Tinggalkan Permainan Persepsi Ijazah, Fokuslah Pada Kesejahteraan Rakyat

Redaksi
Maret 23, 2026 | Maret 23, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T22:02:35Z
Tinggalkan Permainan Persepsi Ijazah, Fokuslah Pada Kesejahteraan Rakyat*

Oleh: Agusto Sulistio - Pendiri The Activist Cyber

"Selamat Hari Raya Iedul Fitri Tahun 2026, Mohon Maaf Lahir dan Bathin".

Assalamualaikum, Wr, Wb.

Di tengah derasnya arus informasi global yang semakin kompleks, bangsa ini dihadapkan pada satu tantangan yang kerap tak disadari, permainan persepsi. Ini tidak selalu menjadi ancaman nyata, tapi perlahan menguras energi publik, memecah fokus, dan menjauhkan kita dari persoalan utama soal sehari-hari yakni kesejahteraan rakyat.

Dalam perspektif ilmu intelegen, operasi persepsi bukan sekadar penyebaran informasi. Tapi soal strategi. Salah satunya memperpanjang “permainan persepsi". Semakin lama isu digulirkan, semakin luas dibahas, semakin banyak pihak terseret, maka semakin besar pula keberhasilan operasi ini. Bukan karena substansinya penting, tapi karena berhasil menyita perhatian publik.

Dalam permainan persepsi besar ini kadang-kadang hanya digerakkan oleh segelintir orang, tapi tak menutup kemungkinan telah disiapkan dengan jumlah besar, semua tergantung keadaan. Meski awanya, aktornya terbatas, tetapi dampaknya meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Ketika isu tersebut terus diproduksi, dikemas ulang, dan disebarkan melalui media, baik mainstream maupun non-mainstream, maka akan berubah menjadi bola salju yang menggelinding dan membesar.

Contohnya dapat kita lihat dalam berbagai polemik yang berulang, sebut saja isu ijazah tokoh besar, dengan para pemerannya dilapangan. 

Substansinya mungkin sederhana dan terbatas, tetapi karena terus diangkat, diundang ke berbagai forum diskusi, diperdebatkan di layar kaca dan platform digital, isu tersebut seolah menjadi sangat penting. Sejatinya persepsi ini bisa lebih awal tuntas, tapi ketika akan tuntas mungkin terjadi gejolak yang berbeda sehingga terjadi tarik menarik dan menambah waktu lebih lama. Barangkali memang tujuannya hanya ramai di ruang publik, sehingga kebenaran kalah oleh persepsi.

Padahal, jika ditimbang secara objektif, permainan persepsi inibkontribusinya terhadap kesejahteraan rakyat nyaris tidak ada.

Di balik itu, ada ekosistem yang diuntungkan.

Bagi para pemain persepsi, yang mendominasi diberbagai media, ini bisa menjadi ruang yang menguntungkan secara personal. Narasumber diundang ke berbagai acara diskusi, tampil di berbagai media, dan tentu saja mendapatkan honor. Jika dalam sehari seseorang diundang oleh beberapa media, lalu hal itu berlangsung secara rutin, maka nilai ekonominya tidak kecil. Dalam hitungan bulan atau tahun, ini menjadi “industri persepsi” tersendiri, dengan pendapatan honor yang besar ditengah keadaan rakyat sedang sulit.

Namun pertanyaannya kembali pada kepentingan yang lebih besar, apakah ini bermanfaat bagi rakyat?

Belum tentu.

Sementara itu, operasi persepsi bukanlah aktivitas yang murah. Membutuhkan biaya besar, untuk produksi konten, distribusi informasi, penguatan narasi, hingga pengelolaan opini publik. 

Jika sumber daya sebesar itu dialihkan untuk hal-hal yang lebih produktif, misalnya membuka lapangan kerja, memperkuat sektor UMKM, atau meningkatkan akses pendidikan dan pelatihan kerja, naka dampaknya akan jauh lebih nyata dirasakan oleh masyarakat.

Di sinilah letak ketimpangan prioritas.

Bangsa yang terlalu sibuk memperdebatkan hal-hal yang tidak berdampak langsung pada kehidupan rakyat, sejatinya sedang kehilangan arah. Energi kolektif yang seharusnya digunakan untuk membangun ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, atau menciptakan lapangan kerja, justru habis dalam perdebatan yang tidak produktif.

Rakyat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar tidak membutuhkan narasi yang berulang-ulang. Mereka membutuhkan solusi yang konkret. Rakyat lapar tidak bisa dikenyangkan dengan polemik. 

Mereka butuh pekerjaan. Mereka butuh akses ekonomi. Mereka butuh kepastian hidup.

Maka negara dan seluruh elemen bangsa dituntut untuk bersikap tegas, memilah mana isu yang substansial dan mana yang sekadar distraksi.

Kedewasaan berbangsa bukan hanya diukur dari kebebasan berbicara, tetapi dari kemampuan untuk memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting.

Lebih jauh lagi, membangun masyarakat yang kuat tidak cukup hanya dengan kebijakan ekonomi. Diperlukan juga investasi pada kualitas berpikir rakyat. Edukasi yang menekankan ilmu yang bermanfaat yang membangun kemandirian, ketahanan mental, dan kemampuan analisis akan menjadi benteng dari manipulasi persepsi.

Rakyat yang cerdas tidak mudah diprovokasi.

Rakyat yang terdidik tidak mudah diadu domba.
Dan rakyat yang sejahtera tidak mudah dijadikan objek permainan.

Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap satu realitas penting, ketika ketimpangan dibiarkan, ketika keadilan terasa jauh, dan ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, potensi gejolak sosial akan meningkat. Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa ketidakadilan yang dibiarkan dapat berubah menjadi kemarahan kolektif.

Karena itu, menjaga kesejahteraan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal stabilitas bangsa.

Dalam konteks global yang semakin keras dengan persaingan ekonomi, krisis pangan, hingga ketegangan geopolitik Indonesia tidak punya kemewahan untuk terjebak terlalu lama dalam permainan persepsi. Kita membutuhkan fokus, ketegasan arah, dan keberanian untuk keluar dari pusaran isu yang tidak produktif.

Saatnya menggeser perhatian.

Dari polemik ke solusi. Dari narasi ke aksi. Dari persepsi ke realitas.

Jika bangsa ini ingin maju, maka ukuran keberhasilan tidak boleh lagi ditentukan oleh seberapa ramai sebuah isu diperbincangkan, melainkan seberapa besar dampaknya bagi kehidupan rakyat.

Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling banyak berbicara. Sejarah mencatat siapa yang benar-benar bekerja dan memberi manfaat.

Kalibata, Jakarta Senin 23 Maret 2026, 4:45 Wib.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tinggalkan Permainan Persepsi Ijazah, Fokuslah Pada Kesejahteraan Rakyat

Trending Now