Surabaya,detiksatu.com || Polemik debu atau limbah tolato yang diduga berasal dari aktivitas PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) melalui PG Asembagus kembali mencuat. Keluhan masyarakat yang selama ini terdampak debu tersebut kini dibawa langsung ke meja manajemen SGN di Jalan Merak, Surabaya, Rabu (12/8/2026).
Aliansi Media Peduli Situbondo datang dengan membawa aspirasi masyarakat Asembagus yang merasa terganggu oleh persoalan debu tolato dari aktivitas pabrik gula.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk keseriusan aliansi dalam menindaklanjuti berbagai keresahan yang berkembang di tengah masyarakat.
Mereka tidak ingin persoalan yang menyangkut kenyamanan warga hanya berakhir sebagai keluhan tanpa penyelesaian.
Pertemuan dengan pihak SGN berlangsung dengan baik.
Namun, setelah seluruh persoalan disampaikan, Aliansi Media Peduli Situbondo mengaku belum mendapatkan kepastian mengenai solusi konkret yang akan dilakukan untuk menjawab keluhan masyarakat.
Kondisi tersebut dinilai menjadi persoalan tersendiri.
Sebab, masyarakat membutuhkan tindakan nyata, bukan hanya forum pertemuan dan penerimaan aspirasi.
Ketua Aliansi Media Peduli Situbondo menegaskan bahwa kedatangan mereka ke kantor SGN bukan untuk mencari konflik dengan perusahaan.
Sebaliknya, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan suara masyarakat benar-benar sampai kepada pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
“Kami datang bukan untuk mencari keributan. Kami membawa suara masyarakat. Yang kami harapkan bukan sekadar aspirasi diterima, tetapi ada solusi nyata,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan debu tolato tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil apabila dampaknya terus dirasakan masyarakat di sekitar wilayah PG Asembagus.
Ia meminta manajemen SGN dan PG Asembagus tidak hanya melihat persoalan dari sisi operasional perusahaan, tetapi juga memperhatikan dampak aktivitas produksi terhadap lingkungan dan kenyamanan warga.
Sorotan juga diarahkan kepada jajaran manajemen PG Asembagus.
Ketua Aliansi menilai General Manager (GM) memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan persoalan yang muncul dalam proses produksi dapat ditangani dengan baik.
Tidak hanya GM, posisi KAKAM juga turut menjadi perhatian.
Menurutnya, jajaran terkait seharusnya mampu membangun komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat sehingga persoalan di lapangan tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan.
“Kalau persoalan terus muncul dan masyarakat tetap merasa dirugikan, tentu kinerja pejabat yang bertanggung jawab harus dievaluasi,” ujarnya.
Bahkan, Aliansi Media Peduli Situbondo mendorong agar SGN melakukan evaluasi terhadap jajaran manajemen PG Asembagus, termasuk GM dan KAKAM, apabila dinilai tidak mampu menyelesaikan persoalan yang terjadi.
Menurut aliansi, evaluasi bukan bentuk tekanan terhadap perusahaan, melainkan bagian dari upaya memastikan setiap pejabat yang memegang tanggung jawab mampu menjalankan tugasnya secara maksimal.
“Kalau memang tidak mampu menyelesaikan persoalan dan polemik terus berulang, jangan alergi terhadap evaluasi. Bahkan kalau perlu, pejabat yang bersangkutan mempertimbangkan untuk mundur,” tegas Ketua Aliansi.
Ia menambahkan, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Jangan sampai, lanjutnya, masyarakat justru menjadi pihak yang harus menanggung dampak dari aktivitas industri, sementara penyelesaian terhadap keluhan berjalan lambat.
Aliansi juga menegaskan bahwa kedatangan ke kantor SGN merupakan bagian dari langkah awal untuk mendorong penyelesaian secara terbuka dan bertanggung jawab.
Mereka berharap SGN tidak berhenti pada menerima laporan, tetapi segera melakukan langkah konkret untuk mengetahui sumber persoalan sekaligus mencari solusi terhadap debu tolato yang dikeluhkan masyarakat.
Persoalan tersebut kini menjadi ujian bagi manajemen SGN dan PG Asembagus dalam merespons keluhan masyarakat. Terlebih, aspirasi tersebut telah disampaikan langsung ke tingkat manajemen di Surabaya.
Aliansi Media Peduli Situbondo menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga terdapat kejelasan mengenai langkah penyelesaian yang dilakukan perusahaan.
Kini bola berada di tangan SGN dan manajemen PG Asembagus.
Apakah keluhan masyarakat akan benar-benar dijawab dengan tindakan nyata, atau kembali berhenti sebagai tumpukan aspirasi di atas meja? Masyarakat Asembagus kini menunggu jawabannya. (Agus)