Jakarta, detiksatu.com || Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong seluruh museum di Indonesia untuk melakukan transformasi digital terhadap koleksi mereka, sekaligus memperkuat aspek penceritaan (storytelling) agar lebih mampu menarik minat generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), dalam mengenal dan memahami budaya bangsa.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat melakukan kunjungan kerja ke Museum Radya Pustaka, salah satu museum tertua di Indonesia, yang berlokasi di Surakarta, sebagaimana dari siaran pers yang diterima di Jakarta, (27/3/2026).
Menurut Fadli, penguatan narasi dan pemanfaatan teknologi digital menjadi kunci penting dalam menjadikan museum sebagai ruang yang lebih hidup, interaktif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ia menilai, generasi muda saat ini membutuhkan pendekatan baru yang lebih kreatif agar tertarik untuk mengunjungi museum.
“Penguatan penceritaan dan sentuhan digital menjadi hal yang penting agar museum bisa lebih dekat dengan generasi muda, terutama Gen Z,” ujar Fadli Zon.
Museum Radya Pustaka sendiri dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Jawa yang memiliki koleksi sangat kaya dan beragam. Di dalamnya tersimpan berbagai manuskrip kuno, artefak budaya, serta benda bersejarah seperti wayang, keris, gamelan, hingga arca peninggalan Hindu-Buddha. Koleksi tersebut mencerminkan perjalanan panjang peradaban di Pulau Jawa.
Fadli menekankan bahwa keberadaan koleksi bernilai tinggi tersebut harus diimbangi dengan tata pamer yang menarik dan alur cerita yang kuat.
Tanpa inovasi dalam penyajian, museum berpotensi kehilangan daya tarik, terutama di kalangan generasi muda yang terbiasa dengan teknologi digital dan konten visual yang dinamis.
“Penguatan tata pamer, alur cerita, serta adaptasi digital merupakan komponen penting pada era ini agar museum tetap dapat menjadi sarana edukasi yang menarik serta relevan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa digitalisasi tidak hanya sebatas memindahkan koleksi ke dalam format digital, tetapi juga mencakup pengembangan pengalaman pengunjung melalui teknologi seperti tur virtual, augmented reality (AR), hingga penyajian konten interaktif berbasis multimedia.
Dengan pendekatan tersebut, museum diharapkan mampu menghadirkan pengalaman baru yang tidak hanya informatif, tetapi juga imersif, sehingga pengunjung dapat merasakan keterlibatan emosional dengan sejarah dan budaya yang ditampilkan.
Fadli juga menyoroti pentingnya peran museum sebagai ruang pembelajaran yang tidak terbatas pada masa lalu. Ia menegaskan bahwa museum harus mampu menjadi jembatan antara sejarah, kondisi masa kini, serta arah masa depan bangsa.
“Museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan masa lalu, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran untuk memahami masa kini dan membangun masa depan,” tegasnya.
Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan terus mendorong pengembangan museum sebagai etalase budaya dan peradaban bangsa. Upaya ini dinilai penting untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap identitas nasional serta memperkuat rasa kebangsaan.
Selain itu, inovasi di sektor permuseuman juga diharapkan dapat meningkatkan minat kunjungan masyarakat, sekaligus menjadikan museum sebagai destinasi edukasi yang kompetitif di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif dan digital.
Sebagai salah satu museum bersejarah, Museum Radya Pustaka dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dalam transformasi tersebut. Dengan koleksi yang lengkap dan nilai historis yang tinggi, museum ini diharapkan mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan esensi pelestarian budaya.
Fadli pun mengajak seluruh pengelola museum di Indonesia untuk terus berinovasi dan berkolaborasi, baik dengan pelaku industri kreatif, akademisi, maupun komunitas, guna menciptakan ekosistem permuseuman yang lebih dinamis dan berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah tersebut, museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga ruang inspirasi yang mampu menghidupkan kembali sejarah dalam cara yang lebih dekat dan bermakna bagi generasi masa kini.
Red-Ervinna