Jakarta,detiksatu.com - Kami mendatangi bengkel mobil di bilangan Senen. Pasca mudik, ada sejumlah trouble yang musti di service. Setelah janjian dengan teknisi, penulis datang ke lokasi bengkel.
Sambil menunggu proses service, ada seorang pria paruh baya, sekira umur 50 an, datang menghampiri penulis. Dengan gaya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), pria tersebut mengajak penulis ngobrol.
Rupanya, sebelumnya dia sudah bertanya ke rekan teknisi lainnya tentang penulis. Dia menyapa, dan mengetahui penulis pengacara Roy Suryo, dalam kasus ijazah palsu Jokowi.
Ngalor ngidul kami ngobrol, soal politik, ekonomi, dunia usaha bengkel dan bisnis di pasar Senen, hingga kasus ijazah palsu Jokowi. Dia, sebagaimana masyarakat umum lainnya, meyakini ijazah Jokowi palsu.
Jika saat di kampung penulis, keyakinan masyarakat bertumpu pada ketidakcocokan foto ijazah Jokowi dengan sosok Jokowi saat ini, hingga ada analogi 'gambar kucing tidak sama dengan gambar kelinci, meskipun berwujud foto copy', namun pria paruh baya ini punya logika lain.
Menurutnya, bukti keaslian ijazah bukan pada fisik ijazah-nya saja. Melainkan, prosesnya yang benar dan legal.
Sebab, bisa saja kertas ijazah sama kualitasnya, juga diterbitkan lembaga yang berwenang, namun prosesnya jika tidak sah tetap saja ijazah tersebut palsu.
Dia memberikan analogi tentang uang. Uang, meskipun dicetak oleh Peruri namun yang asli adalah yang diterbitkan oleh B.I. maksudnya, meskipun uang tersebut berasal dari cetakan Peruri, dengan kualitas kertas, warna, dan berbagai atribut yang yang sama, namun sebelum uang tersebut diproses dan dilegalisir oleh B.I., maka uang dari Peruri yang langsung diedarkan kepada masyarakat adalah uang palsu.
Dasarnya, keaslian uang adalah apa yang dilegalisasi oleh B.I., bukan apa yang dicetak oleh Peruri.
Nah, meskipun Jokowi mengklaim punya ijazah UGM, namun proses legalisasi di UGM inilah yang bermasalah. Terbukti, UGM kalah digugat di KIP oleh Bonjowi dan Bonatua Silalahi. Ketidak terbukaan UGM atas keseluruhan proses perkuliahan Jokowi, dari sejak masuk hingga wisuda dan memperoleh gelar sarjana, banyak problem.
Bahkan, pria paruh baya tersebut dengan parameter sederhana menjelaskan bahwa kualitas komunikasi dan kemampuan akademik Jokowi jauh dari lulusan UGM. Mengenai hal ini, penulis jadi ingat penuturan Prof Riyas Rasyid. Sebagai praktisi dan pendidik, beliau meyakini Jokowi tak punya ijazah, kalaupun punya dipastikan palsu.
Alasannya juga sama: kemampuan komunikasi dan akademik Jokowi terlalu jauh dari seorang yang pernah mengenyam pendidikan. Bahkan, untuk jurusan teknologi kayu yang pernah disebut Jokowi, bisa dikatakan sebagai kesalahan yang paling fatal dari pengalaman seseorang yang pernah ngampus tapi salah menyebut jurusan yang diambilnya. Belum lagi, soal Kasmujo yang diklaim dosen pembimbingnya.
Tapi ada satu perbincangan yang menurut penulis patut diperhatikan. Pria tersebut, menyayangkan tindakan Rismon Sianipar yang berbalik arah. Rismon disebut sebagai pengkhianat.
Rismon Sianipar, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis masuk kategori pengkhianat. Meninggalkan teman seperjuangan hanya untuk cari selamat diri sendiri. Bahkan, berbalik arah menyerang kawan perjuangan.
Tapi, ada satu ungkapan yang kami sepakati. Penulis dan pria tersebut, sepakat menyebut Rismon Sianipar, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dengan ungkapan 'lari dari penjara kecil tapi terperosok dalam penjara besar'.
Maksudnya, Rismon Sianipar, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis bisa lepas dari jerat hukum yang berpotensi penjara. Mengenai hal ini, Rismon belum jelas karena belum dapat SP-3.
Namun, sejatinya resiko penjara itu belum terjadi dan bisa saja tak terjadi. Kalaupun terjadi, mereka hanya masuk penjara kecil seperti yang dialami Gus Nur dan Bambang Tri.
Mereka, pasti akan keluar dari penjara kecil dan kembali merdeka setelah keluar bersatu kembali dengan masyarakat. Seperti Gus Nur dan Bambang Tri yang hari ini sudah merdeka dan kembali bersama masyarakat.
Sedangkan Rismon Sianipar, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, hari ini telah terjebak masuk pada 'penjara besar'. Label pengkhianat telah membuat mereka terasing dan diasingkan oleh masyarakat. Mereka terpenjara sosial ditengah masyarakat, dengan vonis pengkhianat.
Jangankan di dunia nyata, di dunia digital saja mereka terpenjara. Rismon yang punya akun Balige Academy, kini menutup kolom komentarnya. Penutupan kolom ini jelas karena kesadaran akan kesalahan karena berkhianat, dan kesadaran akan dihujat oleh masyarakat (netizen) saat membuka kolom komentar.
Diberbagai Group WA, Rismon Sianipar, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dikucilkan. Tak ada yang memberi sapaan hangat. Bahkan, sejumlah Group WA mengeluarkan orang-orang ini, karena marah atas pengkhianatan-nya.
Di tempat umum, bisa saja setiap berjalan para pengkhianat ini ketakutan. Karena sadar, semua orang marah pada orang orang ini. Kabarnya, Rismon mendapat pengamanan khusus pasca sowan ke Solo.
"Abang, datang kesini kan santai. Tidak ada khawatir, bahkan banyak yang menyapa hingga minta foto bersama. Kalau mereka bang? Bisa ngumpet ketakutan karena sadar mereka berkhianat" ungkap Pria paruh baya tersebut kepada penulis.
Penulis membenarkan pernyataan itu. Contoh sederhana, saat ini sudah tak ada kegiatan diskusi, demontrasi para aktivis, yang dihadiri Rismon Sianipar, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Selain karena mereka takut dihujat, para aktivis saat ini juga marah dan tak mau perjuangan dinodai dengan kehadiran para pengkhianat ini.
Inti dari obrolan penulis dengan pria tersebut adalah bahwa masyarakat sangat menyayangkan tindakan Rismon Sianipar, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Dan sejatinya, mereka hanya berusaha menghindari penjara kecil dan malah terperosok masuk ke penjara besar. [].
Muis

