Medan,detiksatu.com || Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan berbagai konflik yang masih terjadi di sejumlah kawasan dunia, Perwakilan Se-Sumatera Reclasseering Indonesia menyampaikan seruan terbuka untuk membangun perdamaian dunia yang berlandaskan kemanusiaan, kesetaraan, keamanan, dan kesejahteraan.
Ketua Perwakilan Reclasseering Indonesia Se-Sumatera, Sandi Hamonangan Parlindungan Nasution, ST., menegaskan bahwa manusia tidak boleh dinilai berdasarkan bangsa, warna kulit, wilayah, maupun status sosial.
“Seluruh manusia di bumi adalah setara dalam kemanusiaan. Setiap manusia memiliki hak untuk hidup dalam keamanan, mendapatkan kesejahteraan, memperoleh keadilan, dan dihormati martabatnya,” ujar Sandi.
Menurut Sandi, salah satu tantangan besar dunia saat ini adalah konflik yang lahir dari kepentingan, persaingan, dan ego antarnegara. Karena itu, diperlukan keberanian untuk membangun paradigma baru dalam hubungan antarbangsa, dengan menempatkan kepentingan kemanusiaan sebagai dasar utama.
Membuka Batas, Membuka Jalan Perdamaian
Reclasseering Indonesia menyampaikan gagasan untuk membuka batas-batas pemikiran mengenai wilayah dan kepentingan negara yang selama ini kerap menjadi salah satu faktor dalam berbagai konflik.
Namun, gagasan tersebut ditekankan sebagai seruan kemanusiaan dan perdamaian, bukan penghapusan hukum atau kedaulatan negara secara sepihak.
“Kami ingin membuka batas-batas yang selama ini memisahkan manusia dalam cara berpikir. Bukan berarti menghapus hukum dan kedaulatan, tetapi membuka jalan agar manusia dapat duduk bersama, berdialog, dan menyelesaikan persoalan tanpa harus saling menghancurkan,” kata Sandi.
Ia menilai, dunia membutuhkan forum dialog yang mampu mempertemukan berbagai pihak tanpa melihat perbedaan ras, warna kulit, bangsa, agama, maupun kepentingan politik.
Para Pemegang veto Diharapkan Berperan
Dalam gagasannya, Reclasseering Indonesia juga berharap para pemegang veto dapat mengambil peran dalam menjaga serta merumuskan langkah-langkah perdamaian.
Sandi mengatakan, situasi global yang semakin kompleks membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mencari jalan keluar yang mengedepankan dialog dan kemanusiaan.
“Kami berharap para pemegang peto dapat menggunakan tanggung jawab dan kewenangannya untuk menjaga perdamaian serta merumuskan langkah yang dapat mengurangi konflik. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak permusuhan. Dunia membutuhkan keberanian untuk berdamai,” tegasnya.
Siap Berkontribusi dalam Tatanan Dunia yang Lebih Damai
Reclasseering Indonesia menyatakan kesiapan untuk ikut berkontribusi dalam gagasan dan dialog mengenai tatanan dunia yang lebih damai, adil, dan manusiawi.
Menurut Sandi, perubahan dunia tidak cukup hanya dibicarakan oleh pemerintah dan pemimpin negara. Masyarakat sipil, organisasi kemasyarakatan, tokoh hukum, akademisi, serta berbagai elemen masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya perdamaian.
“Kami siap membantu dan ikut serta dalam merumuskan gagasan untuk tatanan dunia baru yang menempatkan kemanusiaan sebagai pusatnya. Kami ingin menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari konflik,” ujarnya.
Selamatkan Bumi, Selamatkan Kemanusiaan
Di akhir pernyataannya, Sandi mengajak seluruh masyarakat dunia untuk melihat bumi sebagai rumah bersama.
“Jangan sampai perbedaan bangsa, warna kulit, wilayah, dan kepentingan membuat manusia lupa bahwa kita semua hidup di satu bumi. Selamatkan bumi, selamatkan alam semesta, dan selamatkan kemanusiaan,” katanya. Selasa (9/9/2026).
Seruan Reclasseering Indonesia tersebut pada akhirnya menempatkan perdamaian, kesetaraan, keamanan, kesejahteraan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan dialog antarbangsa sebagai fondasi utama untuk menghadapi tantangan dunia di masa depan.
Karena perdamaian dunia bukan hanya tanggung jawab satu negara—perdamaian adalah tanggung jawab seluruh umat manusia.
Reporter: M Yusuf/Habib