Jakarta,detiksatu.com || Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menekankan pentingnya daya tahan bangsa di tengah ketidakpastian global.
Pesan itu disampaikan saat membuka secara resmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) tahun 2026 yang diselenggarakan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 6 April 2026 atau 17 Syawal 1447 H.
KH Naspi Arsyad memaparkan, agenda tahunan ini berlangsung di tengah dinamika global dan regional yang penuh ketidakpastian. Konflik bersenjata yang berkepanjangan, seperti perang antara Ukraina dan Rusia serta ketegangan di kawasan Timur Tengah, telah menimbulkan dampak multidimensi yang signifikan, mulai dari aspek sosial hingga ekonomi.
Situasi tersebut, menurutnya, memaksa setiap entitas untuk melakukan penyesuaian kebijakan domestik agar tetap relevan dengan perkembangan internasional yang fluktuatif.
Mengutip salah satu point dari dialog pimpinan ormas Islam tingkat nasional dihadirinya yang digelar Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) beberapa waktu lalu, Naspi Arsyad menyoroti bahwa eksistensi sebuah bangsa dalam konflik modern tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer konvensional.
Dia menegaskan, keberlanjutan sebuah negara sangat bergantung pada daya tahan kolektif yang mencakup ketahanan energi, stabilitas persenjataan, hingga kekuatan cadangan devisa. Naspi menegaskan sebuah analogi yang sangat mendasar mengenai kebutuhan primer manusia di masa krisis.
“Daya tahan yang berbasis energi, persenjataan hingga cadangan devisa tiap negara sangat menentukan keberlangsungan hidup sebuah bangsa,” ujar KH Naspi Arsyad.
Ia menambahkan bahwa meskipun manusia dapat bertahan hidup tanpa kemewahan fasilitas modern seperti listrik atau kendaraan bermotor, kebutuhan terhadap aspek fundamental seperti ketersediaan pangan dan pupuk tetap menjadi hal mutlak yang tidak dapat ditawar demi kelangsungan hidup.
Sejalan dengan itu, KH Naspi Arsyad merujuk pada pemikiran analis mengenai kemampuan organisasi untuk bertahan dalam persaingan global yang kompetitif. Dia menegaskan, kunci utama keberlanjutan sebuah institusi bukan terletak pada besarnya skala organisasi atau kestabilan neraca keuangan semata, melainkan pada kapasitas inovasi yang dimiliki.
“Bagi seorang mujahid, inovasi bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan hasil dari motivasi kuat dan proses berpikir sistematis yang melibatkan Allah Ta’ala sebagai sumber inovasi tertinggi,” katanya.
Inovasi dan transformasi dipandang dia sebagai dua elemen yang memiliki hubungan simbiosis yang erat. KH Naspi Arsyad menjelaskan bahwa inovasi berperan sebagai katalisator atau pemicu, sementara transformasi adalah bentuk perubahan struktural yang dihasilkan secara menyeluruh dari implementasi ide-ide baru tersebut.
Inovasi bagai katalisator, memicu kebutuhan untuk bertransformasi agar tetap kompetitif hingga menjadi unggul dan berpengaruh,” tegasnya.
Guna mencapai target tersebut, Naspi menyebutkan tiga pilar utama yang harus dikembangkan dalam tubuh Muslimat Hidayatullah, yaitu perubahan pola pikir (mindset) yang kritis, optimalisasi proses melalui eksperimentasi dan iterasi, serta perumusan strategi yang adaptif.
“Pola pikir yang berani mengambil risiko harus diimbangi dengan manajemen perubahan dan budaya organisasi yang terbuka terhadap kolaborasi,” katanya.
Naspi menyampaikan, Hidayatullah telah memvalidasi perjalanannya melalui berbagai inovasi tepat guna. Hal ini terlihat dari pemilihan format pesantren ala perkampungan Islam sejak masa awal hingga transformasi besar pada tahun 2000, saat organisasi ini beralih dari format Organisasi Sosial (Orsos) menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).
KH Naspi Arsyad menutup sambutannya dengan harapan agar Rakernas ini menjadi momentum penguatan peran Muslimat Hidayatullah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.[]

