Guru Besar Unpad: Erupsi Gunung Api Tak Saling Berkaitan, Kesiapsiagaan Bencana Harus Diperkuat

Guru Besar Unpad: Erupsi Gunung Api Tak Saling Berkaitan, Kesiapsiagaan Bencana Harus Diperkuat

September 07, 2026 | September 07, 2026 WIB Last Updated 2026-09-07T04:37:32Z

CIANJUR,DETIKSATU.COM || Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Ir. H. Nana Sulaksana, MSP., mengatakan aktivitas erupsi sejumlah gunung api yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak serta-merta menunjukkan adanya keterkaitan langsung secara geologi.

Pernyataan itu disampaikan Nana dalam wawancara khusus pada Senin (7/9/2026), menyikapi sejumlah kejadian bencana geologi di Indonesia, mulai dari gempa bumi hingga peningkatan aktivitas beberapa gunung api.

Nana menjelaskan setiap gunung api memiliki sistem magmatik masing-masing. Perbedaan tersebut mencakup kedalaman sumber magma, jalur pergerakan magma, kondisi batuan yang dilalui, proses diferensiasi magma, hingga komposisi dan tingkat kekentalan magma.

"Berbagai aktivitas gunung api walaupun jaraknya berdekatan, masing-masing mempunyai sistem yang berbeda, baik kedalaman dapur magmanya maupun komposisi magmanya. Karena itu tidak ada hubungan langsung," kata Nana.

Menurut dia, karakteristik sistem magma tersebut turut menentukan tipe erupsi yang terjadi pada masing-masing gunung api. Karena itu, peningkatan aktivitas pada satu gunung tidak dapat secara otomatis dijadikan indikator bahwa gunung api lain di wilayah berbeda akan mengalami erupsi.

Indonesia, kata Nana, memang memiliki tingkat kerawanan bencana geologi yang tinggi karena berada di kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik dan bagian dari kawasan Cincin Api Pasifik.

Konsekuensinya, masyarakat Indonesia menghadapi potensi berbagai bencana geologi, termasuk gempa bumi dan erupsi gunung api. Namun, kondisi geologi tersebut juga memberikan potensi sumber daya alam, seperti energi panas bumi, sumber daya mineral dan sumber daya pesisir.

"Karena kita pada posisi geologi yang demikian, kita selalu harus meningkatkan kesiapsiagaan bencana menjadi masyarakat yang tangguh bencana," ujarnya.

Nana mengatakan peningkatan aktivitas gunung api dapat dipantau melalui sejumlah parameter yang diamati secara terus-menerus. Salah satunya adalah aktivitas kegempaan yang berkaitan dengan pergerakan magma di dalam tubuh gunung api.

Pemantauan seismik dilakukan menggunakan seismograf yang dipasang di sejumlah titik pada tubuh gunung api. Data tersebut digunakan untuk mendeteksi perubahan aktivitas kegempaan dan indikasi pergerakan magma menuju permukaan.

Selain seismik, pemantauan dilakukan terhadap perubahan bentuk atau deformasi tubuh gunung api. Pengukuran dapat dilakukan menggunakan instrumen geodetik yang terhubung dengan sistem satelit seperti GPS untuk mengetahui perubahan posisi tubuh gunung secara lebih terukur.

"Pergerakan tubuh gunung api secara mikro diukur dengan alat geodetik yang dipasang pada tubuh gunung api serta terhubung dengan satelit GPS," kata Nana.

Pemantauan visual juga menjadi bagian penting. Pengamat gunung api mengamati perubahan kepulan atau emisi yang keluar dari kawah, termasuk perubahan karakter asap dan material yang terbawa ke udara.

Nana menjelaskan kepulan berwarna putih pada kondisi tertentu dapat menunjukkan dominasi uap, sedangkan perubahan karakter emisi yang membawa material vulkanik dapat menjadi salah satu tanda yang perlu dianalisis bersama parameter lainnya.

Pengamatan saat ini juga semakin diperkuat dengan penggunaan kamera pemantau atau CCTV yang memungkinkan aktivitas gunung api diamati secara lebih luas dan berkelanjutan.

Selain itu, analisis multi-gas digunakan untuk membantu mengetahui perubahan kondisi gas vulkanik. Riwayat erupsi, peta geologi gunung api dan karakter letusan masa lalu juga menjadi bahan pertimbangan dalam analisis status aktivitas gunung.

"Seluruh variabel sebagai tanda-tanda akan terjadi erupsi sudah dimanfaatkan secara optimal dalam pemantauan gunung api di Indonesia," ujarnya.

Nana menilai sistem pemantauan dan mitigasi erupsi gunung api di Indonesia telah berjalan sesuai prosedur. Menurut dia, pemantauan intensif dilakukan terhadap gunung api yang mengalami peningkatan aktivitas, termasuk melalui penetapan status aktivitas sesuai hasil pengamatan dan analisis.

Dia juga mengapresiasi koordinasi antara instansi yang menangani aktivitas vulkanik dengan otoritas penerbangan ketika terjadi erupsi yang berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan.

Menurut Nana, langkah tersebut merupakan bagian penting dari penerapan sistem peringatan dini atau early warning system, terutama ketika material erupsi berpotensi mengganggu jalur penerbangan.

"Kita sangat mengapresiasi kerja Direktorat Vulkanologi yang dengan cepat dan tepat telah berkoordinasi langsung dengan otoritas penerbangan sehingga keselamatan penerbangan menjadi bagian dari upaya mitigasi bahaya letusan gunung api," katanya.

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi salah satu perhatian karena dampaknya dirasakan di sejumlah wilayah dan berpotensi mengganggu berbagai aktivitas, termasuk penerbangan.

Nana mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan paparan abu vulkanik. Menurut dia, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa karena dapat mengandung partikel mineral silikat berukuran sangat kecil yang terbentuk dalam proses erupsi.

Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik dianjurkan menggunakan perlindungan seperti masker dan kacamata ketika melakukan aktivitas di luar ruangan sesuai dengan arahan otoritas terkait.

Nana menilai penguatan kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan sistem pemantauan dan peringatan dini. Pengetahuan masyarakat mengenai ancaman bencana juga perlu terus ditingkatkan.

Menurut dia, pendidikan kebencanaan perlu diberikan secara berkelanjutan, termasuk kepada anak-anak sekolah yang tinggal di kawasan rawan bencana. Materi tersebut perlu disesuaikan dengan karakter ancaman di wilayah masing-masing.

"Yang diperlukan secara menerus adalah mengingatkan dan bahkan memberikan pelajaran pemahaman kepada masyarakat, anak-anak sekolah sejak dini, pendidikan kebencanaan di sekitar tempat tinggal sehingga masyarakat akan meningkatkan terbentuknya masyarakat tangguh bencana," ujar Nana.

Dia menilai mitigasi dan sistem peringatan dini pada bencana gunung api merupakan salah satu sektor kebencanaan yang telah diterapkan secara baik di Indonesia. Namun, kesiapsiagaan masyarakat tetap perlu diperkuat agar informasi peringatan dini dapat diikuti dengan tindakan yang tepat.

"Harus diakui bahwa dari bencana geologi, upaya mitigasi early warning system yang saat ini sudah sangat baik diterapkan adalah di dalam kebencanaan gunung api," kata Nana.

Nana menegaskan masyarakat perlu menjadikan peta zona risiko gunung api sebagai salah satu rujukan utama dalam menentukan aktivitas dan jarak aman dari kawasan rawan bencana.

Dengan kondisi geologi Indonesia yang memiliki potensi gempa dan erupsi, kesiapsiagaan, kepatuhan terhadap informasi resmi, pemantauan berkelanjutan, serta pendidikan kebencanaan dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko korban dan kerugian ketika bencana terjadi. (Bet)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Guru Besar Unpad: Erupsi Gunung Api Tak Saling Berkaitan, Kesiapsiagaan Bencana Harus Diperkuat

Trending Now