detiksatu.com

Iklan

PENYEBAB DAN KRONOLOGI PERANG SUKU KURIMA DAN LANI

Redaksi
Selasa, 19 Mei 2026 | Selasa, Mei 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-19T16:47:05Z
PENYEBAB DAN KRONOLOGI PERANG SUKU KURIMA DAN LANI
 Dari : Ndugure (Kepala Perang) Suku Lanny

Terjadi perang pada Tahun 2024 penyebab perangnya adalah Laka Lantas (ketabrakan) antara orang Kurima dengan Asso Lokobal setelah itu orang Kurima yang tinggal di Kampung Logonoba melakukan penyerangan atau perang antara orang Asso Lokobal dengan kurima di Kampung Logonoba Woma atas kejadian baku serang sehingga kami masyarakat Lani yang tinggal sudah sama-sama keluarga Kurima di Pulau Woma akhirnya membantu perang ke keluarga Kurima.

Keluarga Lani bantu ikut terlibat perang karena sudah sejak lama kami tinggal sama-sama di pulau jadi kami anggap mereka sebagai keluarga dan lakukan serangan ke suku Asso lokobal setelah mereka masuk menyerang honai adat suku (Kurima) yang ada di Kampung Logonoba. Dan kami pada dasarnya orang Lani membantu teman-teman dari Kurima, yang tingal di Woma yang bertetangga dengan kami atas dasar kekeluargaan.

 *DAFTAR KORBAN DARI SUKU LANI DALAM PERANG PERTAMA ANTARA KURIMA DAN ASSOLOKOBAL* 

Dalam Kejadian perang itu dari pihak suku Lani korban 4 orang antara lain: 
 _Korban pertama : an. Mardin Tabuni_ 
 _Korban kedua : an. Yoten Kiwo_ 
 _Korban Ketiga : an. Weneluk Wakerkwa_ 
 _Korban Keempat : Nias Tabuni_ 

Itu daftar korban dari kami suku Lani yang pergi bantu perang di kelompok Kurima, sebagai ndugure (kepala perang) di Woma saat itu.

Jadi disini kami suku Lani bukan pelaku pertama atau penyebab terjadinya perang suku antara Kurima dan Lani tapi kami suku Lani sebagai pihak korban dari perang tersebut.

 *PROSES PEMBAYARAN DENDA ADAT DARI NDUGURE KEPADA KORBAN SUKU LANI* 

Setelah perang tersebut kami berikan denda adat kepada Ndugure kelompok Kurima untuk membayar denda adat atau kepala kepada kami keluarga korban dari suku Lani.

Untuk pembayaran denda tersebut kami sabar menunggu informasi dari Ndugure (kelompok kurima) untuk peneyelesaian pembayaran korban dari Tahun 2024 hingga 2026 saat ini. 
Kami tunggu sampai sudah hampir dua tahun lamanya.

Akhirnya setelah kami bangun komunikasi kepada mereka kelompok Kurima mereka siap bayar denda tersebut.

Pada saat pembayaran Denda adat tersebut pihak ndugura atau keluarga Kurima pada tanggal 1 Mei 2026 di Lapangan Woma, hanya siapkan babi sebanyak 30 ekor. Dan sempat bawa untuk serahkan denda tersebut kepada keluarga korban.

Lalu kami keluarga korban suku Lani an. Mardin Tabuni menolak pembayaran 30 ekor babi tersebut dengan alasan karena dari ndugure kelompok Kurima bebankan untuk pembayaran korban an. Nias Tabuni kepada keluarga korban an. Mardin Tabuni untuk menyelesaikan denda adat.

Setelah kami keluarga korban an. Mardin Tabuni menolak kami meminta untuk menambahkan denda berupa uang karena alasan Babi yang disiapkan kecil semua, butuh dana untuk kasih pulang keluarga yang datang dari berbagai kota, dan pihak korban dari Mardin Tabuni juga harus bayar denda ke korban suku Lani an. Nias Tabuni.

Setelah meminta penambahan denda tersebut keluarga korban tunggu selama 6 hari tanpa kabar dari kelompok Kurima, sampe pada hari ke tujuh ada surat panggilan dari Polres Jayawijaya untuk penyelesaian denda tersebut namun setelah sampe dikantor Polisi keluarga Ndugure atau kelompok kurima tetap bertahan untuk bayar 30 ekor babi dan keluarga korban Suku Lani menolak menerima setelah pembicaraan yang cukup lama hampir sehari penuh kamudian keluarga korban minta kepada ndugure kelompok Kurima untuk tembah denda uang dengan alasan yang sama yaitu ndugure bebankan keluarga korban untuk bayar korban yang lain dari kami Suku Lani.

 *KRONOLOGI KEJADIAN KORBAN HANYUT DI KALI UWE* 

Setelah urusan di kantor polisi keluarga korban pulang ke honai di Pulau setelah sampe disana waktu sore keluarga Lani mereka hendak buang suara ke keluarga Ndugure Kurima dan di honai Kampung Logonoba Woma atas dengan menyeberang Jembatan gantung di kali Uwe untuk mengingatkan soal denda adat tersebut namun sesampai di honai Ndugure Kurima ternyata mereka sudah siap melakukan penyerangan kepada kami keluarga korban dari Lani, Waktu sore itu juga keluarga Ndugure Kurima lakukan serangan kepada kami kelompok Lani. 

Kelompok Lani yang tidak siap dengan alat perang dan lain-lain akhirnya dipukul mundur hingga dijembatan gantung kali Uwe saat itu beberapa dari kelompok kami Suku Lani sudah menyeberang diseberang kali honai kelompok Lani di Pulau pada saat itu juga waktu sudah menuju pukul 18 malam dan kelompok kami sekitar 34 orang sebagian dipanah dan dibuang ke kali Uwe dan sebagian orang jatuh dari atas jembatan karena jembatan tersebut roboh dari beban masa kelompok suku Lani dan karena arusnya yang deras sehingga kelompok kami yg diatas jembatan tidak terselamatkan hingga dinyatakan hanyut semua pada saat itu dan sebagian dari kami yang lain belum menyebrang jembatan diselamatkan dari keluarga Lani yang ada di Woma atas hingga dijemput pada jam 12 malam oleh Keamanan (Brimob).

Dan dalam kejadian perang tersebut pihak kami suku Lani mengalami luka-luka sebanyak 26 orang.

Setelah musibah atau kejadian hanyutnya keluarga korban Lani sekitar 34 orang tersebut keluarga Lani menginformasikan kepada seluruh keluarga korban untuk lakukan pencarian pada hari berikutnya sehingga terkumpulah seluruh keluarga korban dari suku Lani untuk melakukan pencarian jenazah dari 34 orang tersebut dan pencarian tersebut melibatkan seluruh keluarga korban, Basarnas dan TNI/Polri dari tgl 7 sampe tanggal 14 Mei 2026.

 *KENAPA MASYARAKAT LANI LAKUKAN PENYERANGAN KEPADA KELOMPOK KURIMA* 

Sejak keluarga korban lakukan pencarian sejak hari pertama hinga tanggal 14 Mei 2026 masyarakat Kurima secara sadar tidak berikan ruang kepada keluarga Lani untuk mencari jenazah korban di kali tersebut dengan cara menyanyi, wisisi, membatasi wilayah pencarian, memberikan ancaman dan memancing keluarga Lani yang sedang lakukan pencarian tersebut bahkan pada tanggal 14 Mei 2026 waktu sore pihak Pelaku kelompok Kurima lakukan penyerangan terhadap kami keluarga korban dari Lani di Daerah Tolikara Misi. Penyerangan tersebut dihentikan karena waktu sudah gelap atau malam namun karena keluarga korban kelompok Lani sudah menahan lama ancaman dari kelompok Kurima selama pencarian korban hanyut akhirnya keluarga korban Lani lakukan penyerangan pada tanggal 15 Mei 2026 di Kampung Logonoba Woma atas dari pagi hingga sore.

Kemudian setelah penyerangan itu akhirnya pencarian mayat tersebut tidak dilanjutkan oleh keluarga korban suku Lani tapi dilakukan pencarian oleh Basarnas dan TNI/Polri hingga saat ini masih dalam berlanjut.

Dengan demikian jika ada opini yang berkembang dikalangan masyarakat luas saat ini bahwa ulah dari konflik atau perang besar yang terjadi ini adalah suku Lani maka opini yang berkembang tersebut tidak mendasar atau pembohongan publik yang dilakukan untuk menyudutkan suku Lani.

 *Dan sekali lagi kami tekankan bahwa kami suku Lani bukan pelaku tapi korban dari Perang antara Kurima dan Asso Lokobal.* 

Sekian untuk diketahui bersama wa...wa ..wa...wa...wa... !

_Wamena Pulau, 19 Mei 2026_

Ndugure, Suku Lani 
 *Rugi Tabuni*
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • PENYEBAB DAN KRONOLOGI PERANG SUKU KURIMA DAN LANI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trending Now