Jakarta, detiksatu.com || Lonjakan harga minyak dunia mulai mengubah arah arus investasi global. Kenaikan tajam minyak mentah jenis Brent Crude Oil yang diprediksi menembus level USD 116 per barel memicu pergeseran minat investor dari aset aman tradisional seperti emas menuju dolar Amerika Serikat.
Di tengah meningkatnya tekanan inflasi energi dan ketidakpastian geopolitik, dinamika pasar komoditas kembali menjadi sorotan utama. Harga minyak yang terus menanjak dinilai sebagai faktor kunci yang mendorong perubahan strategi investasi global dalam jangka pendek.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai lonjakan harga minyak mentah Brent memberikan dampak signifikan terhadap pola pergerakan aset safe haven. Menurutnya, investor kini mulai mengurangi eksposur terhadap emas dan beralih ke dolar AS yang dinilai lebih atraktif dalam kondisi saat ini.
“Pergerakan Brent crude oil saat ini cukup mencolok. Dalam sepekan ke depan, harga berpotensi bergerak di kisaran USD 110 hingga USD 116 per barel. Ini mencerminkan adanya tekanan besar di sektor energi global,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, (23/3/2026).
Ia menjelaskan, dibandingkan jenis minyak mentah lainnya, Brent memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pasar global. Hal ini disebabkan perannya sebagai acuan utama harga bahan bakar, termasuk avtur untuk industri penerbangan internasional.
Ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah, seperti Iran dan Irak, menjadikan harga Brent sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik.
Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Akibatnya, investor mulai mengalihkan portofolio ke instrumen yang dinilai lebih likuid dan responsif terhadap perubahan, salah satunya adalah dolar AS.
Penguatan dolar tercermin dari proyeksi indeks dolar yang diperkirakan bergerak menuju level 101,20.
Ibrahim menyebutkan bahwa dalam jangka pendek, indeks dolar memiliki potensi menguat dengan level support di 98,73 dan resistance di 101,20.
“Melihat kondisi saat ini, kemungkinan besar indeks dolar akan menguat menuju 101,20, bukan melemah. Ini menunjukkan permintaan terhadap dolar semakin meningkat,” jelasnya.
Perpindahan arus investasi ini turut memberikan tekanan terhadap harga emas dunia. Sebagai aset safe haven, emas selama ini menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian.
Namun, dengan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi dari bank sentral global serta menguatnya dolar, daya tarik emas mulai memudar.
Selain itu, lonjakan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, khususnya inflasi energi. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mencari instrumen yang tidak hanya aman, tetapi juga memberikan imbal hasil yang lebih kompetitif dalam jangka pendek.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah semakin memperkuat volatilitas pasar. Konflik yang belum mereda memicu kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi global, yang pada akhirnya mendorong harga minyak terus naik.
Dengan berbagai faktor tersebut, pasar keuangan global diperkirakan akan tetap bergerak dinamis dalam beberapa waktu ke depan. Pergeseran minat dari emas ke dolar AS menjadi salah satu indikator penting bahwa investor kini lebih mengutamakan likuiditas dan momentum pasar dibandingkan sekadar perlindungan nilai.
Ke depan, para pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan harga minyak serta arah kebijakan moneter global. Kedua faktor ini diyakini akan menjadi penentu utama arah investasi dan pergerakan aset-aset utama dunia dalam jangka pendek hingga menengah.
Red-Ervinna