Sulsel detiksatu.com || Rentetan kasus pengeroyokan dan kekerasan yang melibatkan remaja kembali mencoreng wajah pendidikan dan ketertiban di Kabupaten Luwu Utara. Alih-alih menunjukkan rasa penyesalan atau perilaku "tobat" setelah melakukan aksi brutal, sebagian pelaku justru menunjukkan sikap yang dianggap menantang dan "banyak tingkah" di hadapan publik maupun media sosial.
Sikap para pelaku ini memicu kemarahan netizen dan masyarakat setempat yang merasa bahwa aksi kekerasan seolah-olah menjadi ajang pembuktian eksistensi diri yang menyimpang.
Aksi Brutal yang Terus Berulang
Belum hilang ingatan publik atas kasus penganiayaan brutal terhadap seorang satpam sekolah di Baebunta Selatan oleh siswanya sendiri, kini jagat maya kembali dihebohkan dengan video viral pengeroyokan seorang siswi SMP di tengah perkebunan kelapa sawit di Desa Uraso, Kecamatan Mappedeceng. Ironisnya, motif dari aksi-aksi ini sering kali sepele, mulai dari masalah iuran hingga dugaan penghinaan orang tua.
Tantangan bagi Pihak Kepolisian
Meski pihak Polres Luwu Utara telah bergerak cepat mengamankan para terduga pelaku di beberapa lokasi, masyarakat mendesak adanya efek jera yang lebih nyata. Banyak pihak menilai jika para pelaku yang masih di bawah umur ini tidak diberikan pembinaan atau hukuman yang tegas sesuai undang-undang, mereka akan semakin merasa "di atas angin".
Pesan untuk Masyarakat
"Jangan biarkan kekerasan menjadi budaya. Jika pelaku pengeroyokan justru makin banyak tingkah setelah berbuat kriminal, itu tandanya ada yang salah dengan moralitas mereka," ujar salah satu komentar warga di media sosial yang viral.
Kini, bola panas ada di tangan aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk memastikan bahwa setiap aksi pengeroyokan di Luwu Utara ditindak tanpa pandang bulu, guna menjaga stabilitas dan rasa aman warga.