitia yang enggan disebutkan namanya kepada awak media di Kendari, Senin (2/11/2026).
Persoalan ini tidak hanya berdampak pada pihak eksternal, tetapi juga menyangkut hak-hak internal. Honor bagi sejumlah panitia dan kader yang telah mencurahkan tenaga dan waktu untuk menyukseskan acara tersebut dilaporkan belum dibayarkan hingga saat ini.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan tajam mengenai tata kelola keuangan dan komitmen tanggung jawab panitia penyelenggara. Publik dan para kader mempertanyakan bagaimana kegiatan pendidikan politik yang membawa nama besar partai masih menyisakan beban utang, terlebih adanya informasi bahwa anggaran sempat mengalami penambahan menjelang detik-detik akhir kegiatan.
Soroti Kontradiksi dengan Citra Partai Transparan
Diklat kader sejatinya menjadi wadah pendidikan ideologi, konsolidasi, dan pembentukan karakter kepemimpinan. Namun, carut-marut administrasi keuangan ini dinilai berpotensi mencederai nilai-nilai dasar perjuangan partai serta mengabaikan apresiasi terhadap kerja keras kader di lapangan.
Persoalan ini juga dinilai kontradiktif dengan citra publik Partai Gerindra. Sebagai catatan, partai ini sebelumnya pernah dinobatkan sebagai salah satu partai politik paling transparan dalam pengelolaan dan keterbukaan informasi keuangan berdasarkan penilaian Transparency International Indonesia (TII) bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Ini bukan sekadar persoalan nominal uang, melainkan tentang komitmen, tanggung jawab moral, dan penghargaan terhadap kerja kader. Jangan sampai semangat pengabdian hanya dijadikan slogan di forum pendidikan, sementara hak-hak dasar panitia dan kader justru diabaikan," tegas sumber tersebut.
Dikonfirmasi Terkait Masalah Anggaran, Penanggung Jawab Beri Respons Santai
Terkait temuan dan keluhan tersebut, awak media berupaya melakukan konfirmasi kepada oknum berinisial IS selaku penanggung jawab kegiatan Diklat Laskar Gerindra Sultra melalui pesan WhatsApp.
Alih-alih memberikan penjelasan atau klarifikasi substantif, respons yang diberikan oleh IS justru dinilai kurang kooperatif. Dalam balasannya melalui pesan singkat, IS menyertakan emotikon tertawa dan menyatakan bahwa opini dijadikan berita. Ia juga enggan memberikan klarifikasi lewat pesan teks dan meminta agar pertemuan dilakukan secara langsung.
Sikap tersebut menuai kekecewaan dari kalangan jurnalis yang tengah menjalankan fungsi kontrol sosial dan keberimbangan informasi (cover both sides) dalam pemberitaan ini. Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia penyelenggara belum memberikan keterangan resmi secara rinci mengenai kejelasan penyelesaian kewajiban anggaran maupun hak-hak kader yang dipersoalkan.
Laporan: Salim KS