Bekasi,detiksatu.com || Desakan untuk membatalkan kegiatan Study Tiru yang direncanakan bagi ratusan kepala desa se-Kabupaten Bekasi semakin menguat. Agenda yang diklaim sebagai upaya peningkatan kapasitas justru dijadwalkan pada masa akhir jabatan kepala desa, sehingga dinilai lebih cenderung sebagai "liburan" yang menggunakan uang rakyat. Kegiatan yang akan dilakukan di Bandung tersebut menjadi sorotan setelah dianggap tidak sesuai dengan kondisi kebutuhan masyarakat desa saat ini.
Boy Iwan, Pemerhati Anggaran dan Kebijakan Pemerintah, menjadi salah satu sosok yang mengangkat suara keras terkait hal ini. "Kegiatan study tiru ke Bandung ini direncanakan di akhir masa jabatan sebagian besar kepala desa berakhir. Apa gunanya mereka belajar model pembangunan desa di sana jika dalam waktu dekat mereka tidak akan lagi mengelola desa tersebut? Ini jelas sangat meragukan," ujar Boy Iwan kepada media pada Kamis (26/3/2026).
Menurut Boy Iwan, data yang diperolehnya menunjukkan bahwa alokasi anggaran per peserta mencapai sebesar Rp7.000.000 (tujuh juta rupiah), belum termasuk biaya transportasi. "Kita meminta Plt. Bupati untuk segera menghentikan rencana ini dan mengalihkan anggaran tersebut ke program-program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat desa," tegas Boy Iwan.
Ia juga berpendapat bahwa jika kegiatan tetap ingin dilaksanakan, perlu dilakukan penyesuaian jadwal hingga masa jabatan kepala desa baru mulai dan hanya diikuti oleh mereka yang akan melanjutkan tugas atau calon kepala desa yang terpilih. "Pembinaan kapasitas sangat penting, tapi harus tepat pada waktu dan sasaran. Tidak boleh sampai dana yang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat justru digunakan untuk kepentingan pribadi sebagian orang saja," pungkasnya.(Reporter: Roan)

