Iklan

Mengcam Keras Dalam Aksi Mimbar Bebas Kasus Dogiyai Berdarah

Redaksi
Rabu, 13 Mei 2026 | Rabu, Mei 13, 2026 WIB Last Updated 2026-05-13T03:54:12Z
Jayapura, Detiksatu.com || Forum Independen Mahasiswa West Papua FIM-WP Pusat hadir berdiri bersama rakyat dan mahasiswa Dogiyai dalam aksi mimbar bebas 

Dengan suara lantang hati berdarah nyatakan sikap tegas atas krisis kemanusiaan di Dogiyai berdarah terus berulangkali di lakukan oleh aparat militer kolonial Indonesia secara sewenang-wenang dan di seluruh tanah air west Papua. 

Marten Melaporkan Dogiyai kembali berdarah kabar duka mendalam menggema di seluruh tanah Papua sejak akhir Maret hingga kini lima warga sipil ditembak mati oleh militer Indonesia

" Siprianus Kibakoto, Yulita Pigai, Martinus Yobe, Angkian Edowai, dan Ferdinan Auwe. Belum kering kemarin kembali terdengar letusan tebakan senjata api menewaskan pelajar SMA NEGERI 2 DOGIYAI, Nopison Tebay (17 TAHUN) di usia yang seharusnya masih punya harapan dan cita-cita masa mendatangnya". Ujar Marten pada Selasa 11/5/2026 di Jayapura 

Segala bukti dan tudingan ini mengarah pada militer TNI/porli Indonesia yang beroperasi tanpa ampun,menjadikan warga sipil tameng keresahan, menjadikan tanah adat Medan perang, dan menjadikan nyawa orang Papua itu bagaikan bintang di matanya, ini bukan soal keamanan, tapi ini adalah bukti penjajahan, dan kejahatan kemanusiaan yang sistematis di mana hukum diam, pelaku bebas jalan, dan keluarga korban hanya bisa Menanti keadilan yang tak pernah kembali memihak. 

Untuk itu FIM-WP pusat menyatakan bahwa 
1. Segala bentuk kekerasan militer Indonesia di Papua adalah aktor utama dari PT Freeport Indonesia, tutup Freeport dan kembalikan hak kedaulatan rakyat amungsa demi mencegah konflik kepanjangan di seluruh tanah Papua. 

2. Hentikan operasi militer dan tarik militer non organik dan organik di seluruh tanah Papua. 
3. Hentikan proyek Strategis nasional (PSN) 
4. Tutup segala investasi asing yang mengeksploitasi sumber daya alam di seluruh tanah Papua. 

5. Segera usut tuntas kasus pelanggaran HAM di Dogiyai, Puncak, Maybrat, Timika, Intan Jaya, Nduga, Yahukimo, Asmat, Boven Digul, Yotefa Jayapura dan di seluruh tanah Papua. 

6. Jika kekerasan militer terus terjadi, maka FIM-WP akan mobilisasi besar-besaran. Turun ke Nabire lumpuhkan semua sektor dan menuntut segera Cabut SK Propinsi Papua Tengah
7. Berikan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua sebagai solusi demokratis. 

Marten melihat dengan situasi kekerasan militer kolonial Indonesia yang terus berulangkali terjadi, di Dogiyai, Puncak, Maybrat, Timika, Intan Jaya, Nduga, Yahukimo, Asmat, Boven Digul, Yotefa Jayapura dan di seluruh tanah Papua. Maka segera hentikan kekerasan militer dan tarik militer organik dan anorganik.


Reporter Inggi Kogoya
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mengcam Keras Dalam Aksi Mimbar Bebas Kasus Dogiyai Berdarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trending Now