Gunungsitoli,detiksatu.com || Ambruknya tembok pagar sepanjang kurang lebih 50 meter di kawasan proyek revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias, Desa Faekhu, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli, Kini Hebohkan Masyarakat dan memicu perhatian publik.
Tembok pagar yang disebut baru dibangun tersebut dilaporkan roboh pada Selasa, 25 Agustus 2026. Peristiwa itu terjadi di tengah pelaksanaan proyek revitalisasi sekolah yang disebut memiliki nilai kontrak mencapai Rp87.340.621.189,12.
Keruntuhan pagar tersebut kini tidak hanya menyisakan puing-puing bangunan, tetapi juga melahirkan sejumlah pertanyaan mengenai mutu konstruksi, kesesuaian material, pengawasan pekerjaan dan kepatuhan terhadap spesifikasi teknis proyek.
Sorotan datang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pedang Keadilan Perjuangan (PKP).
Wakil Sekretaris LSM PKP, Yason Yonata Gea, S.Pd., meminta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), konsultan pengawas, Direksi PT Razasa Karya selaku pelaksana proyek, serta instansi teknis terkait segera melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Menurut Yason, hasil pengamatan pihaknya di lokasi menemukan kondisi yang dinilai perlu mendapatkan pemeriksaan teknis lebih lanjut, termasuk dugaan tidak adanya besi tulangan atau sistem pengikat pada bagian tembok yang roboh.
«“Berdasarkan pengamatan langsung di lokasi, tembok pagar yang roboh itu panjangnya kurang lebih sekitar 50 meter. Yang sangat mencurigakan sekaligus mengkhawatirkan adalah tembok tersebut diduga tidak memiliki besi tulangan sebagai pengikat,” ujar Yason, Senin (31/8/2026).»
Meski demikian, Yason menekankan bahwa dugaan tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, bukan semata-mata berdasarkan pengamatan visual.
Menurutnya, tenaga ahli independen perlu dilibatkan untuk memeriksa struktur bangunan, termasuk keberadaan kolom praktis, balok pengikat, tulangan, kualitas beton, material serta kesesuaiannya dengan gambar kerja dan spesifikasi teknis yang tercantum dalam dokumen kontrak.
«“Kalau benar tidak ada pengikat sebagaimana dipersyaratkan dalam desain, tentu ini harus dipertanyakan. Struktur yang tidak memiliki sistem pengikat memadai akan lebih rentan terhadap beban maupun pergerakan,” katanya.»
Pagar Roboh, Pengawasan Proyek Ikut Dipertanyakan
Bagi LSM PKP, ambruknya pagar sepanjang sekitar 50 meter tidak semestinya dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri.
Peristiwa tersebut dinilai dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi terhadap bagian pekerjaan lainnya.
«“Kalau tembok pagar saja yang merupakan bagian relatif ringan sudah mengalami keruntuhan dalam waktu singkat, maka publik berhak mempertanyakan bagaimana pengawasan terhadap pekerjaan lainnya, termasuk pondasi, kolom, balok, lantai, dan bagian struktur utama,” tegas Yason.»
Ia meminta semua pihak menahan diri untuk tidak menyimpulkan penyebab keruntuhan sebelum dilakukan pemeriksaan teknis.
Sejumlah pertanyaan menurutnya harus dijawab melalui data dan hasil pengujian.
«“Apakah benar tembok itu dibangun tanpa tulangan? Apakah materialnya sesuai spesifikasi? Apakah mutu betonnya memenuhi persyaratan? Semua harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, bukan sekadar pernyataan,” ujarnya.»
Sorotan Sebelumnya Kembali Mencuat
Ambruknya pagar juga kembali mengangkat sejumlah persoalan yang sebelumnya disampaikan LSM PKP berdasarkan penelusuran di lokasi pada 3 Agustus 2026.
Di antaranya dugaan penggunaan tanah timbun yang belum dilengkapi izin resmi, penggunaan pasir dari kawasan muara Desa Ononamolo I Lot yang disebut berpotensi mengandung garam, pengecoran ketika hujan lebat, penggunaan material bekas pembongkaran sebagai timbunan, serta persoalan pengawasan mutu dan perizinan.
LSM PKP sebelumnya juga menyoroti pernyataan pihak humas proyek yang, menurut rilis tersebut, menyatakan bahwa bahan apa pun yang datang akan diterima dan persoalan mutu, kualitas maupun perizinan bukan menjadi urusannya.
Namun, seluruh dugaan dan informasi tersebut masih membutuhkan verifikasi serta klarifikasi dari pihak pelaksana proyek, konsultan pengawas, PPK dan instansi teknis terkait.
LSM PKP Desak Pemeriksaan Independen
Yason meminta PPK dan tim pengawas segera turun ke lapangan melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Pemeriksaan tersebut, kata dia, harus mencakup struktur pagar maupun bagian pekerjaan lainnya yang dianggap memiliki risiko.
«“Cek setiap bagian pekerjaan. Apakah besi tulangan ada sebagaimana mestinya? Apakah beton memenuhi mutu yang ditetapkan? Apakah material yang digunakan sesuai hasil pengujian laboratorium? Semua harus dibuka secara transparan,” katanya.»
LSM PKP juga meminta Direksi PT Razasa Karya segera menurunkan tim teknis untuk mengevaluasi konstruksi yang roboh dan melakukan perbaikan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi.
Tidak berhenti di situ, LSM PKP meminta pembayaran pekerjaan ditangguhkan hingga dilakukan pemeriksaan atau audit independen.
«“Jangan keluarkan satu rupiah pun sebelum ada audit atau pemeriksaan independen yang membuktikan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi kontrak. Membayar pekerjaan yang belum terbukti memenuhi standar harus menjadi perhatian serius,” tegas Yason.»
Enam Pertanyaan yang Menunggu Jawaban
Ambruknya pagar sepanjang sekitar 50 meter kini setidaknya memunculkan sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban terbuka.
Pertama, apakah benar konstruksi tembok pagar tersebut tidak menggunakan besi tulangan atau sistem pengikat sebagaimana dipersyaratkan dalam desain?
Kedua, apabila terdapat perubahan atau pengurangan spesifikasi, siapa yang memberikan persetujuan?
Ketiga, bagaimana fungsi konsultan pengawas dalam memastikan setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai gambar kerja dan spesifikasi teknis?
Keempat, apakah PPK mengetahui kondisi konstruksi pagar sebelum terjadi keruntuhan?
Kelima, bagaimana tanggung jawab PT Razasa Karya sebagai pelaksana proyek terhadap konstruksi yang roboh?
Keenam, apakah Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap proyek revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias?
Pertanyaan tersebut kini menjadi perhatian publik dan menunggu jawaban dari pihak-pihak yang berwenang.
“Jangan Tunggu Sampai Ada Korban”
Yason menegaskan LSM PKP tidak menolak pembangunan maupun program revitalisasi sekolah.
Menurutnya, yang dipersoalkan adalah kualitas pekerjaan, transparansi, pengawasan dan aspek keselamatan.
«“Kami tidak menolak pembangunan. Kami hanya menolak pembangunan yang mengorbankan keselamatan anak-anak kita demi keuntungan sesaat,” ujarnya.»
Ia mengingatkan bahwa proyek tersebut bukan hanya menyangkut anggaran negara dalam jumlah besar, tetapi juga menyangkut keselamatan siswa, guru dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan pembangunan.
«“Yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran negara sekitar Rp87 miliar, tetapi juga keselamatan siswa dan guru. Jangan sampai pemeriksaan dilakukan setelah terjadi sesuatu yang lebih besar,” tegas Yason.»
Karena itu, LSM PKP mendesak pemerintah dan pihak terkait melakukan pemeriksaan teknis menyeluruh, termasuk pengujian material maupun pemeriksaan struktur apabila diperlukan.
Tujuannya untuk memastikan seluruh pekerjaan benar-benar sesuai dengan dokumen kontrak, gambar kerja, spesifikasi teknis dan standar yang berlaku.
PT Razasa Karya Belum Memberikan Klarifikasi
Hingga berita ini diturunkan, PT Razasa Karya maupun pihak terkait lainnya belum memberikan klarifikasi atas pernyataan LSM PKP mengenai ambruknya tembok pagar sepanjang sekitar 50 meter maupun dugaan tidak adanya besi tulangan.
Konfirmasi dari pihak pelaksana, PPK, konsultan pengawas dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara dinilai penting untuk memberikan keseimbangan informasi sekaligus menjelaskan penyebab keruntuhan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis.
Publik kini menunggu langkah konkret.
Apakah pagar yang roboh hanya akan dibangun kembali, atau peristiwa tersebut akan menjadi pintu masuk untuk memeriksa keseluruhan pekerjaan proyek revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias?
Sebab, yang ambruk mungkin hanya 50 meter pagar. Namun pertanyaan publik kini jauh lebih panjang.
Mutu pekerjaan, pengawasan, spesifikasi teknis, material, tanggung jawab hingga keselamatan proyek menjadi sejumlah aspek yang kini menunggu jawaban.(A Lyince.w)