Ironi di Balik Bencana Kayu Bernilai Tinggi Diangkut ke Tolkit, Rakyat Hanya Sisakan Ranting dan Lumpur

April 04, 2026 | April 04, 2026 WIB Last Updated 2026-04-04T09:05:31Z
Tapanuli Tengah,detiksatu com || Aroma tidak elok menyeruak di tengah duka masyarakat Hajoran, Tapanuli Tengah. Bukan aroma lumpur sisa banjir, melainkan dugaan praktik "main mata" antara oknum tertentu dengan kekuasaan dalam pengelolaan material kayu sisa bencana. Di saat rakyat meratap melihat rumah mereka yang hancur, ratusan kubik kayu berkualitas tinggi justru dilaporkan dikuasai secara sepihak dan diangkut menjauh dari lokasi bencana.

Kayu Bagus Diangkut, Sampah Dibiarkan

Berdasarkan investigasi dan pantauan langsung di depan Pantai Bosur, Jumat 4 April 2026 terlihat aktivitas pembersihan yang jauh dari kata adil. Truk-truk besar tampak hilir mudik mengangkut batangan kayu gelondongan yang masih utuh dan bernilai ekonomis tinggi. Anehnya, kayu-kayu "berkelas" ini diarahkan menuju kawasan Tolkit, bukan untuk kepentingan rehabilitasi rumah warga.

Kontras dengan pemandangan tersebut, sisa-sisa dahan patah, ranting kering, dan tumpukan sampah pokok yang tidak laku dijual justru dibiarkan menumpuk begitu saja di lokasi banjir. Hal ini tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga menjadi simbol ketidakadilan yang nyata di depan mata masyarakat.

Sorotan Tajam ke Pendopo Bupati: Siapa Sang "Wartawan Istimewa"?

Isu yang berkembang di lapangan kian memanas. Muncul tudingan bahwa penguasaan kayu-kayu tersebut dilakukan oleh seorang oknum wartawan yang merasa "paling dekat" dengan Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu. Kedekatan ini diduga menjadi tiket emas bagi oknum tersebut untuk mengomersialkan material sisa bencana tanpa prosedur yang transparan.

Seorang warga Hajoran yang rumahnya rusak parah meluapkan kekecewaannya kepada tim media. "Kami di sini butuh kayu untuk memperbaiki atap dan dinding yang jebol. Tapi kenapa kayu-kayu yang bagus itu malah diangkut entah ke mana? Katanya itu punya wartawan yang dekat sama Pak Bupati. Kalau benar begitu, di mana hati nurani pemerintah?" ujarnya dengan nada gemetar.

Ujian Integritas Masinton Pasaribu

Kasus ini kini menjadi ujian berat bagi integritas kepemimpinan Masinton Pasaribu. Publik kini menunggu, apakah Bupati akan tetap diam dan membiarkan "orang dekatnya" berpesta di atas penderitaan rakyat, atau bertindak tegas mencopot kepentingan pribadi dari urusan kemanusiaan.

Jangan biarkan kayu-kayu itu menjadi simbol ketidakadilan yang abadi. Pak Bupati, rakyat Hajoran sedang menonton!
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ironi di Balik Bencana Kayu Bernilai Tinggi Diangkut ke Tolkit, Rakyat Hanya Sisakan Ranting dan Lumpur

Trending Now