📖 Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
🕊️ “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, serta Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya, lalu meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?”
📚 (QS. Al-Jasiyah: 23)
💭 Ayat ini menjelaskan bahwa ada manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai “tuhan” dalam hidupnya. Maksudnya bukan menyembah hawa nafsu seperti menyembah berhala, melainkan menjadikan keinginan pribadi sebagai sesuatu yang paling diutamakan, paling dicintai, dan paling ditaati, bahkan melebihi aturan Allah.
☝️ Dalam ajaran Tauhid, “tuhan” adalah sesuatu yang paling menentukan arah hidup seseorang. Ketika manusia lebih tunduk kepada hawa nafsu, jabatan, kekuasaan, harta, atau kepentingan dunia dibandingkan kebenaran dan hukum Allah, maka tanpa sadar semua itu telah menjadi “tuhan-tuhan kecil” dalam kehidupannya.
Karena itu kalimat Laa ilaaha illallaah bukan sekadar berarti “tidak ada sesembahan selain Allah,” tetapi juga mengandung makna bahwa tidak boleh ada sesuatu yang lebih dicintai, lebih ditakuti, dan lebih ditaati daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kita dapat melihat contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang mengetahui korupsi adalah perbuatan haram dan merusak, tetapi tetap melakukannya demi mempertahankan kekuasaan dan kekayaan. Ada pula penguasa yang berlaku zalim karena takut kehilangan jabatan.
Pada akhirnya, yang mereka takutkan bukan murka Allah, melainkan hilangnya kepentingan duniawi.
Itulah tanda ketika hawa nafsu mulai menguasai hati manusia.
Begitu pula saat manusia terlalu memuja materi dan kenikmatan dunia. Kehidupan hanya diukur dengan uang, kekayaan, popularitas, dan kekuatan.
Akibatnya nilai kejujuran, keadilan, dan akhlak sering dikorbankan demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَقَا لُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَا تُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَاۤ اِلَّا الدَّهْرُ ۗ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ
“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja; kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Padahal mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga.”
(QS. Al-Jasiyah: 24)
Ayat ini menjelaskan tentang manusia yang menganggap hidup hanya sebatas dunia.
Mereka tidak percaya adanya hari akhir, hisab, surga dan neraka, serta pertanggungjawaban di hadapan Allah. Akibatnya manusia merasa bebas melakukan apa saja karena menganggap setelah mati semuanya selesai.
Dalam sejarah pemikiran dunia, pola pandang seperti ini banyak muncul dalam ideologi materialistis, termasuk komunisme ateis. Secara sederhana, komunisme ateis memandang kehidupan terutama dari sisi materi, ekonomi, dan kekuatan negara atau kelompok.
Agama sering dianggap tidak penting, bahkan dalam beberapa praktek sejarah pernah ditekan karena dinilai menghambat revolusi dan kekuasaan.
Ketika manusia hanya mengejar materi tanpa iman, yang muncul sering kali adalah permusuhan kelas, perebutan kekuasaan, kebencian sosial, dan hilangnya nilai spiritual.
Di sisi lain, kapitalisme liberal yang berlebihan juga dapat menyeret manusia kepada penghambaan terhadap materi. Pada dasarnya Islam tidak melarang manusia bekerja, berdagang, mencari keuntungan, bahkan menjadi kaya.
Namun ketika kapitalisme berkembang tanpa batas moral dan agama, manusia mudah terjerumus pada kerakusan, individualisme, dan pengagungan terhadap uang.
Keuntungan menjadi tujuan utama meskipun harus mengorbankan keadilan sosial dan nilai kemanusiaan.
Sedangkan liberalisme yang kebablasan mengajarkan kebebasan tanpa batas. Semua dianggap boleh atas nama hak pribadi, meskipun bertentangan dengan agama, akhlak, dan fitrah manusia.
Akibatnya manusia lebih mengikuti keinginan dirinya sendiri daripada petunjuk Allah.
Sementara sosialisme-komunisme yang ekstrem cenderung menjadikan negara atau ideologi sebagai pusat kekuasaan tertinggi. Dalam praktek sejarahnya, banyak rezim komunis membatasi kebebasan beragama dan memusuhi keyakinan kepada Tuhan.
Karena itu Islam berada di jalan yang seimbang. Islam tidak melarang manusia mencari harta, memiliki usaha, membangun kekuatan ekonomi, maupun memperjuangkan keadilan sosial.
Islam juga tidak mematikan akal dan kebebasan berpikir. Namun semuanya harus berada dalam batas iman, akhlak, dan tanggung jawab kepada Allah.
Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tujuan akhir.
Harta hanyalah amanah,
jabatan hanyalah titipan,
dan kekuasaan hanyalah ujian.
Ketika manusia melupakan hal itu, hawa nafsu perlahan akan mengambil alih hati dan menjerumuskan manusia kepada kesesatan.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu, harta, jabatan, maupun ideologi yang menjauhkan manusia dari Tauhid dan petunjuk-Nya.*
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin
Salam Ta’ziem dan Jihad.*
BES — Brother Eggi Sudjana


Tidak ada komentar:
Posting Komentar