Industri Keramik Nasional Tertekan di Awal 2026: Krisis Gas, Lonjakan Biaya, dan Ancaman Impor

Maret 24, 2026 | Maret 24, 2026 WIB Last Updated 2026-03-24T11:35:50Z
Jakarta, detiksatu.com || Industri keramik nasional menghadapi tekanan berat pada awal tahun 2026. Kombinasi krisis pasokan gas, lonjakan biaya produksi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya ancaman produk impor membuat sektor ini berada dalam kondisi yang semakin terdesak di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data dari Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), tingkat utilisasi produksi industri keramik pada kuartal I-2026 hanya berada di kisaran 70–72 persen.

Angka tersebut berada di bawah target ideal sebesar 80 persen, sekaligus lebih rendah dibandingkan capaian sepanjang tahun 2025. Penurunan ini mencerminkan melemahnya aktivitas produksi akibat berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama terganggunya kinerja industri adalah krisis pasokan gas, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Bahkan, sejumlah pabrik di Jawa Timur sempat menghentikan operasional produksi selama sekitar satu minggu pada Januari 2026 akibat terbatasnya suplai gas.
“Pasokan gas yang tidak stabil sangat berdampak pada keberlangsungan produksi. Industri keramik sangat bergantung pada energi gas sebagai bahan bakar utama,” ujar Edy dalam keterangannya, (24/3/2026).

Tidak hanya terganggu dari sisi pasokan, harga gas industri juga mengalami lonjakan signifikan. Di Jawa Barat, harga gas tercatat mencapai 10 hingga 10,5 dolar AS per MMBTU, sementara di Jawa Timur sekitar 8 dolar AS per MMBTU. Kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada struktur biaya produksi, di mana porsi biaya energi meningkat drastis menjadi sekitar 33–35 persen, dari sebelumnya hanya 25–27 persen saat kebijakan harga gas tertentu masih diberlakukan.

Kondisi ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Mengingat transaksi pembelian gas dilakukan dalam mata uang dolar, fluktuasi kurs secara otomatis meningkatkan beban biaya produksi. Hal ini membuat industri dalam negeri semakin kesulitan menjaga efisiensi dan daya saing produk di pasar.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari meningkatnya potensi banjir produk impor, terutama dari China dan India. Kedua negara tersebut saat ini diketahui mengalami kelebihan kapasitas produksi (over supply dan over capacity), sehingga berpotensi mengalihkan ekspor mereka ke pasar Indonesia.

Situasi ini semakin diperburuk oleh dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, yang menyebabkan terganggunya pasar ekspor utama bagi produsen keramik dari kedua negara tersebut. Akibatnya, Indonesia menjadi salah satu target pasar alternatif yang dinilai potensial.

Produk impor dari China dan India dinilai lebih kompetitif karena biaya produksi yang lebih rendah. Hal ini menjadi ancaman serius bagi industri keramik nasional yang justru sedang menghadapi kenaikan biaya energi dan tekanan operasional lainnya.
“Daya saing industri keramik nasional semakin tertekan, apalagi jika dibarengi dengan praktik perdagangan tidak sehat dari negara lain,” tegas Edy.

Menanggapi kondisi tersebut, Asaki mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis guna menyelamatkan industri. Salah satu usulan utama adalah penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) gas bumi, yang mewajibkan sebagian pasokan gas untuk kebutuhan industri dalam negeri.

Selain itu, Asaki juga mendorong pemerintah untuk mengurangi porsi ekspor gas demi memastikan ketersediaan energi bagi sektor industri nasional. 

Kebijakan ini dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan produksi sekaligus meningkatkan daya saing industri di tengah tekanan global.
“Gas bumi seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan industri dalam negeri yang memiliki multiplier effect besar, seperti penyerapan tenaga kerja dan mendorong investasi baru,” jelas Edy.

Lebih jauh, pelaku industri berharap adanya intervensi kebijakan yang cepat, terukur, dan tepat sasaran. Tanpa dukungan pemerintah, sektor keramik nasional dikhawatirkan akan semakin terpuruk, yang pada akhirnya dapat berdampak luas terhadap perekonomian, termasuk penyerapan tenaga kerja dan kontribusi terhadap industri manufaktur nasional.

Dengan berbagai tantangan yang ada mulai dari krisis energi, tekanan biaya, fluktuasi nilai tukar, hingga serbuan impor tahun 2026 menjadi periode krusial bagi keberlangsungan industri keramik Indonesia.

Kebijakan yang tepat dan respons cepat dari pemerintah akan menjadi penentu apakah industri ini mampu bertahan atau justru semakin melemah di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Red-Ervinna
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Industri Keramik Nasional Tertekan di Awal 2026: Krisis Gas, Lonjakan Biaya, dan Ancaman Impor

Trending Now