Metty Triantika Soroti Masa Depan Seni Rupa Cianjur, Ekosistem Seniman Diminta Tak Berhenti pada Pameran

Metty Triantika Soroti Masa Depan Seni Rupa Cianjur, Ekosistem Seniman Diminta Tak Berhenti pada Pameran

November 08, 2026 | November 08, 2026 WIB Last Updated 2026-11-08T05:26:30Z

Cianjur,detiksatu.com || Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Ir. Hj. Metty Triantika, M.T., mendorong penguatan ekosistem seni rupa agar para seniman memiliki ruang berekspresi dan kesempatan berkarya secara berkelanjutan. Menurut dia, perkembangan seni dan kebudayaan tidak cukup hanya ditopang kegiatan pameran yang bersifat seremonial.

Hal itu disampaikan Metty saat menghadiri pembukaan pameran tunggal perupa Widhi NRS bertajuk Fragmensia #1: Lika-Liku Laku di Art Space by Dewan Kesenian Cianjur (DKC), Gedung Dewan Kesenian Cianjur, Jalan Slamet, Kelurahan Bojongherang, Sabtu (7/11/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Metty mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang menghadirkan 25 karya figuratif dalam medium dua dan tiga dimensi. Ia berharap ruang seni seperti Art Space by DKC dapat terus dikembangkan sehingga menjadi wadah bagi para perupa untuk memperkenalkan karya sekaligus membangun interaksi dengan masyarakat.

Metty juga mengaitkan perkembangan seni dengan arah pembangunan daerah. Dengan latar belakang pendidikan planologi, ia memandang identitas sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh pembangunan infrastruktur dan penataan fisik, tetapi juga oleh kehidupan kebudayaan yang berkembang di dalamnya.

Saat mengamati karya-karya Widhi, Metty mendapat penjelasan langsung dari kurator Novandy Fiardillah atau Novan mengenai gagasan, simbol, dan proses kreatif yang melatarbelakangi karya tersebut.

Pameran Tunggal Perdana Setelah 15 Tahun Berkarya

Ketua Umum DKC, Benben Bella, melalui surat undangan kepada Metty menjelaskan bahwa pameran tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni rupa, memperluas jaringan industri kreatif, serta menyediakan ruang representatif bagi seniman Cianjur.

Direktur Art Space by DKC, Alexander Chris, bersama jajaran DKC turut menyampaikan apresiasi atas perhatian terhadap perkembangan seni dan kebudayaan di Kabupaten Cianjur.

Fragmensia #1: Lika-Liku Laku menjadi penyelenggaraan keempat dalam program Art Space by DKC. Namun, pameran ini memiliki arti khusus bagi Widhi karena menjadi pameran tunggal pertamanya setelah lebih dari satu setengah dekade menekuni dunia seni rupa.

Nama Fragmensia merupakan akronim dari Fragmen Manusia. Melalui pameran tersebut, Widhi memperlihatkan perkembangan perjalanan artistiknya, dari pendekatan abstrak ekspresif menuju penggambaran figur manusia yang diperkaya simbolisme.

Perubahan pendekatan itu menjadi bagian dari proses kreatifnya dalam mengeksplorasi pengalaman emosional dan dinamika psikologis manusia.

“Hal yang saya garis bawahi dalam pameran ini adalah bagaimana cara kita merespons dinamika psikologis yang ada dalam pikiran kita selaku manusia,” kata Widhi.

Kurator Novandy Fiardillah menjelaskan, terdapat lima suasana batin yang menjadi gagasan utama pameran, yakni kesedihan, penyangkalan, kemarahan, ketenangan, dan penerimaan.

Konsep tersebut juga diterjemahkan melalui penataan ruang pamer. Penggunaan warna biru, misalnya, dimaksudkan untuk menghadirkan kesan lega yang merepresentasikan fase penerimaan.

Seni dan Identitas Budaya Cianjur

Pembukaan pameran turut dihadiri sejumlah tokoh seni, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Di antaranya Tatang Setiadi atau Abah Tatang, maestro seni tradisi Sunda asal Cianjur yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 kategori Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbudristek.

Hadir pula Prof. Dr. Ir. H. Ika Djatnika, akademisi bidang pertanian yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan Sunda, serta Dr. Ismet Zainal Effendi dari Universitas Maranatha Bandung yang menyampaikan pidato pembukaan.

Sejumlah tokoh lainnya adalah Neng Wina Resky Agustina, dosen Transformasi Budaya Sunda Universitas Suryakancana sekaligus Ketua Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia, serta Saep Lukman, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Cianjur.

Dalam pidato pembukaannya, Ismet menekankan pentingnya apresiasi seni untuk membangun kepekaan masyarakat terhadap nilai estetika di lingkungan sekitarnya.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat Cianjur memiliki tradisi estetis yang luhur dan perlu terus dikenali serta dipelihara sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan daerah.

“Orang Cianjur juga sejatinya memiliki tradisi estetis yang luhur, khususnya digambarkan lewat pilar budaya kita,” ujar Ismet.

Pameran Fragmensia #1: Lika-Liku Laku dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026. Selain memamerkan karya seni rupa, penyelenggara juga menghadirkan klinik pendampingan, bincang seniman, serta lokakarya pewarnaan dan pelukisan di atas keramik hasil kolaborasi Widhi dengan Pancaniti Keramik.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap seni rupa sekaligus membuka ruang pertemuan antara seniman, akademisi, dan publik.

Keberlanjutan program menjadi tantangan berikutnya bagi perkembangan seni rupa di Cianjur. Ketersediaan ruang pamer perlu diikuti kesempatan berkarya, pendampingan, perluasan apresiasi, dan dukungan terhadap para pelaku seni.

Dengan demikian, kegiatan seni tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan dan identitas Kabupaten Cianjur.(Bet-08)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Metty Triantika Soroti Masa Depan Seni Rupa Cianjur, Ekosistem Seniman Diminta Tak Berhenti pada Pameran

Trending Now