Iklan

Perintah Allah Untuk Menghindari Perbuatan Maksiat dan Permusuhan Yang Merugikan Diri Sendiri Serta Orang Lain

Redaksi
Sabtu, 09 Mei 2026 | Sabtu, Mei 09, 2026 WIB Last Updated 2026-05-09T03:56:48Z
Mutiara Hikmah – Sabtu, 9 Mei 2026

📖 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Wa tarā katsīram minhum yusāri‘ūna fil-itsmi wal-‘udwāni wa aklihimus-suḥta, labi’sa mā kānū ya‘malūn.

"Dan engkau akan melihat banyak di antara mereka berlomba-lomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram (suap atau harta yang tidak benar). Sungguh, sangat buruk apa yang telah mereka kerjakan."
📚 (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 62)

Ayat ini menggambarkan perilaku sebagian manusia yang terbiasa melakukan dosa, berbuat zalim dan permusuhan, serta mencari harta dan kedudukan dengan cara haram.

Kata “suht” dalam ayat ini diartikan sebagai bentuk praktik suap, uang haram, hasil korupsi, harta, dan kedudukan yang diperoleh dengan cara batil dan tidak bermoral.

Keburukan itu bahkan dilakukan secara aktif, cepat, dan dianggap biasa demi mencari keuntungan diri sendiri maupun kelompoknya.

 Perilaku Itu Dapat Kita Lihat Dalam Kehidupan Sehari-hari

 Mencari Keuntungan dengan Cara Haram

Ketika ada orang yang sengaja mencari keuntungan dengan memfitnah, menyuap, memotong hak orang lain, memanipulasi laporan, atau mengambil uang yang bukan haknya.

Bahkan kadang orang berlomba mencari “jalan belakang” demi kedudukan dan kekayaan dunia.

Fitnah dan Permusuhan Dijadikan Alat. Menjauhkan seseorang dengan fitnah, tuduhan tanpa bukti yang cukup kuat, bahkan menyebar luaskan tuduhan.

Ketika fitnah, saling menjatuhkan, dan permusuhan dijadikan alat untuk mendapatkan jabatan atau pengaruh, maka lingkungan itu sedang sakit secara moral.
Orang tidak lagi berlomba dalam kebaikan, tetapi berlomba dalam intrik dan kepentingan pribadi.

Penyebaran Hoaks dan Kebencian

Di media sosial misalnya, ada orang yang dengan cepat bahkan membentuk kelompok yang yang tujuannya menjatuhkan seseorang tanpa bukti secara viral menyebarkan fitnah, kebencian, hoaks, atau memperkeruh suasana demi popularitas, kepuasan hawa nafsu, dan keuntungan pribadi. Padahal mereka yang menyebarkan kebencian belum tentu lebih baik akhlaknya.

Ayat ini mengajarkan bahwa kecepatan melakukan keburukan bukan tanda kecerdasan, tetapi tanda rusaknya hati, lemahnya iman, dan rapuhnya moral.

Allah SWT memberi peringatan keras kepada mereka yang berlomba-lomba dalam dosa dan permusuhan.*

Firman Allah ini menjadi peringatan kepada masyarakat yang menganggap:

suap sebagai hal biasa,

kebohongan sebagai strategi,

fitnah sebagai senjata,

dan kezaliman sebagai jalan menuju kekuasaan.

Maka kerusakan moral sedang terjadi.*

Akibat ulah mereka, akhirnya satu sama lain saling bertikai hingga hancur berantakan, kecuali mereka yang tidak ikut dalam cara-cara buruk tersebut.

 Ayat ini relevan sepanjang zaman. Siapa pun yang gemar melakukan kezaliman, mencari kedudukan dengan cara jahat, dan memakan harta haram, maka ia termasuk dalam peringatan ayat ini.

Hikmah yang Bisa Dipetik*

 1. Jangan jumawa, sombong, merasa paling benar atau paling hebat.

 2. Tetap rendah hati seperti ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.

 3. Jangan membiasakan dosa kecil karena lama-lama menjadi kebiasaan besar.

 4. Harta haram dan kedudukan yang diperoleh secara zalim akan merusak keberkahan hidup.

 5. Seorang mukmin seharusnya berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kezaliman.

 Lingkungan yang membiarkan keburukan lambat laun akan berantakan:

kebohongan sulit dibedakan dengan kejujuran,

hilangnya tokoh teladan,

tujuan hidup menjadi kabur,

tumbuh keraguan dan ketidakpercayaan

📖 Selanjutnya…

Surah Al-Ma’idah Ayat 63

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Laulā yanhāhumur-rabbāniyyūna wal-aḥbāru ‘an qaulihimul-itsma wa aklihimus-suḥta, labi’sa mā kānū yaṣna‘ūn.
"Mengapa para ulama dan pendeta mereka tidak melarang mereka dari perkataan dosa dan dari memakan harta haram (suap)?

Sungguh sangat buruk apa yang telah mereka perbuat."
📚 (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 63)

 Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang berbicara tentang orang-orang yang terbiasa melakukan dosa, kezaliman, dan memakan harta haram.

⚖️ *Pada ayat ini Allah menegur para tokoh agama, ulama, pemimpin moral, dan orang-orang berilmu yang membiarkan kemungkaran terjadi tanpa berusaha mencegahnya.*

📌 Bukan hanya pelaku kejahatan yang salah, tetapi orang yang tahu kebenaran namun diam terhadap keburukan juga memiliki tanggung jawab moral.

📖 Kata “rabbāniyyūn” merujuk kepada orang-orang alim yang membina masyarakat dengan ilmu dan akhlak, sedangkan “ahbār” merujuk kepada ulama atau pemuka agama.

Mereka ditegur karena:*

1️⃣ Tidak menasihati masyarakat,
2️⃣ Membiarkan korupsi,
3️⃣ Diam terhadap kebohongan,
4️⃣ Tidak mencegah penyimpangan yang terjadi di depan mata.

 Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan keberanian moral. Orang berilmu tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi juga harus hadir menjaga nilai kebenaran di tengah masyarakat.

🏢 Dalam Lingkungan Pergaulan Sehari-hari

1️⃣ Dalam Lingkungan Kerja

Jika seorang atasan tahu terjadi ketidak adilan, fitnah, tuduhan tanpa bukti fakta pada bawahannya, tetapi ia memilih diam, berpihak pada mayoritas orang disekelilingnya, padahal kebenaran bukan soal banyak atau sedikitnya jumlah orang yang turut serta, namun seberapa banyak bukti faktanya. Tuduhan tanpa bukti adalah fitnah dan ini sangat dibenci Allah SWT, maka sikap pemimpin ini termasuk ikut memperbesar kerusakan.

📌 “Membiarkan keburukan terus terjadi sama berbahayanya dengan melakukan keburukan itu sendiri.”

2️⃣ Dalam Keluarga

👨‍👩‍👧 Orang tua yang membiarkan anak terbiasa berkata kasar, berbohong, atau mengambil hak orang lain tanpa diarahkan dengan baik, lama-kelamaan akan melihat kebiasaan buruk itu tumbuh besar.

🌿 Nasehat dan pendidikan akhlak adalah bentuk tanggung jawab moral.

3️⃣ Dalam Kehidupan Sosial dan Media

📱 Saat masyarakat tahu ada fitnah, hoaks, atau ketidakadilan tetapi semua memilih diam karena takut, maka keburukan akan semakin dianggap normal.

💡 Kadang kerusakan besar terjadi bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi karena orang baik kehilangan keberanian untuk berbicara.

🌟 *Hikmah yang Bisa Dipetik*

✨ 1. Orang berilmu memiliki tanggung jawab moral yang besar.
✨ 2. Diam terhadap keburukan bisa menjadi kesalahan serius.
✨ 3. Nasehat yang baik adalah bentuk kepedulian, bukan kebencian.
✨ 4. Masyarakat akan rusak jika para pemimpin moral kehilangan keberanian.
✨ 5. Ilmu sejati harus melahirkan akhlak dan keberpihakan kepada kebenaran.

🌙 *Program Hidup Muslim: ASI*

Sebagai bentuk penjagaan iman dan akhlak di tengah rusaknya moral zaman, seorang Muslim wajib memiliki program hidup ASI:

📖 A = Al-Qur’an → Membaca, memahami, mentadabburi, dan mengamalkan wahyu Allah.

🕌 S = Shalat → Menjaga hubungan dengan Allah dengan shalat yang khusyuk dan istiqamah.

🤲 I = Infaq → Membersihkan harta dan membantu sesama dengan penuh keikhlasan.

✨ Dengan ASI (Al-Qur’an, Shalat, dan Infaq), hati akan hidup, akhlak akan terjaga, dan masyarakat akan lebih kuat menghadapi fitnah, kezaliman, serta kerusakan moral.

🤲 *Salam Ta’zim dan Jihad*
✍️ *BES = Brother Eggi Sudjana*

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perintah Allah Untuk Menghindari Perbuatan Maksiat dan Permusuhan Yang Merugikan Diri Sendiri Serta Orang Lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trending Now

Iklan