Solusi Hadapi Keadaan: Jaga Kesehatan, Tingkatkan Ibadah, Bantu Sesama

Redaksi
April 05, 2026 | April 05, 2026 WIB Last Updated 2026-04-05T14:26:36Z
Oleh: Agusto Sulistio

Dari pengamatan penulis, kita kerap terlibat dalam soal percakapan publik, mulai konflik Iran, Israel, Amerika Serikat, serta hiruk-pikuk politik, isu korupsi dan hukum dalam negeri. 

Obrolan pun tak sadar melambung jauh ke awang-awang, bahkan kadang tulisan yang dituangkan di media sosial pun serasa paling tepat, hebat dan bahkan isinya melebihi pakar yang lebih paham dan teruji. 

Namun dibalik itu semua ada kelalaian dalam diri yaitu soal kesehatan dan lingkungan kita. Kesehatan kita dan lingkungan tempat kita hidup sedang beraksi terhadap kita sebagai penguasa ruang tempat tinggal.

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh kabar duka, tiga dokter muda meninggal dalam waktu berdekatan di lokasi yang berbeda. Salah satunya akibat Campak, penyakit yang begitu akrab sejak masa kecil. Penyakit yang selama ini dianggap “ringan” justru merenggut nyawa, bahkan dari mereka yang memahami ilmu kesehatan.

Peristiwa itu menjadi kritik keras pada diri sendiri, bahwa kita selama ini yang tumbuh dengan pengetahuan tentang penyakit campak, cacar, atau bahkan Demam Berdarah adalah penyakit “biasa”. Penyakit yang jadi bagian dari siklus hidup masyarakat kita. Tapi nyatanya, penyakit yang kita anggap biasa, malah kini jadi hal yang sering tidak awasi dan waspadai.

Kasus-kasus yang dahulu identik dengan anak-anak mulai muncul pada usia dewasa. Bahkan pada kalangan profesional, terdidik, dan secara ekonomi relatif mapan. Ini dapat diartikan bahwa masalahnya bukan pada jenis penyakitnya, tetapi pada melemahnya kewaspadaan kita.

Apakah Kita Abai? Kalau kita lihat dan perhatikan lingkungan disekitar kita, terdapat banyak kawasan permukiman dengan sanitasi buruk, genangan air, sirkulasi udara yang tidak sehat. Dari info kesehatan resmi dan terpercaya, bahwa kondisi seperti ini adalah “rumah ideal” bagi virus dan jenis penyakit. Kita hidup bersama penyakit ini setiap hari, tetapi sering kali tidak lagi merasa itu sebagai ancaman. Kita sok jago dalam soal keamanan kesehatan, serasa paling kebal penyakit. Come on please bro... stop the perilaku kita yang sok paling kebal?

Kita pun kadang suka anggap remeh soal imunisasi, pola hidup bersih, hingga pemeriksaan kesehatan rutin masih belum menjadi prioritas utama. Banyak orang lebih cepat mengikuti perkembangan isu politik, penampilan, dari pada mengecek kesehatannya sendiri. Padahal ada cara ngecek tubuh kita lagi normal atau waspada, cukup dengan cara tau diri dan tau batas, kapan kita makan, kapan kita istirahat, kapan kita olah raga, dan rutih bersihin badan, kamar, rumah kita.

Lucunya, kita cenderung reaksi soal ancaman senjata nuklir, rudal balistik, tekhnologi, politik, hukum, ngomong besar seolah yang paling paham sendiri, tapi justru lupa soal ancaman dalam diri sendiri dan lingkungan kita.

Padahal dalam ilmu epidemiologi, ancaman terbesar datangnya bukan dari hal yang baru, tapi dari yang dianggap sudah biasa dan tidak berbahaya.

Fenomena orang dewasa terserang campak, cacar, demam berdarah bukan sekedar anomali medis. Ini soal adanya celah dalam cara kita melindungi kesehatan diri sendiri, maupun kolektif.

Menurut sumber kesehatan dunia, dalam banyak kejadian bahwa penyakit ini sangat berkaitan dengan adanya penurunan kekebalan tubuh kita, juga soal riwayat imunisasi yang tidak lengkap, tingginya paparan akibat lingkungan yang tidak sehat

Artinya, penyakit itu tidak datang dari luar, tapi tumbuh dari sekitar kita. Secara perlahan, ia menemukan jalannya untuk masuk ke dalam tubuh kita.

Kita boleh berbicara tentang geopolitik, kekuasaan, dan masa depan bangsa. Kita boleh memperdebatkan arah negara. Tapi jangan lupa, diri kita ini punya keterbatasan, saya (penulis) sadari kelalaian fatal ini.

Mari bersama kita sadari, dan anggap saja sakit itu datang pada kita saat ini, maka apa semua yang kita lakukan dan miliki jadi nggak ada manfaatnya lagi. 

Saat tubuh melemah, ambisi sebesar apa pun tak ada maknanya. Bahkan ketika kematian tiba, semua yang kita banggakan, upaya yang dilakukan, kehormatan, harat yang kita miliki tak ada manfaatnya lagi, semua berhenti sebab kita sudah ada dalam dunia yang berbeda.

Ironisnya, banyak dari penyakit itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa dicegah. Kehadiran penyakit itu bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak cukup peduli.

Tulisan ini bukan untuk mengecilkan pentingnya isu politik, ekonomi, hukum, dan global. Tetapi untuk kita sama-sama saling mengingatkan bahwa ada pondasi hidup yang sering dilupakan, bahwa kesehatan adalah prasyarat dari semua hal.

Tanpa kesehatan, produktivitas runtuh, keluarga terguncang, dan masa depan berhenti.

Maka, mungkin sudah waktunya kita menata ulang cara hidup kita. Bukan berarti berhenti peduli pada dunia luar, tetapi mulai memberi perhatian yang sama besar pada dunia di dalam diri kita masing-masing. 

Lingkungan tempat kita tinggal, kebersihan yang harus kita jaga, serta tubuh yang kita rawat.

*Penutup*

Tiga dokter telah pergi, bukan karena penyakit baru yang misterius, tetapi karena penyakit lama yang sudah kita kenal, dan mungkin kita abaikan.

Ini adalah peringatan diri kita, bahwa di tengah perbincangan dan tindakan, ada hal yang lebih dekat, lebih nyata, dan lebih menentukan, yaitu soal kesehatan kita sendiri.

"Hari-hari ini tak ada yang lebih penting kecuali kita perhatikan pola hidup kita dengan: Menjaga kesehatan perbanyak doa / ibadah, bantu kawan - Bang HS."

Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu 5 April 2026, 12:36 Wib.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Solusi Hadapi Keadaan: Jaga Kesehatan, Tingkatkan Ibadah, Bantu Sesama

Trending Now