Palestina,detiksatu.com || Di tengah konflik yang terus berkecamuk, dua tragedi kemanusiaan muncul sebagai simbol penderitaan rakyat Palestina: sunyinya Masjid Al-Aqsha pada Idulfitri dan runtuhnya sistem kehidupan di Gaza akibat terhambatnya bantuan.Islam
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, takbir tidak menggema di Masjid Al-Aqsha saat Idulfitri. Ribuan jamaah dilarang memasuki kompleks suci tersebut akibat penutupan ketat oleh otoritas Israel.
Keheningan itu bukan sekadar absennya suara—melainkan simbol dari pembatasan hak beribadah yang memicu kemarahan dan luka mendalam di kalangan warga Palestina.
Ibadah di Gerbang, Air Mata di Hari Raya
Meski dilarang masuk, warga tetap mendatangi gerbang masjid, terutama di Bab al-Asbat, untuk melaksanakan salat di titik terdekat.
Rekaman yang beredar menunjukkan jamaah salat di jalanan, di bawah pengawasan ketat aparat. Sebagian dari mereka menangis—bukan hanya karena kehilangan momen spiritual, tetapi karena merasa terasing dari tempat suci mereka sendiri.
“Ini Idulfitri tersulit dalam hidup kami,” ujar seorang jamaah. “Kami tidak hanya kehilangan akses, kami kehilangan rasa aman dan martabat.”
Kebijakan yang Dinilai Sistematis
Peneliti Yerusalem, Fakhri Abu Diab, menilai bahwa penutupan Al-Aqsha bukan sekadar langkah keamanan sementara, melainkan bagian dari kebijakan sistematis untuk mengurangi kehadiran Palestina di kawasan tersebut.
Ia memperingatkan bahwa kurangnya tindakan nyata dari komunitas internasional dapat membuka jalan bagi kebijakan serupa di masa depan.
Gaza: Bantuan Turun 80%, Krisis Memburuk
Sementara itu di Gaza, situasi kemanusiaan memburuk drastis. Data dari pusat koordinasi di Kiryat Gat menunjukkan bahwa jumlah truk bantuan yang masuk turun hingga 80 persen sejak dimulainya agresi terhadap Iran.
Dari rata-rata 4.200 truk per minggu, jumlahnya merosot menjadi hanya ratusan.
Akibatnya, harga pangan melonjak tajam. Harga tepung tiga kali lipat, tomat naik lebih dari dua kali lipat, dan sejumlah bahan pokok seperti minyak goreng serta makanan kaleng menghilang dari pasar.
Rumah sakit juga berada di ambang kolaps. Kekurangan obat, alat medis, dan bahan bakar mengancam layanan kesehatan yang sudah rapuh.
Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa krisis ini dapat berkembang menjadi bencana kesehatan besar jika tidak segera ditangani.
Penangguhan Bantuan dan Kritik Global
Pihak COGAT mengumumkan penghentian sementara bantuan melalui wilayahnya dengan alasan keamanan, setelah ditemukan zat mencurigakan dalam pengiriman medis.
Namun, langkah ini menuai kritik luas dari komunitas internasional yang menilai bahwa pembatasan bantuan di tengah krisis kemanusiaan dapat melanggar hukum internasional, khususnya prinsip perlindungan terhadap warga sipil.
Banyak pihak menilai bahwa apa yang terjadi di Al-Aqsha dan Gaza bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari pola kebijakan yang lebih luas—yang semakin memperdalam penderitaan rakyat Palestina dan memicu kecaman dunia terhadap Israel

